Kenali Bakat Anak, Jangan Kursuskan Bahasa Asing Saat Balita Agar Tak Bingung


  • 02-10-2018
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURYA.co.id | SURABAYA - Keinginan orangtua untuk memiliki anak yang bisa berbahasa asing sejak dini adalah hal wajar. Namun, orangtua diharapkan tak memberi kursus bahasa asing pada usia balita agar tak terjadi kebingungan bahasa pada anak.

Ini diungkapkan dosen keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr Evy Tjahjono. Dia menguraikan, saat ini banyak orangtua yang ingin punya anak bisa berbahasa asing, seperti Inggris atau Mandarin. Mereka pun sering melatih anaknya berbahasa asing.

“Namun tak jarang, ketika berlatih berbahasa asing, mereka berbicara campur aduk dengan bahasa ibu,” jelasnya kepada peserta, dalam seminar ‘Mendeteksi bakat anak sejak dini’ yang digelar Homeschooling Primagama Pakuwon City, Sabtu (29/9).

Supaya bahasa asing yang dikuasai lebih cepat, biasanya orangtua akan mengkursuskan anak di usia balita.

Namun ini tak akan membuat anak cepat pintar, malahan menjadikan bingung. Itu tak lepas dari perbedaan kosakata dan struktur bahasa, antara bahasa Indonesia dan asing.

“Agar tak terjadi kebingungan bahasa, maka orangtua harus memantapkan satu bahasa dulu,” terangnya.

Tak hanya itu, kebijakan orangtua untuk mengikutkan kursus sejak dini, harus ditinjau lagi.

Setelah satu bahasa ini dikuasai si anak, maka baru dikursuskan bahasa asing ketika sudah masuk bangku SD.

“Kecuali kalau si anak memang punya bakat bahasa, maka biasanya cepat menguasai bahasa lain. Tapi secara umum, mantapkan satu bahasa dulu untuk anak,” terangnya.

Sedangkan mengenai potensi dan bakat anak, dia menilai bahwa tiap anak punya kecerdasan berbeda.

Ada 9 jenis kecerdasan majemuk yang diklasifikasi sebagai bakat, di antaranya cerdas bahasa, cerdas logika, cerdas gambar-visual, cerdas tubuh, cerdas musik dan cerdas sosial.

“Meski tiap anak punya bakat, namun ini tak bisa berkembang sendiri. Ini harus distimulasi secara tepat, agar berkembang maksimal,” ujarnya.

Stimulasi yang dilakukan orangtua juga melihat proses tumbuh kembang anak.

Itu dimulai dengan memahami karakter bakat dan meluangkan waktu bersama anak minimal satu jam per hari.

Kemudian mengobservasi perilaku anak, terutama dikaitkan dengan kecerdasan majemuk yang spesifik.

“Setelah itu, baru ajak anak melakukan permainan sesuai bakat yang dimiliki,” urainya.

Sementara itu, pemilik Homeschooling Primagama Pakuwon City, Thomas More Suharto mengurai, dia menggelar seminar ini agar orangtua tahu potensi dan bakat anaknya.

“Orangtua mungkin tak sadar bahwa tiap anak punya bakat yang berbeda,” urainya.

Dengan penjelasan dari dosen psikologi ini, maka ini akan membekali orangtua, agar bisa mengeksplorasi potensi tiap anak. Tak hanya eksplorasi, stimulasi dari orangtua bakal memaksimalkan bakat si anak.

“Orangtua akan tahu bagaimana menstimulus bakat si anak,” pungkasnya.



Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Kenali Bakat Anak, Jangan Kursuskan Bahasa Asing saat Balita agar Tak Bingung, http://surabaya.tribunnews.com/2018/09/29/kenali-bakat-anak-jangan-kursuskan-bahasa-asing-saat-balita-agar-tak-bingung?page=2.
Penulis: Sudharma Adi
Editor: irwan sy

Update: 02-10-2018 | Dibaca 896 kali | Download versi pdf: Kenali-Bakat-Anak--Jangan-Kursuskan-Bahasa-Asing-Saat-Balita-Agar-Tak-Bingung.pdf