Jaga Rupiah, BI Rate Harus Naik Lagi


  • 17-04-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) sebaiknya segera menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, dari level 7,5 persen saat ini, sebelum nilai tukar rupiah terpuruk oleh meningkatnya risiko stabilitas keuangan global di tengah pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). Apabila suku bunga acuan tidak dinaikkan hingga kisaran 8 persen, tidak tertutup kemungkinan kurs rupiah bisa menembus level 14.000 rupiah per dollar AS.

"Di saat stabilitas perekonomian global meningkat dan perekonomian AS membaik, andalan kita untuk menjaga stabilitas rupiah sekarang ini hanyalah BI Rate. Sebab, mengandalkan instrumen yang lain sudah tidak mungkin lagi, apalagi melalui ekspor yang membutuhkan waktu panjang," kata pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto saat dihubungi, Kamis (16/4).

Dia menambahkan bersamaan dengan mengelola BI Rate agar menarik bagi investor, BI juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. “Intinya impor yang bersifat konsumtif harus diredam, kemudian kualitas ekspor ditingkatkan. Memang kompleks, tapi mau apalagi karena fundamental ekonomi kita rapuh sehingga tidak ada cara lain lagi kecuali meningkatkan BI Rate agar menarik bagi investor,” papar Wibisono.

Pendapat senada dikemukakan ekonom David Sumual, belum lama ini. Menurut dia, nilai wajar rupiah tahun ini sekitar 13.180-an rupiah per dollar AS. Fair value mata uang RI itu berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 5,3 persen, defisit neraca transaksi berjalan sekitar tiga persen, dan BI Rate di level delapan persen. Jika BI Rate tidak dinaikkan ke level delapan persen, fair value rupiah bisa lebih rendah dari itu.

"Kalau BI Rate tahun ini bertahan di 7,5 persen, berarti rupiah bisa lebih lemah dari itu (fair value), tetapi saya belum hitung lagi. Apakah bisa tembus 14 ribu? Bisa lemah dari itu," jelas dia.

Dengan demikian, David menilai jika pemerintah masih menginginkan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,7 persen, berarti akan ada stimulus moneter dengan menurunkan suku bunga acuan.

Padahal, jika ingin pertumbuhan kencang sementara permasalahan struktural belum diperbaiki, fair value rupiah semakin melemah. Nilai tukar rupiah pada transaksi antarbank di Jakarta, Kamis sore, menguat sebesar 139 poin menjadi 12.833 rupiah per dollar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi 12.972 rupiah per dollar AS.

Gejolak Pasar

Sementara itu, berdasarkan laporan Dana Moneter Internasional (IMF), kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (Fed Rate) dapat memicu gejolak pasar keuangan dan mendorong imbal hasil obligasi naik tajam. "Kenaikan tiba-tiba 100 basis poin dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bertenor 10 karena kenaikan suku bunga Fed, tampaknya semakin dekat. Pergeseran sebesar ini dapat menghasilkan guncangan negatif global, terutama di pasar negara-negara berkembang," kata Direktur Departemen Moneter dan Pasar Modal IMF, Jose Vinals. Ant/SB/YK

Sumber: http://www.koran-jakarta.com

Update: 17-04-2015 | Dibaca 4256 kali | Download versi pdf: Jaga-Rupiah--BI-Rate-Harus-Naik-Lagi.pdf