Jangan Takut Vaksin!


  • 15-04-2021

Vaksin adalah isu yang sedang hangat dan sering kita dengar di sekitar kita. Isu vaksin berhembus sebagai salah satu penanganan Covid-19 di skala internasional, pergerakan vaksin di Indonesia pun segera direspon dengan cepat oleh pemerintah. Namun, pergerakan ini tidak lepas dari mitos-mitos tentang vaksin yang menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk menjawab keresahan tersebut, kami mewawancarai dr. Heru Wijono Sp.PD, FINASIM selaku Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait vaksin. Simak wawancaranya berikut ini!

 

Q: Baik dok, untuk pertama-tama mungkin pertanyaan yang umum dulu. Bagaimana cara vaksin bekerja dok?

Prinsip kerja vaksin ada lah membentuk kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi yang siap pakai untuk melawan virus atau bakteri yang menyerang badan kita, dan mempersiapkan sel memori yang bertugas membentuk antibodi baru yang lebih banyak lagi dalam jumlah yang cukup untuk melawan virus dan bakteri yang masuk. Ibarat suatu negara, dalam badan kita sudah ada tentara yang sudah siap siaga dan bersenjata lengkap untuk melawan musuh yang masuk yaitu bakteri atau virus (termasuk virus covid ini) dan tentara ini adalah antibodi kita.

 

Q: Berarti memang fungsinya lebih kepada mempersiapkan tubuh ya dok?

Benar. Ada kemungkinan virus atau bakteri yang masuk dalam jumlah jauh lebih banyak, sehingga diperlukan tentara yang jauh lebih banyak, sehingga harus diproduksi pasukan dalam jumlah yang lebih besar. Kalau pasukan ini dibentuk dari nol maka perlu waktu lama—bisa sampai dengan 7 hari pada kasus covid. Sedangkan bila di dalam badan kita sudah ada kader-kader pasukan yang siaga, yaitu sel-sel memori, maka pembentukan antibodi baru bisa jauh lebih cepat, dalam waktu kurang dari 2x24 jam. Itulah fungsi vaksin, mempersiapkan antibodi yang siap pakai dan mempersiapkan sel memori yang siap sebagai kader-kader pembentuk antibodi baru.


Q: Sebenarnya ada berapa jenis-jenis vaksin dok?

Banyak cara penggolongan vaksin, tapi secara mudah bisa dibagi 2, vaksin pasif dan vaksin aktif. Pada vaksin pasif, yang dimasukkan dalam badan kita hanyalah antibodi yang sudah siap pakai, tidak ada sel memory. Jadi pada vaksin pasif kalau cadangan antibodi sudah terpakai habis ya sudah, kekebalan tubuh kita kembali ke awal. Contoh vaksin ini pada beberapa jenis vaksin hepatitis B.

Sementara itu vaksin aktif diberikan dengan cara memasukkan protein, baik mikroorganisme hidup atau sudah mati kedalam badan kita dengan tujuan untuk membentuk antibodi dan sel memori, jadi lebih baik dalam jangka Panjang. Vaksin aktif tidak perlu memasukkan virus hidup, seperti pada vaksin sinovac dan sinofarm digunakan protein bagian dari virus mati, spike nya saja, yang berfungsi menempelkan badan virus ke sel kalau virusnya masih hidup. Tapi karena hanya bagian spike-nya saja yang dimasukkan maka resiko tertular virus ini tidak ada.

 

Q: Beberapa opini yang muncul di publik seringkali bilang bahwa vaksin dengan efikasi tinggi lebih baik...apakah benar?

Vaksin covid diproduksi dalam jumlah yang besar karena sebagai salah satu cara mengendalikan penyebaran virus ini. Kalau efikasi dari vaksin diperlukan. World Health Organization (WHO) mensyaratkan efikasi diatas 50%. Nah vaksin sinovac saja di penelitian di Bandung hasilnya 65.3%, artinya kalau 100 orang terinfeksi covid, hanya kurang dari 35 % yang akan sakit dan itupun akan menimbulkan gejala ringan. Di Turki dan Brazil bahkan hasil efikasinya lebih tinggi lagi.


Q: Apakah tujuan akhir vaksin adalah mempercepat herd immunity? Atau bagaimana dok?

Tepat sekali. Salah satu tujuannya adalah membentuk herd immunity, bayangkan kalau dalam satu populasi anggota masyarakat disana sudah punya kekebalan terhadap covid, maka virus ini tidak bisa masuk ke dalam badan kita bahkan akhirnya akan mati sendiri setelah 14 hari.

Lalu kalau kita biarkan secara alami apakah herd immunity bisa terbentuk sendiri. Bisa, tapi perlu waktu lama, dan virus yang masuk ke badan penderita masih hidup, masih beresiko menimbulkan penyakit yang berat dan bahkan beresiko kematian. Sedangkan pada vaksinasi, yang dimasukkan bukan virus covid yang hidup, tapi yang sudah mati, sehingga resiko ketularan dari vaksin tidak ada, dan waktu pembentukan herd immunity juga lebih cepat. Sedangkan waktu adalah sesuatu yang kita tidak punya pada wabah covid ini. Kita perlu herd immunity secepatnya.

 

Q:  Berarti harus disesuaikan dengan urgensinya ya dok?

Ya. Sekali lagi kita tidak punya waktu banyak dalam menghadapi virus covid ini. Kita perlu sekarang atau secepat mungkin terbentuknya kekebalan alami atau herd immunity. Kalau kita menghadapi seperti typhoid fever yang sudah lama di Indonesia, rata-rata masyarakat Indonesia punya kekebalan alami terhadap penyakit ini, walau jumlahnya bervariasi. Sehingga kalau terinfeksi, gejalanya tidak seberat mereka dari luar negeri yang belum punya kekebalan alami seperti kita terhadap typhoid fever. Tapi apakah kita punya waktu banyak dalam hal covid ini? Jawabnya jelas TIDAK. Kita amat perlu vaksin sekarang.

 

Q: Beberapa opini beranggapan vaksin tidak aman karena memunculkan gejala penyerta. Apakah gejala penyerta ini sesuatu yang wajar dan sesuai dengan cara kerja vaksin dok?

Kita sudah lama mengenal vaksinasi pada balita, bahkan bayi barusan lahir dari Rahim ibunya dalam waktu kurang dari 24 jam sudah harus dapat vaksin hepatitis B, vaksin DPT, polio, campak. Vaksin tersebut juga kadang-kadang menimbulkan efek samping yang ringan, dan sering kita dapatkan seperti badan agak panas, bayi jadi rewel karena badannya tidak enak. Tetapi harap diingat bahwa efek jangka panjang jauh lebih besar, yaitu perlindungan terhadap beberapa penyakit yang masih mewabah di masyarakat seperti campak, polio, difteri, pertusis, hepatitis B.

Wanita akan menikah pun harus suntik tetanus dulu, efeknya? Kadang-kadang sakit, tetapi jika dibandingkan dengan perlindungan terhadap resiko tetanus terhadap ibu dan bayinya saat hamil dan melahirkan jelas, keuntungannya jelas melebihi potential harm-nya. Jadi apakah sebaiknya vaksinasi? YA. Kalau mereka yang mengerti mengenai vaksin dan mekanisme nya akan dengan senang hati divaksin.

 

Q: Masih banyak masyarakat yang masih skeptis tentang vaksin. Apakah vaksin benar-benar efektif mencegah penyakit dok?

Seperti hasil penelitian menunjukkan, vaksin memberikan peningkatan perlindungan terhadap covid-19. Apakah pasti kebal, tidak. Analogi nya adalah seakan kita maju ke medan perang, menggunakan baju zirah dan perisai. Nah vaksin covid mempertebal baju zirah kita dan perisai yang melindungi diri kita. Tapi kalau serangan terjadi bertubi-tubi dan berterusan, maka pada akhirnya perisai dan baju zirah akan menipis dan akhirnya tembus, dan akhirnya kita terinfeksi. Karena itu biarpun sudah divaksin, tetap kita perlu menjaga ketebalan unsur perisai kita yang lain, dengan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan menjaga protokol kesehatan dengan ketat.


Q: Siap dok, terima kasih. Lalu pesan-pesan dokter untuk masyarakat?

Jangan ragu vaksin! Pada mereka yang punya penyakit penyerta (komorbid), konsultasikan dulu dengan dokter yang merawat anda, kriteria yang tidak boleh divaksin hanya sedikit sekali sekarang, dan setelah divaksin tetap jangan lengah, tetap lanjutkan protokol kesehatan dengan ketat.

 

Nah, berikut adalah hasil wawancara kami dengan dr. Heru. Jangan khawatir mengenai vaksin, sebab vaksin akan membuat Indonesia semakin tahan terhadap serangan pandemi. Tetap semangat! Konsultasikan segala keresahan anda kepada profesional. (sml)

Update: 15-04-2021 | Dibaca 3144 kali | Download versi pdf: Jangan-Takut-Vaksin-.pdf