Diharapkan Jadi Pusat Informasi Arkeologi Dan Budaya, Ubaya Resmikan Museum Pawitra Di Mojokerto


  • 21-06-2022
  • samueldim
Mojokerto – Universitas Surabaya (Ubaya) meresmikan Museum Pawitra di Ubaya Penanggungan Center, Ubaya Integrated Outdoor Campus (IOC), Dusun Grenjeng, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Museum ini menampilkan ratusan situs yang ditemukan di puncak Gunung Penanggungan.
 
Sebelumnya, Museum Pawitra merupakan galeri foto dan akhirnya direnovasi menjadi museum agar lebih hidup. Ruang depan Museum Pawitra terbagi menjadi empat bagian. Sisi utara memperlihatkan penemuan artefak bukti kehidupan yang pernah terjadi di kaki Gunung Penanggungan.
 
Visualisasi hikayat Gunung Pawitra yang berdasar pada naskah Tantu Panggelaran tahun 1635 M dapat di lihat di sisi selatan museum. Di sisi barat, tambah Prof Joni, menampilkan miniatur candi serta relief arca dan peninggalan-peninggalan lainnya yang ditemukan di atas gunung.
 
Bagian dalam museum menampilkan foto-foto situs penting yang didokumentasikan Tim Ekspedisi Ubaya di atas Gunung Penanggungan. Nama Pawitra diambil dari nama lain Gunung Penanggungan. Museum Pawitra difungsikan sebagai pusat informasi arkeologi dan budaya yang ada di Gunung Penanggungan mulai abad 10-16 masehi.
 
Direktur IOC Ubaya Trawas, Prof. Ir Joniarto Parung M.M.B.A.T, Ph.D mengatakan, Museum Pawitra menjadi sarana bagi pelajar, mahasiswa, dan dosen peneliti yang ingin melakukan eksplorasi sejarah dan wisata. “Ubaya mendapat dana hibah matching fund dari Kemendikbudristek pada tahun 2021 dan Museum Pawitra mulai dibangun selama empat bulan,” ungkapnya, Sabtu (4/6/2022).
 
Museum Pawitra, lanjut Prof Joni, berbeda dengan museum pada umumnya karena Ubaya ingin mewujudkan harapan dan keinginan generasi muda, generasi Z. Ubaya menyiapkan pemahaman tentang sejarah khususnya yang ada di Gunung Penanggungan melalui penggunaan teknologi.
 
“Sehingga saat pengunjung masuk ke dalam, bisa download aplikasi, bisa melihat penjelasan sebuah situs dan tidak membayangkan bagaimana bentuk situs itu zaman dulu. Kira-kira situs ini seperti apa pada zaman, lalu ada penjelasannya tahun berapa ditemukan dan kira-kira digunakan untuk apa?,” jelasnya.
 
Ubaya ingin menjadikan Museum Pawitra tersebut sebagai sumber inspirasi, belajar, serta motivasi untuk cinta budaya bangsa. Museum Pawitra mempunyai keunikan karena pengunjung tidak hanya mendapat informasi sejarah, namun juga dapat menghayati nilai baik leluhur lewat refleksi kehidupan yang ada di sisi timur museum.
 
“Museum Pawitra terbuka untuk umum. Museum ini juga menawarkan paket-paket pendidikan karakter cinta budaya. Khususnya berkaitan dengan sejarah Gunung Penanggungan, ke sekolah-sekolah. Museum Pawitra diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin melestarikan kearifan lokal lewat budaya yang diwariskan leluhur,” urainya.
 
Harapannya, Museum Pawitra bisa menjadi tempat pelajar dan pendidik untuk belajar tentang keberagaman yang pernah terjadi pada era Kerajaan Majapahit di Gunung Penanggungan. Ke depan, Ubaya ingin mengembangkan Museum Pawitra agar masyarakat banyak terlibat dalam pembuatan souvenir.
 
Rektor Ubaya, Dr. Ir. Benny Lianto M.M.B.A.T menambahkan, peresmian Museum Pawitra sekaligus memperkuat komitmen Ubaya untuk meningkatkan penghargaan dan kepedulian masyarakat khususnya generasi muda terhadap budaya. Yakni bagaimana masyarakat dan generasi muda mau belajar dan melestarikan budaya.
 
“Karena kita melihat bahwa kita sadar sekarang masyarakat, khususnya generasi muda kepedulian terhadap budaya itu cenderung menurun. Mereka butuh informasi, lantas museum hadir tapi museum harus bisa disesuaikan diadaptasikan dengan generasi muda. Oleh karena ini, museum Ubaya kali ini agak berbeda,” tambahnya.
 
Karena Museum Pawitra menggunakan teknologi VR sehingga masyarakat maupun generasi muda bisa belajar budaya dengan lebih baik dan lebih lengkap. Sehingga diharapkan muncul kecintaan, muncul kebanggaan terhadap budaya. Jika generasi mudanya cinta budaya maka bangsa Indonesia makin besar.
 
“Hanya sebuah bangsa yang menghargai budaya yang bisa menjadi bangsa yang besar. Ini adalah komitmen, upaya mengambil peran di situ. Kerja sama dengan Pemkab Mojokerto, saya kita sudah sangat luar biasa dan meliputi berbagai aspek. Khusus untuk pengembangan museum dan budaya ini, saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh ibu Bupati tadi,” paparnya.
 
Tidak hanya bicara tentang aspek budaya dan pariwisata tapi juga aspek pendidikan, ekonomi dan UKM. Dengan belajar dari banyak contoh karya jaman Majapahit, diharapkan pengrajin bisa menjadikan inspirasi dan melahirkan produk-produk baru yang bisa menjadi souvenir khas dari Kabupaten Mojokerto sehingga bisa membangkitkan ekonomi.
 
“Saya kira kita siap mendukung karena Pemkab Mojokerto dibawah kepemimpinan Ibu Bupati sangat mendukung apa yang dilakukan Ubaya dan kita akan terus berkolaborasi untuk kemajuan bersama,” pungkasnya.
 
Sementara itu, Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengapresiasi Museum Pawitra yang diresmikan Ubaya tersebut. “Luar biasa. Di sini kita bisa mendapatkan informasi terkait peninggalan leluhur kita jaman Majapahit dan juga sebelumnya. Terutama yang berhubungan dengan adanya Gunung Penanggungan yang penuh berbagai peninggalan sejarah,” ujarnya.
 
Sehingga Museum Pawitra tidak hanya menjadi pusat informasi tapi juga diharapkan menjadi pusat kreativitas, inovasi, munculnya ide-ide bagi para pekerja seni di Kabupaten Mojokerto. Sehingga diharapkan bisa membangkitkan kembali peninggalan-peninggalan sejarah ini dalam bentuk hasil karya yang bisa dipakai untuk meningkatkan derajat ekonomi.
 
“Dan tentu saja bisa dinikmati oleh masyarakat di sekitar Kabupaten Mojokerto. Kita bersyukur sudah ada MOU antara Pemerintah Kabupaten Mojokerto dengan Universitas Surabaya sehingga menjadi dasar untuk bisa melakukan berbagai bentuk kerjasama. Sehingga saya datang bersama Disbuparopar, nantinya juga ada Dinas Pendidikan, Disperindag serta Dinas Koperasi dan UMKM,” urainya. [tin/kun]
 
Sumber: beritajatim.com