Buktikan Ubaya Berkompeten Dalam Olimpiade Farmasi Klinik


  • 07-11-2016
  • Fadjar Efendy Rasjid

Olimpiade Farmasi Klinik Indonesia (OFKI) adalah kompetisi yang diadakan oleh  Fakultas Farmasi Unpad dan Udayanabagi mahasiswa farmasi Indonesia untuk menguji kemampuan dan pengetahuannya dalam dunia farmasi klinik. Dalam acara yang dilaksanakan di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Bali ini, Ubaya berhasil memperoleh 1 emas kategori poster dan 3 perunggukategori PCPCR,PCE, SMT. Ubaya mengirimkan satu tim beranggotakan tiga orang, yaitu Novilia Nyoto (Farmasi 2013), Henry Wijaya (Farmasi 2014), dan Jonathan Limantoro (Farmasi 2015). OFKI yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 2016 memiliki tujuh cabang lomba yaitu karya tulis ilmiah, debat, cerdas cermat, poster ilmiah, Self Medication Tournament (SMT), Patient Counseling Event (PCE), Pharmaceutical Care Plan and Case Report (PCPCR).

Dalam babak penyisihan Novilia Nyoto, Henry Wijaya, dan Jonathan Limantoro bekerja bersama untuk masuk ke babak final. Akan tetapi, ada beberapa cabang lomba yang hanya bisa diikuti oleh satu orang sampai di babak final. Cabang lomba itu adalah poster ilmiah, SMT,PCE, dan PCPCR. “Jadi seperti saat lomba poster, dari jauh-jauh hari kita sudah siapkan isinya bersama-sama, akan tetapi yang maju untuk final adalah Jonathan,” jelas Novilia Nyoto.

Dalam poster ilmiah, mereka membuat sebuah poster untuk mengedukasi publik. Tema OKFI kali iniadalah penyakit degeneratif, akhirnya dibuat poster mengenai osteoporosis. Poster tersebut berisi gambar dan penjelasan tentang osteoporosis yang mudah dipahami orang awam. Menurut Jonathan Limantoro, mereka sengaja tidak menggunakan bahasa ilmiah karena tujuannya untuk publik. Tidak semua orang memahami bahasa kedokteran. Hasil karya mereka dalam poster ilmiah ini mendapatkan juara pertama.

Selain poster, Ubaya juga mendapatkan juara ketiga dalam PCE dan SMT atas nama Novilia Nyoto. Kedua lomba ini memiliki kemiripan yaitu memberikan rekomendasi obat dan terapi untuk pasien. Perbedaannya adalah pada SMT, pasien datang tanpa resep dokter. Jadi peserta harus mengidentifikasikan sakit yang diderita oleh pasien dan merekomendasikan obat. Sedangkan pada PCE, pasien datang membawa resep dokter untuk diidentifikasi oleh peserta. Pada babak penyisihan peserta harus menjawab studi kasus, sedangkan di babak final melakukan roleplaying.

“Yang sulit pada saat final, karena kasus penyakit yang diberikan lebih sulit daripada saat penyisihan. Misalnya pada SMT, di final diberikan kasus orang yang sakit batuk karena efek samping obat. Sedangkan saat PCE diberikan resep dokter asli yang benar-benar susah untuk dibaca,” jelas Novilia Nyoto.

Tak hanya ketiga lomba tersebut, Ubaya juga memenangkan juara tiga di PCPCR. Dalam PCPCR, pasien sakit cukup parah dan masuk rumah sakit. Pada babak penyisihan, peserta diberi kasus pasien sakit jantung, sedangkan di final pasien menderita penyakit diabetes, hipertensi,dan dislepidemia. Pada babak final, Novilia Nyoto melakukan presentasi dengan menggunakan flowchart berisi rekomendasi terapi untuk menyembuhkan kasus.

Ubaya patut berbangga hati, selain mendapatkan 4 medali, Tim dari Ubaya berhasil lolos dari babak penyisihan untuk seluruh cabang lomba. Untuk mencapai hal ini tentu saja tidak mudah, dibutuhkan persiapan dan juga belajar yang keras. Mereka dibimbing oleh Lidya Karina, S.Farm., M.Farm., Apt. dan Eko Setiawan, S.Farm., M.Sc., Apt..

“Kami berharap agar kemenangan yang bisa kami raih ini menjadi penyemangat untuk teman-teman lainnya. Tidak perlu minder untuk ikut lomba. Kita juga bisa menang lomba asal mau berusaha,” jelas Henry Wijaya. (tea)

Update: 07-11-2016 | Dibaca 8789 kali | Download versi pdf: Buktikan-Ubaya-Berkompeten-Dalam-Olimpiade-Farmasi-Klinik.pdf