Momen Tak Terulang, Jangan Menyesal


  • 25-05-2012
  • Fadjar Efendy Rasjid

MULAI Senin hingga Jumat, banyak pula yang hingga Sabtu, anak lebih sering bersama pengasuhnya. Waktu efektifnya lebih banyak dihabiskan di TPA. Supaya bonding antara orang tua dan si kecil tetap erat, ayah dan bunda harus jeli. Manfaatkan waktu secara maksimal.

"Sore dan malam sepulang dari TPA, berikan afeksi sepenuhnya kepada anak. Orang tua harus sedikit berkorban memang. Sepulang kerja tentu capek. Tetapi, bagaimanapun, anak butuh perhatian mereka," tutur psikolog Ivonne Edrika. Orang tua bisa meminta anak bercerita tentang kegiatan mereka hari itu. Misalnya, "Tadi adik diajari apa di TPA dan main dengan siapa saja?"

Masa kanak-kanak tidak bisa diulang. Orang tua harus menikmati waktu-waktu tersebut. "Lakukan itu sebelum Anda menyesal karena kehilangan momen atau merasakan si anak tidak dekat dengan orang tuanya," papar perempuan yang juga menjabat koordinator Divisi Pendidikan Anak PKLP Ubaya tersebut.

Solusinya, menurut Ivonne, Sabtu dan Minggu harus benar-benar dimanfaatkan untuk mempererat bonding itu. Salah satu caranya, mengajak anak beraktivitas bersama, melibatkan anak dalam kegiatan orang tua, atau berlibur. Di rumah, misalnya, orang tua mengajak anak memasak bersama, lalu bersantai sambil membacakan cerita. Hal itu merupakan salah satu cara untuk mempererat bonding antara anak dan orang tua.

Berlibur juga bisa menjadi alternatif. Karena enam hari sebelumnya anak tidak banyak bersama orang tua, pada hari libur berikan waktu sepenuhnya untuk memenuhi keinginan mereka.

Ketika si anak sakit, orang tua harus berperan penuh untuk merawat sang buah hati. Anak yang sakit tentu butuh perhatian ekstra. Orang tua perlu mengambil cuti agar bisa berkonsentrasi mengurus sang buah hati. Yang penting untuk diingat, meskipun anak dititipkan di TPA, orang tua tetap bertanggung jawab penuh. (nor/c12/ayi)


Jaga Konsistensi Aturan

Taman penitipan anak (TPA) menjadi salah satu solusi untuk merawat sang anak sementara orang tua bekerja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah perbedaan value antara ortu dan pengasuh serta bonding antara ortu dan anak.

KETIKA orang tua sama-sama bekerja, mereka  butuh ruang supaya tumbuh kembang sang buah hati tetap terpantau dengan baik. Pilihannya, anak ditinggal di rumah bersama asisten rumah tangga, dirawat anggota keluarga, atau dititipkan ke taman penitipan anak (TPA).

TPA berperan sebagai rumah kedua bagi anak untuk melatih kemandirian dari pembiasaan. Yang perlu diingat, kontrol penuh tetap berada pada ortu. Kondisi anak yang 100 persen berada dalam pengasuhan ortu dengan anak yang dititipkan sangat mungkin berbeda. Terkadang, perbedaan value antara ortu dan pengasuh bisa muncul.

Misalnya, anak usia dua tahun dititipkan di TPA. Di sana, dia dilatih untuk mandiri. Sementara itu, ketika di rumah, ortu cenderung memanjakan dan tidak membiasakan anak untuk mandiri. ”Anak bisa bingung. Katakan kalau di TPA sudah dilatih minum dengan gelas, di rumah dia selalu dibiarkan minum dengan dot. Inkonsistensi seperti ini harus dihindari,” ujar Ivonne Edrika SPsi, psikolog yang juga kepala divisi TPA Universitas Surabaya.

Sebelum menitipkan sang buah hati, sebaiknya ortu mengobservasi terlebih dulu. Pada umumnya, orang tua akan memilih TPA yang memiliki value tidak jauh berbeda dengan value yang terdapat dalam keluarga tersebut.

Di awal-awal dititipkan, si anak sering mogok atau ngambek. Bahkan, dia sampai menangis karena tidak mau berpisah dari orang tua. ”Hal itu wajar. Ortu
tidak perlu overprotektif. Anak sedang beradaptasi, lama-kelamaan mereka akan terbiasa. Apalagi banyak bertemu dengan teman sebaya,” lanjut Ivonne.
Bagaimana supaya masalah-masalah seperti beda value tersebut bisa dihindari? Kuncinya adalah kerja sama antara ortu dan TPA serta konsistensi. Di awal
menitipkan si anak, ortu bisa berdialog dengan TPA.

”Sampaikan segala informasi tentang si anak. Ortu juga harus percaya bahwa di TPA tersebut si anak akan aman dan nyaman. Ketika anak sakit, diperlukan kerja sama ortu untuk melapor ke TPA agar bisa segera ditangani,” papar Sulis Setyarini SPd, staf humas & administrasi TPA Ubaya.

Dengan berada di TPA, si anak punya lebih banyak kesempatan untuk belajar bersosialisasi sejak dini. Hal itu merupakan salah satu kelebihan TPA bila
dibandingkan dengan anak bersama pembantu di rumah atau dititipkan kepada nenek-kakeknya. Dengan program-program yang tepat, TPA tidak hanya berperan untuk merawat anak selama orang tuanya bekerja, tetapi juga men-support anak untuk bertumbuh kembang secara optimal. Untuk bayi, pengasuhannya lebih intens.

”Bayi memerlukan perhatian ekstra. Higienitas harus sangat dijaga. Jumlah pengasuh dan anak yang diasuh harus ideal,” ujar Wara Sagita, penanggung jawab Taman Penitipan Anak Dharma Wanita Persatuan Setda Kota Surabaya.

Menurut Peraturan Kementerian Pendidikan Nasional RI No 58, kelompok usia 0 hingga 1 tahun, perbandingan pengasuh dan anak adalah 1:4. Artinya, seorang pengasuh maksimal menjaga empat bayi. Usia 1–2 tahun, perbandingannya 1:6. Usia 2–3 tahun 1:8, usia 3–4 tahun 1:10, usia 4–5 tahun 1:12, usia 5–6 tahun 1:15. (nor/c6/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 25 Mei 2012
 

Update: 25-05-2012 | Dibaca 13861 kali | Download versi pdf: Momen-Tak-Terulang--Jangan-Menyesal.pdf