Revolusi Koperasi Oleh Maria Elizabeth Andriani


  • 28-04-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

Dari Reuni Kini Siapkan Resto Cepat Saji

Memiliki pekerjaan mapan, namun Maria Elizabeth Andriani masih mau meluangkan waktu untuk mengurus koperasi. Perempuan yang menjadi ketua Koperasi Solidaritas Alumni SMA St Louis Surabaya (SASS) itu berupaya membuat koperasi lebih berdaya.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID

SEBUAH diskusi kecil berlangsung seru. Usul demi usul mengalir tanpa moderator. Lima orang yang duduk mengelilingi meja bundar itu sedang membicarakan rencana mengadakan pameran kecil peluang bisnis di area car free day Minggu (16/4).

Maria Elizabeth Andriani yang memprakarsai acara tersebut cukup detail mendedahkan rencana. Mulai barang apa saja yang harus dibawa hingga siapa saja yang nanti berpromosi. ”Pukul 04.00 harus sudah sampai lho ya. Keburu ditutup akses jalan car free day-nya,” kata Maria, memberikan saran. Empat rekan lain mengangguk.

Pameran kecil itu sudah dua pekan terakhir dibahas. Maria menuturkan bahwa itu bagian dari rencana mengembangkan dua hal. Yakni, pengembangan bisnis sekaligus amal. Dua hal tersebut memang menjadi passion Maria selama dua tahun terakhir.

Diskusi singkat itu berakhir dengan rencana yang tertulis di catatan masing-masing. Mereka tinggal merealisasikan. ”Biasanya ya seperti ini. Tidak banyak yang kami omongkan. Langsung intinya dan kerjakan,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 20 Desember 1967, itu.

Beri Bantuan tanpa Pandang SARA

Pameran car free day tersebut hanya bagian kecil dari perjalanan panjang yang telah dia tempuh. Semua bermula dari reuni sekolahnya dulu di SMA St Louis atau biasa disebut Sinlui. Pada 2012 Maria menjadi ketua reuni sekaligus ulang tahun ke-60 sekolah tersebut. ”Saat itu sedikit banyak terungkap adanya alumni yang masih kekurangan. Perlu bantuan teman-teman yang lebih beruntung,” kata perempuan yang menjadi kepala regional Indonesia Timur sebuah perusahaan asing itu.

Persoalan tersebut ternyata tidak hanya selesai pada saat reuni. Alumni yang lebih sukses mengadakan pertemuan lebih serius. Mereka tidak ingin ada alumni yang nasibnya jauh dari sejahtera dalam segi finansial. ”Ada lho alumni kami yang jadi sopir, bahkan office boy. Nasib orang, memang tidak ada yang tahu,” katanya.

Setelah reuni itu, Maria bersama 20 orang lainnya bersepakat membuat koperasi yang berisi alumni Sinlui. Badan usaha itu dinamakan Solidaritas Alumni Sinlui Surabaya (SASS). Koperasi tersebut dibentuk dan mulai dijalankan sekitar Februari 2013. Dia pun ditunjuk sebagai ketua.

Mengapa berbentuk koperasi? Karena itu badan usaha milik bersama dan menganut falsafah gotong royong untuk maju bersama. Prinsip tersebut yang mereka temukan saat sekolah dulu. Hal itu pula yang menjadi dasar pengembangan koperasi yang kini jumlah anggotanya sudah lebih dari 500 orang tersebut. Koperasi itu tidak hanya menjual produk dari pabrik. Tapi, juga hasil produk lokal dan rumahan. Bahkan, ada yang berasal dari hasil kreativitas anggotanya. ”Ada yang punya bisnis pasir wangi untuk tempat kotoran binatang peliharaan,” imbuh alumnus Sinlui 1986 itu.

Lalu ada anggota yang pintar memasak, lantas berjualan nasi bungkus. Sementara itu, yang pandai membuat kerajinan tangan menghasilkan perabot rumah tangga handmade seperti kemoceng dan keset. ”Bahkan, yang bikin tempe mendol juga ada,” ujarnya, lantas tertawa.

Model bisnis itu berkembang dengan cara yang cukup berbeda. Hasil penjualan produk tersebut sekaligus bisa menjadi cara untuk menambah simpanan umum koperasi.

Dalam dua tahun, SASS berkembang pesat. Mereka kini punya banyak gerai penjualan produk di beberapa tempat. Antara lain, di Joyoboyo, Wadung Asri, Sukolilo, Perak, dan Sidoarjo. ”Misi kami untuk membantu anggota yang kesulitan sedikit banyak sudah tercapai,” imbuh Maria saat ditemui di kantornya, daerah Brebek Industri.

Pembentukan Koperasi SASS dan pengembangannya itu hanyalah awal. Kesuksesan koperasi tersebut ternyata menarik banyak orang. Bahkan, koperasi lain yang sedang mati suri tertarik dengan model pengembangan SASS. Padahal, penyebaran informasi itu sebatas mengandalkan pertemanan.

”Tapi, karena alumnus Sinlui ada di banyak tempat dan punya berbagai latar profesi, akhirnya info soal gerakan koperasi ini menyebar,” jelasnya.

Maria pun menjadi pembicara di mana-mana. Mulai Surabaya sampai Jakarta. ”Itu semua murni kerja sosial. Saya tidak dibayar,” kata ibu satu anak tersebut.

Bagi dia, dalam membantu orang itu ada kepuasan tersendiri. Dia mungkin saja kehilangan sejumlah uang untuk biaya akomodasi. Tapi, dia mendapat banyak doa untuk tetap sehat dan panjang umur. ”Iya memang yang doain jadi banyak. Semoga Bu Maria sehat dan bisa mengisi di sini lagi,” ujarnya.

Maria lantas menunjukkan dokumentasi foto saat dirinya didapuk sebagai pembicara dalam sebuah presentasi. Foto pada Januari 2015 itu memperlihatkan Maria sedang memaparkan materi tentang konsep bisnis mobile dan mini counter fast food. Kebetulan, bidang itu pula yang
saat ini dikembangkan SASS. Mereka berencana membuat restoran cepat saji yang bakal dinamai Beverly Fried Chicken.

Maria menuturkan, yang diajarkan memang tidak terlalu spesifik pada satu jenis bisnis secara detail. Tapi, yang disuntikkan pada tiap koperasi adalah pola bisnis yang bisa berkembang pesat. ”Selama ini seolah banyak koperasi yang mati suri,” tutur anak pertama di antara empat bersaudara tersebut.

Alumnus Universitas Surabaya itu menambahkan, pola bisnis itu tidak jauh dari yang sedang dikembangkan di SASS. Salah satunya adalah membuat koperasi bisa bermanfaat bagi anggotanya. Caranya dengan melibatkan anggota untuk berkecimpung secara langsung. Koperasi tidak boleh hanya membuka toko.

Herman Karawitan, 45, sekretaris SASS, menuturkan bahwa bantuan yang diberikan tidak memandang latar belakang suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Herman yang punya komunitas di gereja itu menularkan ilmu berwirausaha yang didapatkan di SASS kepada koleganya. ”Kebetulan, ada bagian yang mengurusi entrepreneur,” katanya.

Dia menambahkan, hasilnya lumayan. Ada banyak orang yang terbantu. Terutama mereka yang sudah pensiun dari pekerjaan, janda, dan orang kurang mampu lainnya. ”Setidaknya ada penghasilan tambahan,” ungkapnya.

Eva Nilawati, 34, anggota SASS, menyatakan bahwa bisnis yang dikembangkan itu juga cukup membantu keluarganya. Sejak awal dia memang suka berbisnis dan sekarang ingin mengembangkan bisnis berjualan ayam goreng krispi. ”Ilmunya saya dapat di 165419 SASS dan saya tularkan kepada mertua di Gunung Anyar,” tambahnya.

Maria menuturkan, pengembangan bisnis itu merupakan bagian dari usaha membantu orang lain. Tidak semata-mata demi profit. Peluang usaha tersebut juga bisa menambah penghasilan para anggota koperasi. Dia meyakini sedekah sosial itu akan mendapat balasan yang lebih baik dan banyak dalam bentuk lain. ”Mungkin tidak sekarang atau besok. Bisa saja nanti (diakhirat),” tuturnya. (*/c7/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 28 April 2015

Update: 28-04-2015 | Dibaca 4518 kali | Download versi pdf: Revolusi-Koperasi-Oleh-Maria-Elizabeth-Andriani.pdf