Pendidikan Harus Menjunjung Tinggi Kesetaraan Gender


  • 04-05-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

surabayanews.co.id – Privatisasi pendidikan dan diskriminasi siswa terkait kemampuan membayar biaya pendidikan. Aksi long march yang dilakukan KPS2K, Pusham Ubaya, KPR dan Pattiro Gresik juga menyuarakan soal pendidikan yang menjunjung tinggi kesetaraan gender. Long march yang seluruh pesertanya adalah perempuan ini membawa semangat kesetaraan gender dalam pendidikan, sebagai salah satu tuntutan mereka. Mereka menilai pendidikan nasional di Indonesia kurang menghargai gender.

“Kami menyayangkan bahwa menteri pendidikan saat ini hanya mengurusi urusan pendidikan di formal. Padahal banyak sekali pendidikan non formal yang masih belum disentuh,” kata Iva Hasanah, Humas KPS2K.

Iva menyatakan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia tidak hanya bisa diselesaikan lewat jalur formal pendidikan sembilan tahun. Melainkan harus ada pendidikan nonformal atau alternatif dalam mengatasi masalah pendidikan lain. Pentingnya isu kesetaraan gender ini, menurut Iva dikarenakan kondisi di lapangan masih banyak perempuan Jawa Timur yang buta aksara. Bahkan dirinya menyebut angka buta aksara ini masih tinggi.

Selain itu faktor lain yang menyebabkan rendahnya akses pendidikan bagi perempuan adalah masih tingginya angka pernikahan dini. Pernikahan dini ini kemudian menyebabkan siswa perempuan harus putus sekolah, karena sekolah tidak memperbolehkan siswanya berstatus nikah.

Selain itu pendidikan formal juga tidak mau tahu soal siswa perempuan yang hamil di luar keinginan. Siswa ini pasti akan di drop out dari sekolah maka bagi Iva, harus ada sekolah alternatif yang menampung perempuan-perempuan ini. Baginya pendidikan nonformal atau alternatif ini penting agar pendidikan dapat diterima secara merata bagi perempuan. (lela/rid)

Sumber: http://surabayanews.co.id

Update: 04-05-2015 | Dibaca 4041 kali | Download versi pdf: Pendidikan-Harus-Menjunjung-Tinggi-Kesetaraan-Gender.pdf