Memulai Usaha Berbekal Resep Sontekan


  • 26-10-2018
  • Fadjar Efendy Rasjid

Sudah banyak pengalaman Choirul Mahpuduah untuk bisa mandiri. Kini dia menularkan pengalaman itu kepada orang lain. Salah satunya melalui kampung kue yang dia rintis.

GALIH ADI PRASETYO

TIGA mahasiswa asing tampak serius Senin (22/10). Mereka memperhatikan tangan Choirul Mahpuduah, pendiri Kampung Kue Rungkut. Menggulung adonan menjadi bentuk yang unik. Mereka sedang mengikuti cooking class di Pusdakota Universitas Surabaya (Ubaya) Mahasiswa dari program pertukaran pelajar Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut diajak untuk membuat kue cikak. Bahan dasarnya kacang hijau. Dikukus dan dihaluskan menjadi adonan. "Setelah diwarnai, langsung dicelupkan agar-agar ya," ujar Irul, sapaan Choirul, yang disambut anggukan mahasiswa.

Kue itu dikemas kekinian dengan bentuk yang beraneka macam dan unik. Pewarnanya berbahan alami. Yakni, buah naga dan pandan. "Cara mem buat nya cukup rumit. Tapi, saya suka dengan rasanya. Manis," ujar Christin Enja Lisette Saermar Andersen dari University of Southern Denmark.

'Ya begini ini sekarang. Lebih sering memberikan pelatihan membuat kue kepada siswa hingga warga,’ ujar Irul. Setelah produksi kue, sudah banyak kegiatan yang menunggu. Mulai urusan per bu ru han hingga pemberdayaan masyarakat. Sudah 13 tahun Irul bergelut dengan Kampung Kue Rungkut di Jalan Rungkut Lor Gang II itu. Namun, jalan yang ditempuh hingga seperti sekarang tidaklah mudah. Butuh tekad yang kuat dan konsisten.

Perempuan kelahiran Kediri itu kali pertama masuk Surabaya pada 1989. Modal ilmu pas-pasan. Dia diajak teman bekerja di pabrik pembuatan alat rumah tangga. Jadi buruh. Dia indekos di wilayah yang sekarang menjadi kampung kue.

Gaji kecil dengan pekerjaan berat. Belum lagi diskriminasi yang diterima. Mulai tempat ganti baju yang seruangan dengan laki-laki hingga cuti haid, hamil, dan melahirkan tanpa premi keaktifan. "Saat itu saya tidak diam. Nuntut ke perusahaan," kata ibu dua anak tersebut.

Tuntutan memang dipenuhi. Namun, perusahaan tidak kehilangan akal juga untuk curang. Kalau mau cuti haid, pekerja perempuan diwajibkan menunjukkan celana dalam yang terkena darah. "Saat itu saya dan kawan lain menganggap ini sudah masuk ke pelecehan seksual," ujarnya.

Puncaknya, perempuan 49 tahun tersebut ditahan di Polsek Rungkut. Dia dianggap sebagai provokator di perusahaan. Namun, sehari kemudian, Irul dibebaskan. "Teman-teman berdemo sendiri. Bukti bah wa saya bukan provokatornya," tuturnya.

Hal itu berimbas pada pemecatan Irul. Dia tidak kapok. Bagi Irul, diam bukan solusi untuk menyelesaikan suatu masalah. Dari situ, Irul mulai tergerak berjuang untuk perempuan dan buruh. Dia bergabung dengan sebuah LSM. Awalnya dia hanya menjadi pengkliping surat kabar. "Dari banyak baca itu, pikiran mulai terbuka. Saya menuntut perusahaan dan akhirnya menang," katanya.

Pada Juni 2005, Irul berpikiran membuat kue. Dari satu pintu ke pintu lain, dia mengajak warga. Namun, banyak yang menolak. Hanya tujuh orang yang mau. Itu pun modal nekat. Irul juga tidak punya dasar membuat kue. "Ilmunya ya nurun. Nyontek buku resep dan koran," ujarnya.

Setelah bisa membuat kue, usaha pun dimulai. Yang kesulitan modal dipinjami. Hasil patungan orang-orang yang punya uang. "Namun, kemudian kami mengalami kesulitan soal pemasaran," katanya.

Lagi-lagi, Irul nekat. Dia berkeliling dari satu lapak ke lapak lain untuk menitipkan jajan sambil mendeklarasikan kampung kue. "Ternyata berhasil. Mulai banyak yang datang sendiri," katanya. Dari hanya tujuh orang, kini sudah ada 65 pembuat kue. Akhirnya, kawasan itu dikenal sebagai kampung kue.

Keberadaan kampung kue punya dampak yang besar. Terutama dalam penyerapan tenaga kerja. Minimal satu pembuat kue memiliki satu karyawan. Belum lagi tukang becak dan pedagang kue keliling. Saat ini jumlah pedagang sekitar 50 orang. (*/c7/ano)

Jawa Pos, 25 Oktober 2018

Update: 26-10-2018 | Dibaca 171 kali | Download versi pdf: Memulai-Usaha-Berbekal-Resep-Sontekan.pdf