Populerkan Jamu Pada Generasi Milenial


  • 01-09-2020
  • Hayuning Purnama Dewi

Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan webinar Herbal Drink. Webinar yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2020 ini bertajuk “Isih Cilik Kudu Sinau, Arep Sehat Ngombe Jamu”. Acara ini dilaksanakan supaya minuman herbal bisa lebih menarik dan tidak kalah saing dengan minuman zaman kini. Berlangsung menggunakan zoom, sedikitnya 155 peserta hadir pada acara hari itu.

Vanessa Kalani Ong selaku Co-owner The Jamu Bar membuka diskusi dengan menceritakan keadaan jamu di masa sekarang. Menurutnya, saat ini kita harus bisa mencari tahu bagaimana jamu bisa dinikmati oleh anak-anak muda. “Indonesia mempunyai banyak rempah-rempah dan spesies tanaman, jadi sayang sekali kalau tidak diperjuangkan terutama di generasi baru,” ujarnya. Namun, Vanessa berpendapat bahwa Indonesia mulai sadar dengan kesehatan akibat adanya pandemi covid-19. Sehingga jamu perlahan mulai dicari kembali.

Membahas covid-19, Vanessa menuturkan bahwa jamu hanyalah pencegahan. “Jamu itu pencegahan bukan obat ataupun menyembuhkan. Jadi jamu itu harus diminum jauh hari sebelum sakit. Bisa minum jahe merah, kunyit, atau temulawak di rumah,” sarannya.

 Diskusi dilanjutkan oleh Jony Yuwono selaku Founder & Owner Acaraki. Menurutnya, perlu ada perubahan persepsi masyarakat mengenai jamu sebagai obat instan. “Kita perlu kembali ke makna jamu sebagai Jampi Husada yang berarti doa kesehatan,” tuturnya. Selain itu, Jony juga menjelaskan proses pembuatan dan modifikasi jamu di masa kini. “Bisa dicampur dengan soda. Tapi soda yang kita gunakan itu air dingin ditembak dengan karbondioksida,” ujarnya.

Penuturan materi menarik banyak pertanyaan, salah satunya dari Natasha Kezia Wijaya. “Apakah jamu yang dimodif dengan ditambah soda dan lain lain mempengaruhi khasiat dari bahan utama jamu itu sendiri?” tanyanya. Vanessa menjawab bahwa tidak ada perubahan pada khasiat jamu. “Bahaya dari minuman soda itu dari bahan yang tulisannya ada pemanis dan perisa. Jadi yang bahaya bukan sodanya,” tambah Jony. (et)

Update: 01-09-2020 | Dibaca 303 kali | Download versi pdf: Populerkan-Jamu-Pada-Generasi-Milenial.pdf