Sambutan Rektor

Universitas Surabaya (Ubaya) yang berdiri sejak 11 Maret 1968,telah mencapai fase lima puluh tahun (usia emas) pada tahun 2018. Sejak awal berdirinya sampai saat ini dan di masa yang akan datang, Ubaya tetap memiliki komitmen utuh untuk mengutamakan kualitas, karakter dan integritas tinggi dalam proses pendidikan, penelitian, layanan kepada masyarakat, dan kerjasama dengan berbagai pihak.

Kehadiran Ubaya diarahkan bukan hanya menjadi lembaga pendidikan tinggi (universitas), namun juga merupakan wadah pembentukan manusia yang mulia dan berkarakter, manusia yang berakal budi, inovatif, adaptif, beretika, berbudaya, inklusif, horizontal dan memiliki social skill. “We do not just educate students, We also inspire, transform, and change their life.”

Selain itu, sebagai kampus multikultur dan universitas kebangsaan, Ubaya tetap konsisten menanamkan nilai-nilai kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan kesadaran untuk bersatu dan hidup harmonis dalam keberagaman yang menjunjung tinggi kesetaraan umat manusia. Hal ini terutama terlihat dalam proses rekruitmen mahasiswa, karyawan dosen dan non-dosen yang tidak dibatasi oleh latar belakang etnis, suku, agama, status ekonomi dan sosial.

Kita juga sadar betul bahwa perjalanan Ubaya ke depan dihadapkan pada suatutantangan baru. Pada konteks ini, Ubaya sebagai lembaga pendidikan tinggi bergerak cepat untuk mempersiapkan diri dan melakukan berbagai langkah adaptasi dan antisipatif untuk menghadapi tantangan baru tersebut dengan segera merubah sistem, pola dan cara kerjanya dalam berbagai aspek. Ubayajuga akan terusbergerak dari teaching universityke arah research universitydan pada akhirnya ke entrepreneurial university- digitalpreneur university.Sebagai Digitalpreneur University,Ubaya ingin mempersiapkan dan membentuk mahasiswanya menjadi lulusan yang memiliki Global Vision, Digital Mindset, danCreativity Driven.

Saya percaya masa depan menjadi selalu lebih baik, karena Ubaya selalu mempersiapkan para mahasiswanya agar mampu menjawab tantangan masa depan.


Salam multikultur,


Benny Lianto

.