Merasakan Jadi Notaris


  • 16-10-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

FINNA TRIANI

FINNA Triani mendapat pengalaman berharga saat liburan. Dia berkesempatan membantu bibinya yang seorang notaris. Pengalamannya itu sekaligus mengubah pandangannya terhadap profesi tersebut.

''Selama ini, saya lihat tante kerjanya terlihat santai. Hanya membuat surat-surat, tanda tangan, lalu selesai,'' kata Finna. ''Ternyata tidak mudah juga untuk dijalani,'' imbuh mahasiswi Ubaya jurusan farmasi itu, lantas tersenyum.

Sehari-hari Finna diminta membantu untuk membuatkan berbagai surat dan akta. Mulai urusan jual beli tanah, sewa rumah, keperluan perusahaan, hingga persoalan warisan. Kemampuan Finna dalam mengoperasikan komputer sangat menolong pekerjaan bibinya. ''Surat jadi cepat selesai dan hasilnya lebih enak dipandang,'' kata Finna.

Sebelumnya, untuk membuat surat atau akta, dibutuhkan waktu lebih lama. Sebab, ada aturan-aturan tertentu untuk mencetak surat maupun akta. Untuk akta jual beli, misalnya, ada aturan jarak antara pinggir kertas dengan tulisan. ''Kadang ini yang bikin ribet orang-orang yang tidak terbiasa dengan komputer. Sebab, hasil di komputer dan saat dicetak bisa berbeda,'' jelasnya.

Finna juga secara langsung melihat cara bibinya menghadapi klien dengan berbagai latar belakang. ''Ternyata capek juga ya. Apalagi kalau kliennya banyak maunya,'' ucap perempuan 20 tahun itu.

Mayoritas klien ingin urusannya segera selesai. Padahal, surat-surat tersebut tidak bisa jadi dalam sekejap. ''Kadang di notaris bisa cepat. Tapi, jadi lama karena menunggu dari pihak dan dinas terkait,'' ungkap Finna. (vo/c23/fal)

Sumber: Jawa Pos, 16 Oktober 2015

Update: 16-10-2015 | Dibaca 5322 kali | Download versi pdf: Merasakan-Jadi-Notaris.pdf