Vaksin, Intervensi Kesehatan Terbaik Rekomendasi WHO fadjar November 13, 2009

Vaksin, Intervensi Kesehatan Terbaik Rekomendasi WHO

Seperti negara yang memerlukan tentara untuk menahan serangan musuh, so pasti tubuh kita juga butuh “tentara” untuk melindungi diri dari penyakit. “Tentara” itulah dikenal dengan sebutan antibodi yang bisa diperoleh dari vaksin. Menyadari hal ini pada 9 November lalu, FF Ubaya menggelar kuliah tamu mengupas tuntas seputar vaksin dengan pembicara Indrawati Taurus dari Glaxo Smith Kline (GSK) Jakarta. Kuliah selama dua jam di SGFG ini membahas value of vaccines, immunology and vaccinology, sampai perkembangan vaksin terbaru.

Indrawati yang menjabat sebagai Business Unit Director itu mengawali presentasinya dengan mengemukakan bahwa vaksin mendapat pengakuan dari World Health Organization (WHO) sebagai faktor utama pencegah penyakit. Fakta berbicara, vaksin sukses mencegah tiga juta kematian, menyelamatkan 750.000 anak-anak dari kecacatan, sampai menyelamatkan 400 juta nyawa tiap tahunnya.

Setelah mendapatkan penjelasan tentang kegunaan vaksin, peserta diajak mengenal konsep immunity (sistem imun). Ia menjelaskan sistem imun manusia terdiri dari dua, yaitu alami dan buatan. “Alami sendiri dibagi lagi menjadi dua, yakni aktif yang baru terbentuk setelah terjadi infeksi (misal vaksin cacar) dan pasif yang didapatkan secara alami dari transfer antibodi ibu ke anak melalui plasenta,” urai ibu dua anak ini.
Senada dengan yang alami, sistem imun buatan juga dibagi menjadi dua, yaitu aktif dengan vaksinasi antigen (penyebab penyakit) yang telah dilemahkan. “Adapula dengan cara injeksi antibodi melalui imunisasi,” tambah wanita berambut panjang ini. Dewasa ini vaksin buatan lebih berkembang karena cenderung aman, efektif, dan mepunyai sifat long-term protection.

Perkembangan vaksin melesat bak roket, ada 41 macam vaksin untuk 26 jenis penyakit. “Perkembangan vaksin sangat pesat 32% tiap tahunnya dibanding perkembangan obat sintetik,” ungkapnya. Penemuan terbaru dan terus di-follow up adalah vaksin HIV dan kanker serviks. Tak kalah heboh, penelitian ter-update sedang mengembangkan therapeutic vaccine, yaitu vaksin yang digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan kanker. Seiring perkembangan zaman, produksi tidak lagi monoton. Dahulu vaksin dibuat dengan mengisolasi bakteri penyebab penyakit tetapi sekarang berkembang menjadi metode DNA recombinant. Meskipun rumut hasilnya bisa lebih cepat dan banyak. “Prosesnya diawali dengan isolasi sebagian komponen antigen, kemudian ditanam di sel ragi sehingga terjadi perkembangbiakan. Setelah itu, dilanjutkan dengan proses ekstraksi serta purifikasi, dan akhinya menghasilkan jutaan dosis vaksin,” beber Indrawati panjang lebar.

Sebelum menutup perjumpaan, mantan karyawan Kalbe Pharma ini mengutarakan tantangan dalam perkembangan vaksin. “Produksi vaksin itu seperti menjual asuransi. Efeknya tidak nampak secara langsung harus melalui proses yang kompleks. Namun, berdampak luar biasa,” ujarnya.

Tak lengkap tanpa sesi tanya jawab. Peserta antusias bertanya dari A-Z seputar vaksin. Bahkan, Lisa Aditama Apoteker Ubaya tak ketinggalan ambil bagian. “Informasi yang didapatkan sangat berguna dan semoga bisa diadakan lagi supaya kita terus mengetahui info terbaru tentang vaksin,” cuap Diah Lestari, peserta asal FF. (re4/wu)