ARTIKEL

Bercerita Dalam Mengajarkan Matematika

Oleh: Hazrul Iswadi
Departemen MIPA Ubaya

Tugas tri darma perguruan tinggi bagi seorang dosen bukanlah tugas mudah. Beragam kompetensi dan keahlian harus dikuasai untuk dapat mengkaitkan tugas pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat dalam kegiatan sehari-hari seorang dosen. Domain kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian yang dikonotasikan berturut-turut di ruang kuliah, di laboratorium, dan di masyarakat kalau digabungkan dan hendak dikuasai oleh satu orang adalah domain yang sangat besar. Sebagian pakar pendidikan beranggapan hanyalah dosen super yang mampu menjadi pakar secara bersamaan untuk ketiga pilar dari tri darma perguruan tinggi tersebut. Sehingga ada usulan agar pemerintah membuat klasifikasi dosen menjadi hanya dosen mengajar, dosen meneliti, atau dosen mengabdi saja.

Tapi tulisan ini tidak berkaitan dengan polemik pada paragraf di atas. Tulisan ini mengulas tentang peluang dosen matematika sebagai pencerita (story teller). Cerita tentang matematika, tentang matematikawan, atau tentang bagaimana cara belajar matematika sudah banyak dilakukan oleh para guru matematika atau matematikawan.

Contohnya adalah Zazkis dan Liljedahl dalam buku Teaching Mathematics as Storytelling (2009) yang telah mengulas apa dan bagaimana mengajarkan matematika dengan cara bercerita. Mereka menyatakan bahwa pengajaran matematika dengan bercerita tersebut dapat dilakukan dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Mereka mencontohkan cerita tentang korespondensi satu-satu yang merupakan salah satu topik dalam fungsi. Untuk anak sekolah dasar, cerita tentang korespondensi satu-satu dapat diceritakan dalam bentuk kisah manusia gua yang harus menandai ternak yang dimilikinya dengan sekumpulan ranting kayu sedangkan untuk mahasiswa perguruan tinggi, sebagai contoh ekstrimnya, dapat menceritakan korespondensi satu-satu dengan ide himpunan hingga yang diperluas menjadi himpunan tak hingga.

Prinsip abstraksi dan generalisasi yang menjadi ciri khas utama ilmu matematika membuat topik-topik dalam matematika menjadi berjarak dengan pengalaman mahasiswa sehari-hari. Tantangan dalam mengajarkan matematika, terutama untuk mahasiswa yang tidak belajar di jurusan matematika, adalah mengkaitkan kembali topik-topik dalam matematika tersebut dengan pengalaman mahasiswa sehari-hari atau pengalaman yang pernah didapatkan mahasiswa tersebut sebelumnya.

Penulis beranggapan bahwa kemampuan sebagai pencerita juga diperlukan oleh seorang dosen matematika untuk mengkaitkan hasil-hasil penelitian atau fakta-fakta di matematika dengan substansi mata kuliah matematika yang sedang diajarkan. Banyak bentuk cerita yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas contohnya adalah cerita-cerita yang memperkenalkan munculnya suatu teori dalam matematika, cerita-cerita yang menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dari masa lalu, atau cerita-cerita yang berkaitan dengan kelakar tentang topik tertentu dalam matematika atau matematikawan.

Bercerita matematika untuk siswa sekolah dasar dan menengah akan lebih mudah dibandingkan dengan bercerita matematika untuk mahasiswa di perguruan tinggi. Porsi motivasi yang lebih sedikit dan substansi matematika yang lebih dalam menyulitkan dosen matematika untuk dapat menjadikan topik-topik dalam matematika dalam bentuk cerita. Dosen matematika juga harus menguasai sejarah dan substansi matematika yang diceritakan dengan sama baiknya. Selain dari itu, dosen matematika yang akan menjadi pencerita yang baik harus mengetahui bagaimana sebuah cerita akan mempunyai nilai tambah yang optimal dalam proses pembelajaran di kelas seperti bagaimana membuat plot, menemukan konflik, mencari unsur “wow”, menyelipkan rasa humor dari suatu cerita, dan seterusnya.

Kemudian satu hal lagi yang sangat penting diperhatikan jika seorang dosen matematika menggunakan cerita dalam pembelajarannya adalah karakteristik belajar matematika yang intinya “mengerjakan matematika”. Belajar matematika adalah mengerjakan matematika. Jika dosen bercerita matematika maka otomatis mahasiswanya adalah mendengarkan cerita matematika. Sehingga proses belajar matematika dengan cerita menjadikan mahasiswa dalam posisi pasif. Keadaan ini tidak cocok dengan topik-topik dalam matematika seperti turunan dan intengral yang aktivitas dalam pembelajarannya lebih banyak membuktikan dan menghitung, yang artinya mahasiswa dalam belajar matematika harus dalam keadaan aktif. Seringkali dosen matematika hanya dapat menggunakan cerita pada saat member motivasi atau pembahasan contoh dan aplikasi dari suatu mata kuliah.

Walaupun tantangan untuk dapat bercerita dalam mengajar matematika cukup besar, tapi manfaat yang diraih juga sangat besar. Dengan mendengarkan matematika dalam bentuk cerita, para mahasiswa akan dapat merasakan bahwa perkembangan matematika tidak terjadi dalam ruang terisolasi, mahasiswa akan dapat merasakan bahwa pekerjaan matematika adalah pekerjaan sehari-hari dan dilakukan oleh manusia juga, mahasiswa akan dapat melihat mata kuliah menjadi lebih utuh, dan mahasiswa akan dapat menempatkan matematika dalam perkembangan ilmu pengetahuan dengan lebih tepat.

Copyright
© 2014 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2013/content/articles_detail/76/Bercerita-Dalam-Mengajarkan-Matematika.html