Belajar Dari Pedagang Tionghoa


  • 10-08-2010
  • Dewiana

Kalau bulan lalu Departemen Mata Kuliah Umum (MKU)  mengadakan seminar tentang pemberantasan korupsi kali ini mereka menyelenggarakan diskusi panel seputar masalah “Dilema-dilema dalam Praktik Multikulturalisme,” di ruang FG.1.1 Ubaya Senin, 09 Agustus 2010.

Diskusi panel yang dihadiri dosen dan pimpinan dari berbagai subsistem di Ubaya menjadi suasana yang menyejukkan ketika peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan atau pertanyaan atas materi yang sudah disampaikan Ketua Yayasan Ubaya, Anton Prijatno, SH., dan Priyatmoko, MA, dosen Fisip Unair Surabaya. Suasana menjadi lebih familiar ketika Pak Anton menyampaikan ide-ide segarnya.

Perguruan tinggi, papar Pak Anton, boleh saja ada internasionalisasi tetapi harus menghidupi produk-produk lokal. Yang tidak kita inginkan kalau dalam perkembangannya di kemudian hari menjadi hilang budaya aslinya. Lalu  muncul nilai-nilai baru. Tugas kita, bagaimana menghindari supaya tidak hilang budaya aslinya tetapi menjadi tambah maju bersama dengan budaya yang mengglobal.

Yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan unsur multikulturalisme ini, ia mengatakan, adalah dalam hal bersikap. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan tidak boleh menganggap budaya orang lain lebih rendah daripada budaya kita sendiri. Atau ada sikap sebaliknya. Kita merasa rendah diri. Menganggap budaya orang lain lebih tinggi daripada budaya kita sendiri.

Budaya yang sudah teruji diterima di kalangan masyarakat pada umumnya adalah pendatang dari pedagang Tionghoa. Mereka sudah bisa menyebar di seluruh pelosok tanah air ini. Sebagai suatu contoh, ceritera Pak Anton, di Papua, orang Bugis banyak menjadi pendatang untuk berdagang di sana. Tetapi kondisinya menjadi tidak harmonis, karena masyarakat di sana sulit menerima kehadiran orang Bugis. Inilah salah satu problem pelaksanaan multikulturalisme di era otonomi daerah ini. Semestinya, tidak sampai ada tindakan kekerasan untuk melakukan penolakan terhadap pendatang baru.

Di daerah tertentu, kita menemukan juga pendatang yang pedagangnya dari etnis Tionghoa mereka rangkul dan diajak bekerja sama untuk memajukan ekonomi daerahnya melalui kegiatan berdagang. Pedagang dari etnis Tionghoa mereka sudah menyebar ke seluruh pelosok di tanah air ini. Dalam hal ini, mungkin perlu ada pembelajaran bersama diantara pedagang supaya bisa saling mengisi kekurangannya.

Penjelasan senada disampaikan Pak Priyatmoko. Sebagai suatu contoh, ia menceriterakan pedagang batik yang sudah cepat maju pada pasca Suramadu di Madura adalah pendatang dari Solo yang sudah pengalaman dalam mengembangkan bisnis baju batik. Batik Madura menjadi laris, dinamika dunia perdagangannya menjadi semakin ramai. Satu sisinya buat orang Madura mungkin menjengkelkan karena para pendatang yang menghidupkan dunia perekonomian di sana.

Menghadapi situasi semacam ini, ia mengakui, kekacauan memang ada tetapi masyarakat bisa beradaptasi diantara mereka maupun dengan  pedagang yang termasuk pendatang. Memang ini  bagian dari dunia ekonomi modern, baru ditangani kalau sudah laku dijual. Ia juga menyadari memang sulit untuk menghasilkan pertukaran yang adil di era ekonomi moderen ini.

Bagaimana Beretika di Ruang Public

Aspek lain yang dibahas dalam diskusi kali ini adalah masalah bagaimana beretika di ruang public. Untuk menghindarkan adanya kesalahan persepsi antara daerah yang satu dengan yang lainnya dalam pergaulan, sebaiknya kita saling mengenal istilah-istilah yang sudah familiar pada beberapa daerah di Indonesia supaya menjadi acuan dalam berkomunikasi. Yang perlu kita ketahui adalah ungkapan yang baik pada suatu daerah tertentu belum tentu istilah atau kata-kata tersebut diterima di daerah lain kalau diucapkan atau komunikasi kepada orang lain. Karena itulah, Pak Anton mengharapkan, “Saya mengajak MKU mengkaji dan mengiventarisir kata-kata istilah dari dari daerah tertentu yang bisa diterima untuk umum. Sedangkan kalau istilah yang maknanya memicu konflik diiventarisir untuk diketahui tetapi tidak untuk dipergunakan untuk kepentingan umum. Karena ketidaktahuan kita menggunakan istilah yang bisa diterima umum bisa saja membuat orang lain atau suku lain tidak menerimanya.”

Berkaitan dengan materi yang diberikan dalam perkuliahan Etika Multikultur ia mengimbau materi yang diberikan kepada mahasiswa berkaitan dengan perkuliahan Etika Multikultur supaya menyajikan dari hal-hal yang sederhana saja. Jangan memberikan materi yang berat dan sulit untuk dimengerti oleh mahasiswa.

Yang menjadi fasilitator dalam diskusi panel kali ini adalah Drs Haryadi, M.Si. Turut hadir dalam diskusi panel ini, WR I Ubaya, Prof. Ir Lieke Riadi, PhD.

Materi beretika di ruang public diberikan supaya orang bisa berhati-hati dalam berbicara dan tidak mengucapkan kata yang kasar ketika berdialog sehingga menyinggung etnis budaya lainnya di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari diskusi ini, semua materi dalam diskusi menjadi masukan untuk menjadi kajian MKU Ubaya.  (Loy/WU)

Update: 10-08-2010 | Dibaca 9660 kali | Download versi pdf: Belajar-Dari-Pedagang-Tionghoa.pdf