Bukan Salah Black Widow


  • 09-08-2017
  • Fadjar Efendy Rasjid

MELINDUNGI anak dari kekerasan seksual bukan hanya tugas orang tua atau guru di sekolah. Dibutuhkan peran banyak orang supaya langkah pencegahan itu maksimal. Karena itulah, program Tangkis Community Competition yang digagas Jawa Pos For Her dijalankan.

Mawar Sharon Christian School Surabaya menjadi sekolah pertama yang didatangi untuk road show kemarin (8/8). Dua acara utamanya adalah talk show bersama psikolog dan dosen Universitas Surabaya Dr Elly Yuliandari Msi serta storytelling bersama Kartikanita Widyasari alias Kak Nitnit. Acara talk show dihadiri ratusan orang tua murid playgroup dan kindergarten. "Mari kita ngobrol yang agak hangat pada pagi yang dingin ini ya," kata Elly.

Elly menekankan pentingnya pendidikan seksualitas terhadap anak. Ingat ya, seksualitas bukan seks. Ada perbedaan antara keduanya. Pendidikan seks merujuk pada interaksi intim orang dewasa. "Pendidikan seksualitas membicarakan pengenalan organ vital hingga cara melindunginya," jelas Elly.

Untuk memberikan pemahaman kepada anak, kunci utama adalah menyampaikannya dengan gestur yang baik. Elly menjelaskan bahwa anak-anak lebih mudah mengingat ekspresi dan cara berbicara jika dibandingkan dengan kalimat yang diucapkan. "Cara kita berbicara masuk ke memorinya secara langsung," terangnya.

Orang tua diharapkan bisa menyampaikan pendidikan seksualitas dengan nada yang halus dan bahasa yang gampang dipahami. Sangat tidak dianjurkan memakai tutur kata yang mengintimidasi. Apalagi penuh drama. Sebab, anak akan takut dan trauma. Bukan satu dua kali Elly menjumpai reaksi orang tua yang berlebihan ketika mengetahui ada hal tidak diharapkan yang dialami buah hatinya. "Misalnya, saat tahu anak mulai naksir lawan jenis, mama langsung panik dan berkata tegas, ’Kamu nggak boleh suka lawan jenis. Dilarang naksir cowok sampai nanti selesai kuliah!!!"’ contoh Elly.

Larangan semacam itu dengan cepat terekam di memori anak. Akibatnya, mereka bisa benar-benar enggan berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan ketika sudah lulus kuliah. "Anak merasa tidak ada kebutuhan untuk berhubungan dengan lawan jenis. Mereka juga tidak memiliki ketertarikan," ujar Elly.

Materi dari Elly disambut baik oleh orang tua yang hadir. Mereka menyatakan memperoleh banyak tambahan ilmu yang bisa diterapkan dalam mendidik anak. Sesi tanya jawab pun tidak disia-siakan. "Anak saya laki-laki berumur 5 tahun, saat nonton Avengers, tiba-tiba alat kelaminnya berdiri ketika muncul Black Widow. Apa yang harus saya lakukan ya, Bu?" tanya seorang penanya.

Beberapa ibu mungkin panik menghadapi kondisi tersebut. Tidak sedikit yang kemudian bereaksi keras memarahi. Padahal, itu bukan salah si anak. Apalagi salah Black Widow. "Ini hal normal yang menunjukkan tanda alat reproduksinya mulai bekerja. Yang harus dilakukan orang tua adalah mengajak anak ngobrol santai. Sangat mungkin itu terjadi karena anak amat excited," papar Elly.

Sementara itu, sesi dongeng bersama Kak Nitnit tidak kalah seru. Cerita kali ini berjudul Pahlawan Diri Sendiri. Ditemani boneka lucu bernama Naomi, Kak Nitnit menyampaikan kisah tentang cara menjaga diri sendiri. Cerita diawali dari Naomi yang ingin bermain di taman depan rumah. Namun, di sana dia justru bertemu dengan pria asing yang menawarinya permen dan kado. Kisah itu ditutup dengan menyanyikan lagu tentang jurus Tangkis.

Road show tersebut merupakan bagian dari kegiatan Tangkis Community Competition. Kompetisi itu bisa diikuti komunitas perempuan se-Indonesia dengan usia anggota minimal 18 tahun. Selain Mencegah Kekerasan Seksual pada Anak, ada dua tema yang bisa dipilih untuk tema aktivitas. Yaitu, Anti-Bullying dan Internet Sehat. (adn/fam/c14/ayi)

Jawa Pos, 9 Agustus 2017

Update: 09-08-2017 | Dibaca 3793 kali | Download versi pdf: Bukan-Salah-Black-Widow.pdf