Batik Origami Sarat Filosofi


  • 02-10-2017
  • Fadjar Efendy Rasjid

SURABAYA – Batik tidak hanya beken di kalangan orang tua. Kini anak muda mulai melirik kain khas Indonesia itu. Monica Witarsa, mahasiswi Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), bahkan menyabet kemenangan di level internasional.

Mengusung tema batik origami, Monica meraih juara III dalam lomba desain batik yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang. Tidak sekadar desain, Monica mengirimkan batik dalam wujud media kain berukuran 50 x 50 sentimeter.

Ide batik origami bermula ketika Monica mencari ciri khas dari Jepang. Menurut bungsu dari dua bersaudara itu, origami adalah seni lipat asal Jepang. ”Langsung kepikiran origami sih,” kata mahasiswi pindahan dari Dong Ju College, Busan, Korea Selatan, tersebut.

Sesuai namanya, seluruh gambar dan bentuk dalam desain batiknya merupakan origami. Padahal, ada beberapa bentuk yang dibuat Monica dalam desainnya. Mulai ikan koi, bunga sakura, gunungan dalam wayang, hingga aliran air. Setiap bentuk itu, menurut dia, mempunyai makna masing-masing.

Karena merupakan origami, seluruh bentuk tersebut digambarkan bak lipatan-lipatan. ”Batik ini kolase semua origami. Jadi, ada siku dan lipatan pada setiap bentuknya,” ucap perempuan kelahiran 30 November 1995 itu.

Pembuatan batik tersebut memakan waktu lama. Dia menggunakan teknik membatik. Mulai mencanting hingga mewarnai dengan teknik colet dan celup. Diperlukan waktu hingga dua minggu agar batik karyanya terwujud. ”Bikin desainnya sampai mantap itu sekitar tiga minggu,” ujarnya. (kik/c20/nda)

Jawa Pos, 30 Sept 2017

Update: 02-10-2017 | Dibaca 3083 kali | Download versi pdf: Batik-Origami-Sarat-Filosofi.pdf