Mama Sumber Inspirasi


  • 30-11-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

Vio dan Profesi Pengacara Prodeo

Tidak banyak pengacara yang menjadi pengacara prodeo. Selain tidak dibayar karena yang dibela adalah orang miskin, mereka tetap menanggung risiko besar karena membela terdakwa. Jalan ini rupanya tetap dipilih pengacara muda Ita Lydia Grace Violita.

---

SEJAK kecil, Vio akrab dengan dunia hukum. Sang ibunda, Yuliana Heryanti Ningsih, sudah menjadi pengacara prodeo selama 19 tahun. ''Waktu kecil, kalau mama sidang, saya dititipkan ke kantin,'' papar perempuan 24 tahun tersebut. Beranjak remaja, perempuan kelahiran Surabaya, 22 April 1991, itu ikut masuk ke ruang sidang bersama sang ibunda.

Berbagai suasana dan atmosfer dalam ruangan sidang seperti tangis, amarah, dan caci maki dilihat dengan mata kepalanya. Sebab, pengacara prodeo adalah profesi yang membela terdakwa. Mencari celah supaya terdakwa mendapat hukuman yang lebih ringan dari tuntutan awal. ''Kalau keluarga atau kerabat korban marah dengan kami, itu biasa,'' ucapnya.

Melihat proses kerja pengacara prodeo secara utuh dirasakan Vio sejak lama. Itulah yang membulatkan tekadnya mengikuti jejak sang mama. Setelah lulus sarjana hukum dengan mengambil konsentrasi hukum pidana di Ubaya pada 2012, Vio langsung mengambil pendidikan khusus profesi advokat di Universitas Airlangga.

Saat itu Vio magang di Polrestabes Surabaya. ''Saat itu saya magang secara resmi karena sebelumnya saya sering bantu mama di polrestabes, jadi berasa magang juga,'' ulasnya, lantas tertawa.

Sejak kuliah S-1, Vio memang sering membantu sang ibu mendampingi perkara pembunuhan di Polrestabes Surabaya. Terjun langsung, Vio menjadi semakin akrab dengan risiko yang akan dipikul ke depan.

Dia ingat benar dengan teror yang diterima ibunya ketika menangani kasus pembunuhan kakak beradik pada 2010 lalu. Keluarga tidak terima karena hukuman terdakwa adalah penjara seumur hidup. Padahal, itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa, yakni hukuman mati. ''Saat itu keluarga korban sangat emosional, suasana sidang sangat tidak kondusif,'' kenangnya.

Bahkan, sang ibu tidak hanya diteror, tapi juga diikuti di jalan. ''Untungnya, mama cerdas menghadapi teror. Saya bangga sekali dengan mama,'' tuturnya.

Untuk menunjukkan rasa bangganya, Vio menuruti keinginan sang ibunda agar jadi pengacara. Karena itu, setelah lulus ujian advokat Mei lalu, Vio sangat terharu. ''Paling tidak saya bisa membuat mama bangga sekali saja,'' papar Puteri Persahabatan dalam pemilihan Puteri Indonesia Jawa Timur 2015 itu.

Vio menyadari, pilihan profesinya memberikan tantangan tersendiri. Sebab, pengacara prodeo juga tidak menguntungkan secara materi. Untuk tetap bertahan hidup, Vio akan tetap mengadopsi cara sang ibunda. Yaitu, melakukan subsidi silang dengan tetap menerima tugas sebagai pengacara pada umumnya. ''Tapi, kalau ada yang minta tolong jadi pengacara prodeo, kita harus tetap sediakan waktu dan tenaga. Itu pesan mama,'' ucapnya. (ina/c17/jan)

Sumber: Jawa Pos, 30 Nov 2015

Update: 30-11-2015 | Dibaca 6462 kali | Download versi pdf: Mama-Sumber-Inspirasi.pdf