Butuh Upaya Ekstra Untuk Lolos Dari Resesi


  • 07-08-2020
  • Hayuning Purnama Dewi
Ilustrasi: freepik.com (@pikisuperstar)
 
JAKARTA – Dua negara Asia, Singapura dan Korea Se­latan, pekan lalu sudah mengumumkan perekonomian mereka memasuki resesi setelah ekonominya berkontraksi dua kuartal berturut-turut. Beberapa negara seperti Ame­rika Serikat (AS) dan Australia pun juga diperkirakan sulit dari jurang resesi.
 
Perekonomian Indonesia sendiri sangat bergantung pada kinerja kuartal III-2020 yang hasilnya baru dipubli­kasikan sekitar Oktober mendatang. Sedangkan pada kuar­tal II atau periode yang berakhir pada Juni hampir semua kalangan memperkirakan akan berkontraksi cukup dalam.
 
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah, di Jakarta, Senin (27/7), mengatakan butuh upaya ekstra untuk meloloskan ekonomi Indonesia dari re­sesi. Bahkan, resesi sulit dihindari tahun ini jika vaksin anti Covid-19 belum ditemukan.
 
“Kuartal triwulan III dan IV ekonomi masih berkontrak­si, resesi tahun ini sulit dielakkan,” kata Piter.
 
Menurut dia, bila vaksin sesuai harapan bisa diproduksi pada awal tahun 2021, dan wabah bisa benar-benar bersih pada triwulan kedua maka pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5 persen pada tahun depan.
 
“Saya perkirakan kita akan mampu tumbuh di atas 5 persen. Kuncinya ada di berakhirnya wabah,” katanya.
 
Relatif naiknya proyeksi pertumbuhan pada tahun de­pan karena output ekonomi yang sudah terkontraksi pada 2020, sehingga perhitungan statistik pasti terjadi pening­katan output meskipun kecil, tetapi persentasenya naik sig­nifikan. Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar minus 2 persen.
 
Belum Ada Sinyal
 
Pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Bam­bang Budiarto, yang dikonfirmasi secara terpisah, menga­takan pemerintah sangat kesulitan untuk mencapai per­tumbuhan hingga 4,5 persen pada tahun depan. Dengan melihat pencapaian pada kuartal I-2020 yang jauh dari ha­rapan. Selain itu, belum ada tanda perekonomian belum bisa segera pulih dari krisis akibat pandemi Covid-19.
 
“Lebih tepatnya, lupakanlah target 4,5–5 persen, karena bisa positif saja itu sudah bagus. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, sebab dengan perolehan kuartal 1 yang ha­nya 2,97 persen dari target 4,5 persen sesungguhnya ini su­dah merupakan noda hitam catatan pertumbuhan dalam 15 tahun terakhir,” kata Bambang.
 
Belum lagi prediksi banyak pihak bahwa kuartal II pun akan ter-kontraksi sampai 5,1 persen. Dengan history data seperti itu, untuk masuk ke kuartal III dengan pandemi Covid-19 yang belum berakhir tentu tidak mudah untuk membalikkan situasi demikian.
 
“Sekalipun tim pemulihan ekonomi tidak tidur dan terus bekerja 24 jam, target Kemenkeu tetap akan sulit dicapai. Jadi yang tepat, jangankan ke 4,5 persen, bisa positif saja sudah untung. Apapun, apakah terjadi resesi atau tidak di 2020 ini, keberadaan negeri ini di 2021 tetap bersandar pada keberadaan Covid-19. Jika penanganan Covid-19 membaik maka ekonomi pun membaik,” katanya. n yni/SB/E-9
 
sumber: koran-jakarta.com
Update: 07-08-2020 | Dibaca 196 kali | Download versi pdf: Butuh-Upaya-Ekstra-Untuk-Lolos-Dari-Resesi.pdf