Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
 
Layaknya kota besar lain di Indonesia, Surabaya sudah sangat identik dengan tingkat kemacetan tinggi. Tingkat kemacetan yang tinggi terutama terjadi di jam-jam masuk kerja dan jam-jam pulang kantor. Jam masuk kerja yang rawan kemacetan berkisar antara jam 7 sampai dengan jam 8. Sebelum jam tersebut jalan relatif lebih lancar. Jam-jam pulang kantor yang rawan kemacetan berkisar antara pukul 4 sore sampai 6 sore. Selepas jam tersebut tingkat kemacetan tidak separah jam pulang kerja. Kemacetan pada jam-jam tersebut memiliki dampak bagi pekerja baik secara fisik atau psikis.
 
Berangkat kerja seharusnya pekerja dalam kondisi yang segar karena telah beristirahat di rumah. Namun dengan menghadapi kemacetan di jalan raya, pekerja dapat mengalami kelelahan secara fisik ataupun emosi sebelum bekerja. Dampaknya saat berada di tempat kerja kondisi tidak optimal. Begitu juga saat pulang kerja kemudian terkena kemacetan yang parah saat jam pulang, kondisi fisik dan psikis yang lelah karena bekerja menjadi semakin lelah karena kemacetan. Pekerja tidak bisa menghindari kemacetan karena saat ini fenomena itu yang dihadapi meskipun sudah ada rekayasa lalu lintas, namun pekerja bisa mengatur perilaku berangkat dan pulang kerja sehingga tidak terlalu lelah karena kemacetan di jalan.
 
Tips yang cukup efektif adalah berangkat lebih awal sehingga datang di tempat kerja lebih awal. Pulang lebih lambat dibandingkan jam kantor sehingga sampai di rumah sama seperti jam ketika pulang dari tempat kerja seperti umumnya ketika mengalami kemacetan namun tidak dalam kondisi lelah karena macet. Berangkat lebih awal dari jam kantor, membuat kita tidak tergesa-gesa dalam perjalanan, sehingga ketika macet kita tetap dapat menjalaninya dengan tenang. Berbeda dengan saat jam masuk kantor sudah mepet, dan mengalami kemacetan. Maka yang muncul adalah kondisi tergesa-gesa dan tidak nyaman secara psikologis ataupun fisik, secara tidak sadar hal tersebut dapat membuat lelah secara fisik dan psikologis.
 
Begitu pula saat pulang, pulang lebih lambat daripada jam kantor biasanya, akan membuat kita pulang lebih lambat. Namun bila dibandingkan dengan saat kita pulang tapat waktu, kelelahannya tidak terlalu. Contoh bila biasanya kita pulang jam 16.30 ketika kena macet parah, maka tiba di rumah bisa jam 18.00 atau 18.30. Sudah sampai rumah lama dan ditambah dengan kelelahan fisik dan emosi yang tinggi. Namun bila kita pulang jam 17.30 ataupun 18.00 bisa pulang lebih malam namun dengan kondisi kelelahan fisik dan emosi yang lebih rendah.
 
Lalu apa yang dikerjakan saat di tempat kerja lebih awal dan pulang kerja lebih lambat. Kita dapat melakukan aktivitas atau mengerjakan sesuatu yang sifatnya pengembangan diri yang mungkin tidak dapat dilakukan di jam rutin kantor ataupun saat di rumah. Contoh yang penulis lakukan adalah dengan menuliskan daftar kegiatan yang ingin dilakukan saat waktu luang, menulis, menikmati area kantor, dan kegiatan sejenis yang tidak urgent ataupun urgent dan tidak mendesak. Pengalaman penulis saat beban kerja tinggi, dengan berangkat lebih awal dan pulang lebih lambat menyebabkan pekerjaan tidak dibawa pulang dan mampu selesai tepat waktu. Kondisi emosi saat berinteraksi dengan keluarga juga tetap nyaman dan dapat dijaga. Apapun kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan setiap individu, tidak dapat disamaratakan.
 
Konsekuensi datang lebih awal dan pulang lebih lambat tetap ada, utamanya waktu berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang. Itulah salah satu tantangan dari komunitas urban. Harus mampu menyeimbangkan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan. Dengan mampu menjaga kualitas kegiatan dan waktu bersama keluarga maka relasi dengan keluarga seharusnya tetap mampu terjalin dengan baik. Pekerja harus pandai memanfaatkan waktu bersama keluarga di luar jam kerja secara baik. Perlu ada kesepakatan antara pekerja dan keluarga tentang pola datang bekerja lebih awal dan pulang lebih lambat. Tidak harus dilakukan setiap hari pola ini dilakukan, namun bisa dua sampai tiga hari kerja. Harapannya keseimbangan keluarga-kerja tetap terjaga, dan menjaga kesejahteraan fisik dan psikologis pekerja dari dampak kemacetan jalan raya.
Semoga tulisan ini memberikan manfaat. Salam 
Copyright
© 2014 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/74/Datang-Lebih-Awal-Dan-Pulang-Lebih-Lambat---Manfaatnya-Bagi-Pekerja-Dan-Keluarga-Menjawab-Tantangan-Kehidupan-Masyarakat-Urban.html