Setelah Vaksin, Bagaimana Kita Harus Menghadapi Covid-19?


  • 23-09-2021

Foto: dr Christian (kanan) saat melayani Vaksinasi Drive Thru Ubaya.

Pemerintah Indonesia telah menggaungkan vaksinasi sejak awal tahun ini. Kini, setelah 6 bulan berlalu, tepatnya di bulan Juli sebagian besar karyawan Ubaya telah divaksin. Sudah saatnya kita pun sudah saatnya bertanya-tanya, apa yang harus dihadapi setelah vaksin? Penyesuaian apa saja sih yang harusnya kita lakukan? Atau apa pantangan-pantangan yang masih kita harus lakukan? Untuk menjawab ini Keluwih berkesempatan mewawancarai dr. Christian Hanjokar, selaku salah satu dokter yang bertugas di Ubaya Medical Center.

 

Q: Setelah vaksin sih katanya kita bisa jadi lebih tenang/lebih aman ya dok, memangnya kenapa dok?

Intinya vaksinasi covid itu sebagai perlengkapan senjata untuk daya tahan tubuh kita. Memang tidak 100% artinya kita kebal tetapi tujuannya itu supaya tubuh kita semakin kenal dengan virus covid. Nah kalau tubuh sudah kenal setidaknya kalau nanti saat virus covid masuk ke tubuh kita memang kita masih positif tetapi tujuannya adalah supaya tubuh lebih siap, sehingga gejala yang ditimbulkan tidak hebat. Itu tujuan utamanya, meminimalisir gejala yang berat, sehingga bisa sedikit lebih tenang.

 

Q: Lalu setelah vaksin apakah ada aturan yang bisa dilonggarkan?

Pertanyaan selalu soal ini, pertama pasti terkait protokol kesehatan. Ini yang berkali-kali harus dikumandangkan. Misalnya kita diswab terus hasilnya negatif langsung merasa jumawa jadi prokes menjadi longgar. Vaksin pun juga butuh proses. bukan artian habis disuntik langsung aman, tetap vaksin membutuhkan waktu untuk membentuk antibodi dalam tubuh.

 

Q: Berarti harus tetap berhati-hati ya dok?

Yes. Protokol kesehatan harus tetap ya, jadi masker tetap double, cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun terus menerus, menjaga jarak, membatasi mobilitas. Tetap menjaga daya tahan tubuh, karena antibodi yang dibentuk oleh tubuh setelah dipicu vaksinasi itu tetap membutuhkan kondisi tubuh yang fit supaya dia terbentuknya optimal juga. Minum vitamin, imun booster supaya pembentukan anti body nya lebih cepat terbentuk.

 

Q: Nah kalau misal sudah vaksin, bagaimana dengan interaksi kita dengan keluarga? Apakah boleh ngobrol dengan normal seperti biasa?

Q: Boleh tetapi melihat dulu satu, di rumah itu ada yang bergejala kah? Karena gejala covid seperti batuk, pilek, radang, demam, meriang, nyeri-nyeri sendi nah itu patut diwaspadai, kalau bisa yang sakit itu diisolasikan sendiri dulu sambil menunggu diswab. Saat menunggu, baiknya yang ada di rumah protokol kesehatannya tetap jalan. Tetapi selama tidak bergejalanya it’s okay tidak ada masalah. Tapi kalau kamu ada gejala tetap berhati-hati, karena begitu kamu divaksin belum tentu anti bodi mu langsung terbentuk. Idealnya adalah anti bodi itu terbentuk satu bulan setelah dosis kedua.

 

Q: Kalau sesama karyawan Ubaya dok, kan kita semua sudah divaksin. Kalau lepas masker di kantor apa sudah mulai tidak apa-apa?

Sangat tidak boleh. Pertama di kantor ketemunya haya berapa jam aja hitungannya, setelah itu kan kita tidak tahu ya, kamu pulang temenmu yang satu kantor pulang atau tidak, dikeluarganya ada yang terpapar atau tidak. Intinya kita tidak tahu masing-masing temen kita bagaimana. Jadi ada baiknya kalau di tempat kerja saya hitung sebagai public area, sehingga protokol kesehatannya justru harus sangat diperketat. Tidak boleh sampe longgar seperti lepas-lepas masker, makan bareng satu ruangan, ngobrol bareng lepas masker itu tidak boleh.

 

Q: Lalu bagaimana pendapat dokter kalau ada karyawan yang bilang, “Loh kan saya masih muda, sudah divaksin. Kenapa tidak boleh?”

Prinsipnya satu: covid ini tidak memandang siapapun. Usia dari bayi sampe lanjut usia itu masih bisa kena, sudah banyak ceritanya. Tetapi memang katanya covid ini lebih bersahabat diusia yang lebih muda apalagi dewasa-dewasa muda ya, jadi jarang banget gejalanya walaupun ada sebagian kecil ada yang sampai meninggal, bahkan gejalanya berat yaa. Tetapi yang penting juga pikirkan orang yang disekitar kita yang rentan terhadap covid. Jangan egois.

 

Q: Kalau saya sudah divaksin, apakah saya masih berpotensi menularkan kepada orang lain?

Oo bisaa walaupun sudah divaksin kan tapi kan bisa tetap bergejala. Menurut teori dan pedoman WHO dan CDC 10 hari itu masa hidup virus dalam tubuh, setelah 10 hari dia akan mati dan tidak menularkan. Tetapi di Indonesia karna prokesnya orang Indonesia agak kurang ketat dibikin 10 hari + 3 hari bebas gejala, ya kita genapkan 14 hari pas 2 minggu. Jadi dalam 14 hari itu kalau bisa ya isolasi mandiri dulu, jangan kemana-mana dulu karena itu tetap berpotensi menularkan walaupun sudah divaksinasi 2 dosis lengkap.

 

Q: Selain vaksin, saat pandemi ini lagi ramai pembelian obat terutama antivirus. Bagaimana opini dokter terkait antivirus ini?

Bukan rahasia umum salah satu tatalaksana dalam pengobatan covid pasti akan melibatkan antivirus. Sebagai catatan covid ini termasuk barang yang baru pastinya pengobatan ini masih dalam penelitian. Jadi masih berlanjut dan mengalami perubahan atau pembaruan seperti itu. Untuk saat ini, antivirus masuk dalam modalitas pengobatan covid dari yang tanpa gejala, ringan, sampai berat. Tapi itu harus rasional dan sesuai dengan paduan nasional dan internasional. Jadi harus dikonsultasikan juga karena sekarang banyak orang yang yang asal dapat informasi dari internet atau broadcast tapi tidak baca keseluruhan. Akhirnya mereka berbondong-bondong untuk menyetok atau menimbun obat tujuannya untuk pakai sendiri atau dijual lagi. 

Tapi ini salah, makanya waktu serangan covid kemarin heboh obat habis. Lebih gila lagi sekarang penggunaan antibiotik yang sekarang sudah tidak disarankan untuk diberikan di awal. Kecuali terbukti waktu covid di cek darahnya berbarengan dengan adanya infeksi bakteri ditandai dengan leukositnya naik. Kalau diberikan secara tidak rasional takutnya ada resistensi antibiotik. Padahal sekarang peneliti di dunia sedang berpacu dengan bakteri karena banyak dari mereka yang resisten. Buktinya virus covid banyak bermutasi, sehingga memungkinkan pengobatan sekarang tidak proporsional dan tidak efektif.

 

Q: Jadi tidak disarankan ya kalau mengonsumsi obat covid supaya bisa lebih kuat daya tahan tubuhnya?

Sangat tidak efektif, antibiotik dan antivirus dipakainya untuk pengobatan saat sudah divonis terkena covid. Tapi obat itu tidak didesain untuk mencegah. Yang ditakutkan bisa muncul resistensi pada obat covid. Jangan pikir antivirus dan antibiotik pinter cuman spesifik pada virus covid. Kalau diminumnya tidak rasional, putus-putus, tidak sesuai aturan, dan sembarangan nanti bakteri serta virus jadi punya kesempatan untuk mempelajari antibiotik dan antivirusnya. Sehingga mereka jadi lebih tahan dengan dua obat itu.

 

Q: Nah tadi dokter sempat menyinggung pengobatan alternatif. Nah, sebenarnya ada ga sih dong sekarang pengobatan selain antivirus ini?

Pasti ada, karena penelitian-penelitian di dunia masih berlangsung. Jadi obat-obat yang baru pun masuk, contohnya ivermectin yang obat cacing itu. Di WHO statusnya belum direkomendasikan sebagai pengobatan dalam covid, tapi diizinkan sebagai penelitian. Jadi kalau ada obat-obat alternatif gitu, saya akan lihat di WHO dan screenshot dari jurnal kalau itu diizinkan sebagai penelitian. Jadi silahkan kalau kalian ingin minum tapi statusnya jadi kelinci percobaan. Saya akan merekomendasikan obat kalau penelitian itu sudah ada dan berdasarkan evidence-based medicine, jika tidak ada kita tidak mau pakai. Jadi harus ada dasarnya dari jurnal-jurnal atau SOP dari WHO. Buat apa merugikan pasien apalagi ada reaksi obat ke tubuh terutama yang punya komorbid. Jadi benefit harus lebih besar dari resikonya. 

 

Q: Nah, dari dokter sendiri ada saran tidak untuk masyarakat ingin daya tahannya kuat dibandingkan mengonsumsi obat covid itu?

Pertama vaksin, semuanya itu tujuannya baik kalau misal tujuannya jelek tidak akan diizinkan oleh BPOM dan WHO untuk beredar. Tapi perlu diingat kalau vaksin tujuannya bukan untuk kebal tapi ketika kamu kena gejalanya tidak berat. Kedua pola hidup sehat, seperti manajemen stres yang baik; tidur dibawah jam 12; setidaknya 3x seminggu olahraga minimal 30 menit maksimal 1 jam; makan yang bergizi setidaknya mencangkupi karbohidrat, lemak yang baik, protein, dan vitamin; suplementasi vitamin yang sewajarnya jangan banyak-banyak, biasanya yang mengandung vitamin C dan D itu bagus; berjemur pada jam sepuluh sampai dua siang minimal 3-4x per minggu dengan durasi 5-15 menit saja, untuk membentuk vitamin D3. Lebih dari itu gunakan sunblock yang minimal spf 30, pakai topi, dan kacamata hitam. 

Ketiga, mengetahui kondisi tubuh kita punya komorbid atau tidak. Jadi perlu rutin cek terutama untuk orang di atas 35 tahun dan punya komorbid. Kebanyakan kasus yang sudah berat di rumah sakit, pas dicek baru ketahuan kalau punya penyakit kronis. Keempat, pakai alat pelindung diri. Jadi masker pakai sesuai aturan jangan sembarangan. Lalu kelima, terapkan protokol 5M yaitu memakai masker, menjauhi kerumumanan, membatasi mobilitas, menjaga jarang, dan mencuci tangan.

 

Q: Nah, tadi dokter sempat menyinggung terkait menimbun obat. Di Indonesia sendiri beberapa waktu lalu mengalami panic buying mulai dari obat, vitamin, oksigen, dan masih banyak lainnya. Tanggapan dokter tentang hal ini?

Semua orang kalau panik, aksinya pasti salah dan gegabah. Jadi pertama tetap tenang dan stay cool, kalau kita panik akal sehat tidak akan jalan. Kedua, jangan menimbun karena tidak ada gunanya. Minum itu harus sewajarnya, kalau bingung bisa konsultasi online saja kan bisa sekarang. Walaupun kamu punya channel yang dengan mudah menjual obat itu, tetap tidak boleh. Kamu mungkin menimbun tapi tidak tahu ada masa expirednya. Nanti pas mau dipakai lupa kalau expirednya sudah habis. Terus kita juga tidak tahu kedepannya obat itu akan dipakai lagi apa tidak. Jadi kalau mau beli sewajarnya saja dan tidak berlebihan.

 

Q: Siap dok, terima kasih banyak. Lalu bagaimana pesan untuk seluruh masyarakat?

Pertama, protokol kesehatan tidak boleh longgar, harus tetap dijalankan karena belum diputuskan bahwa pandemi covid berakhir, jadi protokol kesehatan harus dikumandangkan. Kedua, tetap jaga daya tahan tubuh karena virus itu pada naturnya dia menyerang orang-orang yang kekebalannya rendah, dia adalah kuman-kuman yang sifatnya oportunistik, saat dia ada kesempatan dia akan menyerang dia akan masuk. Yang ketiga, vaksinasi itu wajib karena tujuannya juga untuk mencapi herd immunity. Terus bagaimana dok vaksin kan ada banyak jenis-jenisnya? Intinya gini lebih baik sediakan pelampung sebelum tenggelam, jadi jangan pilih-pilih pelampungnya dulu karena semua tujuan vaksin itu baik, kalau tidak baik tidak akan diedarkan oleh Kemenkes.

 

Berikut wawancara kami dengan dr Christian, semoga bisa menjawab kegalauan ataupun kekhawatiran anda tentang vaksinasi. Jika ada pertanyaan atau gejala Covid yang anda rasakan, dapat menghubungi hotline Satgas Covid-19 Ubaya di nomor +6281-4204-1116. (et, sml)

Update: 23-09-2021 | Dibaca 932 kali | Download versi pdf: Setelah-Vaksin--Bagaimana-Kita-Harus-Menghadapi-Covid-19-.pdf