Momen Melek Finansial


  • 07-06-2018
  • Fadjar Efendy Rasjid

MENJELANG Lebaran, peredaran uang makin tinggi. Para pegawai mulai menerima tunjangan hari raya (THR). Kadang anak menyadari adanya uang tambahan tersebut. Sebab, tidak jarang, orang tua mulai membuat perhitungan pos-pos dana.

Menurut Dr Werner R. Murhadi CSA, orang tua sah-sah saja membahas THR yang didapatnya dan rencana pengeluaran dengan si kecil. Tentu saja, syarat utamanya adalah si kecil telah mengenal dan paham fungsi uang. "Tujuannya, anak diharapkan mampu menyadari penggunaan THR. Orang tuanya memang menerima pendapatan lebih tinggi. Tapi, di sisi lain, pengeluaran juga naik untuk kebutuhan selama Lebaran," paparnya.

Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya) itu menuturkan, orang tua bisa sekaligus menanamkan financial literacy alias edukasi finansial atau pengelolaan uang. Dengan begitu, anak dapat memahami prioritas pengeluaran lewat pembahasan tersebut. Anak perlu tahu bahwa ada pengeluaran wajib seperti sedekah atau zakat. Ada pula pengeluaran yang besarnya bisa disesuaikan seperti belanja baju dan sebagainya. Nah, untuk praktiknya, anak mulai dibiasakan mengelola uang saat hari raya tiba. Terutama ketika mereka sudah menerima angpau dari kerabat.

Konsultan keuangan Mimien Susanto RFA menyatakan, pengelolaan uang –sesederhana apapun perlu diterapkan saat si kecil menerima uang saku Lebaran. Sebab, pola pemberian uang saku Lebaran kini jauh berbeda. "Dulu galak gampil (uang saku Lebaran, Red) diberikan sekadarnya. Tapi, sekarang satu anak bisa dapat ratusan ribu rupiah, bahkan lebih, waktu hari raya," ujarnya. Mimien menyebut uang Lebaran sebagai hak anak.

Pada usia anak-anak hingga remaja, orang tua perlu membiasakan anak mengelolanya. "Setelah dapat, dihitung bersama. Misalnya, si kakak dapat berapa si
adik berapa. Lalu, mulai buat perencanaan," jelas alumnus universitas Brawijaya tersebut.

Dia menjelaskan, pembagian pertama yang perlu dibuat adalah tabungan. Persentasenya, 40–50 persen dari total uang yang didapat. Anak bisa ditawari, uangnya disimpan di bank atau celengan. "Kalau uangnya ditabung di bank, orang tua bisa membukakan rekening khusus anak-anak," tuturnya.

Setelah anak menyisihkan uang untuk ditabung, barulah perencanaan pengeluaran dibuat. Uang sisa dari menabung itulah yang boleh dibelanjakan anak. Pengeluaran bisa merupakan wish list si kecil. Misalnya, membeli mainan, perlengkapan sekolah dengan tema tertentu, atau makan di tempat atau menu tertentu.

"Tapi, orang tua perlu membatasi. Jangan sampai anak mengurangi tabungan karena nilai barang yang diinginkan melebihi alokasi," tegas ibu dua anak tersebut. Buat orang tua dengan anak lebih dari satu, Mimien dan Werner mengingatkan potensi konflik kecil terkait dengan uang. Umumnya, anak yang usianya lebih besar memperoleh jumlah uang saku Lebaran yang lebih banyak ketimbang si adik. Werner menyatakan bahwa hal itu memang wajar. Anak perlu mendapat penjelasan. Kakak yang sudah SMP atau SMA punya kebutuhan lebih banyak. Misalnya, untuk tugas, transportasi ke sekolah, pulsa, dan lain-lain. Berbeda dengan si adik yang mungkin tugasnya belum serumit si kakak dan masih diantar jemput oleh orang tua atau pihak sekolah.

Sementara itu, Mimien menilai bahwa uang Lebaran yang diperoleh adalah rezeki. Besaran yang diterima setiap orang atau yang diberikan paman atau tante berbeda-beda. "Yang paling penting, anak tahu cara mengelolanya,’’ katanya. (fam/c14/nda)

Jawa Pos, 1 Juni 2018

Update: 07-06-2018 | Dibaca 108 kali | Download versi pdf: Momen-Melek-Finansial.pdf