Teknologi Percepat Budi Daya Ginseng


  • 20-07-2018
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURABAYA – Sebanyak 90 persen kebutuhan bahan baku ginseng di industri farmasi Indonesia mengandalkan impor. Untuk menekan impor bahan baku tersebut, PT Kalbe Farma menggandeng Universitas Surabaya (Ubaya) dan Kyung Hee University, Korea Selatan, untuk mengembangkan produksi ginseng melalui teknologi kultur jaringan.

Kemarin (18/7) Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti Dr Eng Hotmatua Daulay M Eng B Eng meresmikan laboratorium kultur jaringan (tissue culture) di Fakultas Teknobiologi Ubaya. Hadir juga Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius, Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe Simon Jonatan, Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung, dan perwakilan Kyung Hee University Prof Deok-Chun Yang.

Vidjongtius mengatakan, kerja sama Ubaya dan Kyung Hee University menjadi salah satu solusi mengurangi impor bahan baku ginseng untuk obat-obatan herbal. Juga, merupakan sinergi antara kampus dan dunia usaha. Ubaya menawarkan tempat dan fasilitas, sedangkan Kyung Hee University memberikan teknologi. PT Kalbe Farma melakukan pendanaan.

Dengan teknologi kultur jaringan, lanjut dia, ginseng yang dikenal hanya bisa ditanam di Korea bisa dibudidayakan di Indonesia. "Penelitian sudah dilakukan Ubaya dan Kyung Hee University," tutur Vidjongtius. Joniarto menambahkan, laboratorium kultur jaringan mengembangkan ginseng dan jahe merah. Tiga fakultas berkolaborasi. Yakni, teknobiologi, farmasi, dan kedokteran.

Menurut Joniarto, teknologi kultur jaringan sangat efektif dan bagus untuk budi daya ginseng. Penelitian yang dilangsungkan sejak 2011 itu membuktikan
bahwa tek nologi tersebut bisa menghasilkan bibit ginseng dalam waktu cepat. "Jika ditanam biasa, butuh puluhan tahun. Dengan teknologi kultur jaringan, hanya butuh 45 hari," tuturnya. (ayu/c15/dio)

Jawa Pos, 19 Juli 2018

Update: 20-07-2018 | Dibaca 4211 kali | Download versi pdf: Teknologi-Percepat-Budi-Daya-Ginseng.pdf