Pilih SNI Atau ISO?


  • 18-08-2016
  • Fadjar Efendy Rasjid

KOMPAS.com - Perguruan tinggi merupakan lembaga yang memiliki peran penting mempersiapkan generasi muda berkualitas. Mereka dituntut mempunyai standar mutu untuk menjaga kualitas pendidikannya.

Tantangan menjaga mutu kualitas itu ke depan malah semakin penting, mengingat mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA menjadi tantangan tersendiri dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, karena nantinya SDM Indonesia harus bersaing ketat dengan SDM dari negara lain.

Salah satu contoh perguruan tinggi yang berupaya meningkatkan kualitas mahasiswa lulusannya sehingga memiliki "nilai tambah" adalah Universitas Surabaya (Ubaya). Ubaya telah memasukkan materi pendidikan standardisasi pada kurikulumnya sejak 2010 dengan tujuan untuk mengenalkan standar dan penerapannya. Pendidikan standardisasi itu diajarkan Ubaya melalui tiga mata kuliah, yaitu Standardisasi, Quality Management, dan Occupational Healts & Safety-Management System.

"Banyak aspek telah diterapkan di Ubaya, sehingga untuk mengatur semua itu hanya dengan standar," ujar Wakil Rektor 1 Ubaya, Nemuel Daniel seperti dikutip www.bsn.co.id, Sabtu (15/11/2014).

Tak bisa tidak, sistem penjaminan mutu merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mendorong penguatan proses pembelajaran akademis di perguruan tinggi. Maka dari itu, pihak Ubaya sudah mengantongi pengakuan berupa sertifikat sistem manajemen mutu SNI ISO 9001:2008.

Namun, standar mutu bukan hanya bicara pendidikan, sebab perusahaan pun harus memilikinya. Salah satunya perusahaan perangkat elektronik, Schneider Electric misalnya.

Menurut Regional Sales Director Schneider Electric Indonesia, Petrus Hasudungan mengatakan, Schneider Electric memiliki solusi lengkap untuk membantu masyarakat melindungi diri dari berbagai bahaya listrik, termasuk kebakaran. Hal itu dikarenakan melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), mulai proses produksi maupun di dalam kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Sejak 1997, perusahaan tersebut menerapkan sistem standar. Mereka mengawalinya dengan menerapkan ISO 9001, yang kemudian disusul dengan penerapan ISO 14001 dan OHSAS 18001. Tak percuma, perusahaan tersebut menyabet SNI Award pada 2015.

"Pentingnya pengelolaan listrik yang aman dan bertanggungjawab melalui pemilihan produk dan instalasi listrik yang berkualitas," ujar Petrus Hasudungan seperti dikutip www.bsn.go.id, Jumat, (22/4/2012).

Identik

Tetapi, manakah yang penting, standar yang ditetapkan internasional atau nasional?

Sebenarnya, penerapan SNI dan ISO dalam standar sistem manajemen mutu adalah sama. Hal itu merujuk ke lembaga pemerintah yang ditunjuk untuk bertugas dan bertanggung jawab di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian, yaitu Badan Standardisasi Nasional (BSN).

BSN merupakan anggota International Organization for Standardization  (ISO), suatu organisasi Internasional yang menghasilkan standar (ISO) yang berpusat di Jenewa, Swiss. BSN sesuai tugas dan fungsinya melakukan harmonisasi dengan standar internasional. Jadi, bisa dikatakan, lembaga pemerintah itu mengadopsi secara identik dengan menerjemahkan keseluruhan isi dari dokumen ISO menjadi SNI.

"Indonesia merupakan anggota ISO, melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) berpartisipasi aktif dengan ISO," ujar Kepala BSN Bambang Prasetya seperti dikutip dari www.bsn.go.id, Senin (1/6/2015).

Terkait dunia pendidikan, Bambang mengatakan, bahwa pentingnya sistem manajemen mutu itu diterapkan karena banyak manfaat yang bisa diperoleh dan mengajarkan siswa tentang sistem kualitas dengan mendalami sistem mutu.

"Siswa dapat belajar dari contoh, dan belajar dengan praktek. Selain itu ada nilai tambah bagi pelajar itu sendiri dan yang sangat penting adalah peningkatan kepuasan siswa," ujar Bambang.

Adapun adopsi SNI terhadap ISO, antara lain adalah Standar Manajemen Mutu SNI ISO 9001 yang identik dengan ISO 9001. Standar Manajemen Lingkungan SNI ISO 14001 yang identik dengan ISO 14001, SNI ISO 31000 Sistem Manajemen Risiko identik dengan ISO 31000, serta ISO 50001 yang identik dengan SNI ISO 50001 tentang Sistem Manajemen Energi.

Perujukan tersebut dilakukan untuk menghindari duplikasi dalam penyusunan standar di antara negara anggota ISO dan meminimalkan perbedaan standar yang dipakai antar-negara. Untuk penyusunan standar di dalam negerinya, negara anggota ISO berhak mengadopsi seluruh isi ISO.

Jadi, artinya, kalau perusahaan sudah menerapkan ISO 9001, perusahaan tersebut sudah menerapkan SNI ISO 9001. Sebagai bangsa yang cinta akan produknya, masyarakat harus membiasakan bahwa sekolah atau perusahaan di tanah air sudah menerapkan SNI ISO 9001.

Tentu, rasa nasionalisme perlu ditekankan di sini. Orang Indonesia harus bangga dengan standar nasional, karena SNI ternyata sudah setara dengan standar internasional.

Selain ISO, ada juga lembaga internasional lain yang mengeluarkan standardisasi produk dan mutu. Sebut saja, International Electrotechnical Commission (IEC) untuk produk kelistrikan Codex Alimentarius Commission (CAC) untuk produk pangan.

“(Penerapan) SNI untuk meningkatkan daya saing. Sertifikat SNI pun diterima (di negara lain) karena kita sudah MRA/MLA (kesepakatan saling menguntungkan),” kata Kepala BSN Bambang Prasetya, saat bertandang ke Kompas, Selasa (22/3/2016).

Saat ini, sebut Bambang, ada 555 jenis produk telah menerapkan SNI. Hingga Januari 2016, lanjut dia, telah pula dikembangkan 8.812 SNI yang berlaku untuk beragam sektor, mulai dari pertanian dan teknologi pangan, konstruksi elektronik, teknologi informasi, teknologi perekayasaan, kesehatan, keselamatan, lingkungan, teknologi bahan, teknologi khusus, hingga transportasi.

Visi yang dipatok BSN, lanjut Bambang, pada 2015-2019 dapat terwujud infrastruktur mutu nasional yang andal untuk meningkatkan daya saing dan kualitas hidup. Standar dan penilaian kesesuaian pun terus dikembangkan, termasuk menghadirkan 1.429 Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Sumber: kompas.com

Update: 18-08-2016 | Dibaca 7768 kali | Download versi pdf: Pilih-SNI-Atau-ISO-.pdf