Minim Auditor Hambat Akreditasi, Kemendikbud Gencarkan Program Asuh


  • 02-08-2019
  • Hayuning Purnama Dewi
"Auditor akan mengecek dan PT harus membenahinya agar dapat meningkatkan akreditasi C menjadi B." Prof Aris Junaidi, Direktur Penjaminan Mutu Kemenristekdikti
 
SURABAYA, Jawa Pos - Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong perguruan tinggi (PT) untuk meningkatkan akreditasi program studi (prodi) dari C menjadi B. Namun, sejumlah PT di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) memiliki kendala minimnya auditor internal.
 
Padahal, auditor internal menjadi salah satu hal penting untuk mengevaluasi pemenuhan standar penjaminan mutu di setiap PT. Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan PT asuhan di bawah binaan Universitas Surabaya (Ubaya) saat lokakarya di Hotel Ibis Jemursari kemarin (30/7).
 
Direktur Penjaminan Mutu Kemenristekdikti Prof Aris Junaidi menyatakan, auditor internal sangat penting untuk dimiliki PT. Idealnya, satu prodi minimal memiliki dua auditor internal. "Jadi, kebutuhan auditor internal tinggal dikalikan dengan jumlah prodi yang dimiliki," katanya saat mengisi lokakarya tentang sistem penjaminan mutu internal (SPMI) sebagai barometer penjaminan mutu PT.
 
Aris menuturkan, untuk menjadi auditor, mereka harus mendapatkan pelatihan dan sertifikat kelulusan. Setelah itu, baru bisa ikut praktik audit di masing-masing prodi PT. "Kalau tidak ada auditor internal, PT bisa mendatangkan auditor yang disediakan Kemenristekdikti. Kami sangat welcome," ujarnya.
 
Menurut dia, auditor internal bertugas untuk mengevaluasi pemenuhan standar penjaminan mutu PT. Contohnya, dosen yang mengajar program S-1 harus memiliki pendidikan S-2, rasio dosen, serta standardisasi sarana dan prasarana. "Auditor akan mengecek dan PT harus membenahinya agar dapat meningkatkan akreditasi C menjadi B," kata dia.
 
Karena itulah, Kemenristekdikti menggandeng PT unggul atau terakreditasi A untuk membantu membimbing PT yang prodinya terakreditasi C. Yakni, melalui program asuh menuju prodi unggul. "Seperti Ubaya berhasil mendapatkan dana hibah untuk program ini. Ada enam PT asuhan yang diajukan Ubaya," ujarnya.
 
Aris mengatakan, mutu PT terus meningkat. Sebelumnya hanya ada 13-14 PT yang terakreditasi A. Kini jumlahnya mencapai 69 PT terakreditasi A. Sementara itu, akreditasi prodi juga meningkat tajam. "Sekarang tinggal 30 persen dari total 26 ribu prodi di Indonesia terakreditasi C. Yang gemuk justru di akreditasi B," ujarnya.
 
Program asuh tersebut diharapkan menjadi tempat sharing bagi PT yang masih memiliki banyak prodi terakreditasi C dengan PT unggul. Khususnya tentang penjaminan mutunya. "Sejak 2017 program asuh ini diterapkan, terjadi peningkatan 30 persen prodi yang naik akreditasinya," katanya.
 
Sementara itu, Direktur Penjaminan Mutu dan Audit Internal Ubaya Gunawan menyatakan, enam PT asuhan Ubaya dipertemukan dalam lokakarya. Mereka akan mendapat materi terkait dengan SPMI, audit mutu internal, organisasi, hingga pemahaman instrumen akreditasi. "Target kami 20 prodi yang akreditasinya C di enam PT asuhan tersebut bisa naik jadi B," ujarnya.
 
Tahun ini Ubaya memiliki enam PT asuhan yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Yakni, Universitas Kapuas, Sintang, Kalbar; Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Santa Ursula, Ende, NTT; Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer, Makassar; Universitas Surya, Tangerang; Universitas Slamet Riyadi, Surakarta; dan Universitas Hindu Indonesia, Bali. (ayu/c19/ai)
 
Dimuat di: JawaPos, 31 Juli 2019
Update: 02-08-2019 | Dibaca 535 kali | Download versi pdf: Minim-Auditor-Hambat-Akreditasi--Kemendikbud-Gencarkan-Program-Asuh.pdf