Oleh: Hazrul Iswadi

Departemen MIPA Ubaya
 
Tepat pada tanggal 15 Februari 449 tahun yang lalu (tahun 1564), ilmuwan besar Galileo Galilae lahir di Pisa, Italia. Galileo, yang tidak menyelesaikan pendidikan kedokterannya karena lebih menyukai belajar matematika, memberikan sumbangan yang besar pada perkembangan ilmu fisika dan astronomi. Tercatat Galileolah yang memperkenalkan penggunaan teleskop pada bidang astronomi secara luas. Dengan menggunakan matematika astronomi dan pengamatan teleskop, Galileo menemukan benda-benda astronomi yang belum dapat dikenali pada masa itu seperti adanya gunung di bulan, adanya empat buah bulan yang mengelilingi Jupiter sekaligus menentukan perkiraan periode dari bulan-bulan tersebut mengelilingi Jupiter, adanya bintik matahari, dan banyak penemuan-penemuan lain.
Yang menarik untuk diperhatikan dari sejarah karir keilmuan Galileo adalah sejatinya beliau adalah guru, dosen, dan peneliti matematika. Galileo memulai karir sebagai matematikawan dengan menjadi guru privat pada umur 21 tahun. Pada tahun 1586 Galileo memulai mengajar matematika untuk umum dan menghasilkan buku matematika pertamanya. Karier Galileo berikutnya berlanjut dengan menjadi ketua departemen matematika di Universitas Pisa tahun 1859, kemudian menjadi profesor matematika Universitas Padua pada tahun 1592, dan akhirnya kembali lagi ke Universitas Pisa sebagai ketua departemen matematika pada tahun 1610.
 
Padahal kebanyakan orang sekarang ini mengetahui nama besar Galileo lebih pada sumbangannya pada bidang fisika dan astronomi. Dari titik pandang masyarakat dan sistim pendidikan kita sekarang, perbedaan antara jabatan keilmuan yang diemban dengan mayoritas karya keilmuan yang dihasilkan yang berbeda tentu mengherankan. Tapi jika dilihat dalam konteks sejarah perkembangan ilmu pengetahuan apa yang dilakukan oleh Galileo adalah hal yang jamak. Pada abad-abad terdahulu, matematika bukanlah subjek ilmu pengetahuan yang berdiri-sendiri. Pada saat itu, matematika digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan sistim berfikir untuk dapat mengerti fenomena fisika dan alam semesta.
 
Sejarah karir matematika Galileo juga mengkonfirmasi argumen bahwa pada abad yang lampau matematika mendominasi perjalanan akademik dari orang-orang terpelajar pada masa itu. Di Universitas Padua, Galileo mengajarkan mata kuliah geometri Euclid dan astronomi untuk mahasiswa kedokteran. Hal ini terjadi karena pada saat itu kedokteran menggunakan astrologi dalam praktek kedokterannya sehingga membutuhkan beberapa pengetahuan tentang astronomi. Kalau kita tarik jauh kebelakang pada jaman Yunani kuno malah lebih ekstrim lagi. Pada saat itu, setiap pemimpin atau orang terpelajar mempelajari tiga pengetahuan yang utama yaitu ketatanegaraan, retorika, dan matematika.
 
Hal-hal lain yang dapat dicatat pada abad-abad lampau tersebut adalah penemuan fenomena-fenomena fisis tersebut memicu pemikiran untuk mendapatkan formula-formula atau teori-teori baru dalam bidang matematika. Dalam hal ini, Galileo dikenal sebagai matematikawan yang ikut mengembangkan persamaan untuk benda jatuh dan pendulum, yang kedua topik sekarang berkaitan dengan persamaan diferensial. Contoh lain adalah sumbangan besar Sir Isaac Newton dalam menemukan konsep turunan, sebuah topik dalam kalkulus, yang digunakan beliau untuk menjelaskan fenomena gaya grafitasi.
 
Pada jaman modern sekarang ini, kedudukan matematika sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan sistim berfikir seperti yang penulis singgung di atas bukannya berkurang atau hilang. Tapi sangat sukar menemukan situasi dimana seorang pakar dapat mengembangkan teori matematika serta menggunakan teori matematika tersebut untuk menjelaskan fenomena fisis dengan sama baiknya. Hal ini tentu terjadi karena baik matematika dan bidang aplikasi matematika telah berkembang luas dan dalam. Sehingga tercatat dalam sejarah, manusia sekaliber Einsteinpun kesulitan untuk menyelaraskan konsep fisika yang ditelurkannya dengan konsep matematika yang memadai untuk menjelaskannya. Pada awalnya Einstein di tahun 1905, memperkenalkan teori relativitas khusus untuk benda yang bergerak mendekati kecepatan cahaya. Kemudian baru belakangan konsep tersebut, mulai tahun 1911, diperumum menjadi teori relativitas umum yang disertai dengan penjelasan secara matematis berupa persamaan diferensial.
 
Sehingga kalau melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi sekarang memang kita akan kesukaran mengharapkan munculnya ilmuwan seperti Galileo, yang dengan heroik mengembangkan teori matematika dan aplikasi matematika sendirian, tapi setidaknya kita patut berharap banyaknya kopi-kopi ilmuwan seperti Galileo yang bekerja pada banyak bidang yang kemudian bisa bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu yang besar dan bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia.