Mahasiswa Ubaya Diskusi Vaksin Bersama 11 Mahasiswa Asing Secara Online


  • 12-08-2019
  • Hayuning Purnama Dewi

SURABAYA –Vaksinasi menjadi isu hangat dalam Host Student Exchange Programme (SEP) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi (BEM FF) Universitas Surabaya (Ubaya) di Ruang FF 2.2 Fakultas Farmasi Ubaya, kemarin (6/8). Diskusi dilakukan secara online antara mahasiswa Prodi Farmasi, Kedokteran, dan sebelas mahasiswa asing dari berbagai negara, yaitu Prancis, Polandia, Spanyol, Mesir, Slovenia, Serbia, Iraq, Hungaria, dan Swiss.

Mereka bergabung dengan 45 mahasiswa Fakultas Farmasi dan 12 Fakultas Kedokteran Ubaya. Kolaborasi ini dalam pendidikan di bidang kesehatan dikenal sebagai Interprofesional Education (IPE). Berbeda dengan implementasi IPE pada umumnya, Ubaya tidak hanya melibatkan tenaga kesehatan dalam negeri namun juga melakukan sinergi dengan tenaga kesehatan dari luar negeri. 

Hal ini sejalan dengan perolehan akreditasi international pada bulan Juli 2019. Fakultas Farmasi Ubaya menerima sertifikasi Accreditation Council For Pharmacy Education (ACPE). Adanya sertifikasi ini mendorong Fakultas Farmasi untuk memperkuat sistem edukasi di Ubaya dan meningkatkan pembelajaran di level Internasional.

Tahun 2019 merupakan  tahun kedua kegiatan SEP terselenggara di Ubaya. Temayang diurung tahun iniadalah “Education is the Foundation, Knowledge is The Power, Indonesia is The Place” yang berarti pendidikan merupakan pondasi, pengetahuan yang mumpuni adalah sebuah kekuatan, dan Indonesia merupakan tuan rumah untuk berbagi pengetahuan dan pendidikan terkait kesehatan.

Selama tiga minggu, mahasiswa asing tidak hanya melakukan internship (magang) di Apotek Ubaya, National Hospital, dan Apotek Kimia Farma. Namun, juga terlibat dalam membangun hubungan cross cultural communicationdengan mahasiswa Ubaya melalui forumdiskusimengenai etika Bioteknologi Farmasi terkait vaksin. Vaksin menimbulkan permasalahan ethics di beberapa negara. Melalui forum diskusi ini, mahasiswa dapat berinteraksi dan bertukar informasi mengenai permasalahan dan pemanfaatan vaksin di tiap negara masing-masing.

“Vaksin termasuk obat hayati produk biologis yang harus dikembangkan dan dipahami oleh tenaga kesehatan dari cara membuat, kontrol kualitas, dan cara memasarkannya. Forum diskusi ini menjadi menarik dibahas karenaada beberapa negara yang menolak penggunaanvaksinasi. Adanya perbedaan penanganan dan pemanfaatan vaksin mendorong mereka untuk berbagi cerita, memberikan opini serta solusi terkait hal tersebut,” papar Dr.Oeke Yunita, S.Si., M.Si., Apt., penerimaHibah Insentif Buku Ajar Perguruan Tinggi dari Kemenristekdikti tahun 2018.

Pemilihan vaksin menjadi topik pembahasan dalam forum diskusi untuk memberikan dasar dan pengetahuan terkait aplikasinya di dunia kesehatan.Ada dua tutor yang memandu proses belajar pada Bioethics Class tentang vaksinasi yaitu Dr. Oeke Yunita, S.Si., M.Si., Apt. selaku koordinator dan dr. Risma Ikawaty, Ph.D. selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Ubaya.Sesi ini dimoderatori oleh Alfian Hendra Krisnawan, S.Farm., M.Farm., Apt. dan Dr. Marisca Evalina Gondokesumo, S.H., M.H., S.Farm., M.Farm-Klin., Apt., selaku Dosen Fakultas Farmasi Ubaya.

Dr. Oeke YunitaS.Si., M.Si., Apt. selaku Koordinator Project DIES Training Course on Management of Internationalisation for Indonesia 2019 dari The German Academic Exchange Service (DAAD), the German Rectors Conference (HRK) and Leibniz Universitat Hannover menyatakan bahwa, program ini menerapkan konsep Internationalization At Home (IAH) yang nantinya akan diterapkan dalam kurikulum pembelajaran di kelas.

“Harapannya semua mahasiswa dapat memiliki perspektif global dan softskill yang mumpuni untuk berinteraksi lintas negara dalam bertukar informasi dan menambah wawasan dalam dunia medis khususnya apoteker. Diskusi ini akan direkam dan disalurkan secara online. Saya ingin seluruh mahasiswa dapat merasakan impact internasionalisasi,” jelas Dr. Oeke Yunita S.Si., M.Si., Apt. selaku Dosen Fakultas Farmasi pengajar mata kuliah Bioteknologi Farmasi.

 “Kami ingin membiasakan mahasiswa bahwa diskusi tidak harus bertemu dalam satu kelas tapi bisa dilakukan secara online dan terhubung denganberbagai institusi di luar negeri. Saya berharap mahasiswa Ubaya memiliki kemampuan untuk belajar berkomunikasi lintas budaya agarlulusan Ubayasiap berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain di level Internasional sehingga memiliki nilai tambah di dunia kerja,” pungkas Dr. Oeke YunitaS.Si., M.Si., Apt. 

Update: 12-08-2019 | Dibaca 307 kali | Download versi pdf: Mahasiswa-Ubaya-Diskusi-Vaksin-Bersama-11-Mahasiswa-Asing-Secara-Online.pdf