Rupiah Tetap Rawan Depresiasi


  • 04-02-2015
  • Fadjar Efendy Rasjid

Fundamental Ekonomi | Upaya Pemerintah Sulit Tahan Penurunan Mata Uang

JAKARTA – Pemerintah dinilai belum memiliki strategi untuk menyelesaikan permasalahan akut defisit transaksi berjalan sehingga kurs rupiah bakal rentan tekanan depresiasi ketika berhadapan dengan gejolak dari faktor internal maupun faktor eksternal.

Strategi pemerintah meningkatkan ekspor dinilai tidak fokus, bahkan mengabaikan peningkatan kualitas produksi nasional, sehingga tidak memunyai daya saing. Di sisi lain, impor masih sulit diturunkan meningat kebergantungan yang tinggi pada belanja pangan, energi, dan bahan baku industri dari mancanegara.

Nilai tukar rupiah pada transaksi antarbank di Jakarta, Selasa (3/2) sore, menguat 22 poin menjadi 12.663 rupiah dibandingkan sebelumnya di posisi 12.685 rupiah per dollar AS.

Penguatan rupiah itu akibat melemahnya mata uang AS terhadap mayoritas mata uang dunia termasuk rupiah merespons data manufaktur purchasing managers index (PMI) Amerika Serikat yang melambat. Mengenai tren depresiasi rupiah, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan pelemahan rupiah yang berkepanjangan tidak hanya disebabkan perekonomian Amerika Serikat yang membaik.

"Rencana The Fed (Bank sentral AS) menaikkan suku bunga bakal menyedot dollar mereka yang sebelumnya banyak tertanam di negara-negara lain sehingga melemahkan mata uangnya termasuk Indonesia, dan keadaan ini diprediksi akan terus berlanjut," jelas dia ketika dihubungi, Selasa.

Sebab lain, lanjut dia, fundamental ekonomi Indonesia yang masih lemah karena masih bertumpu pada ekspor komoditas primer yang tidak bernilai tambah, sedangkan negara lain sudah setengah jadi atau jadi. Ini menyebabkan daya saing global ekspor Indonesia sangat rendah.

Wibisono menilai selama ini belum terlihat keseriusan pemerintah memperbaiki kinerja industri hilir yang dapat memengaruhi kekuatan rupiah. Padahal pemerintahan sekarang harus membuktikan janjinya memperbaiki perekonomian, salah satunya merangsang tumbuhnya industri hilir yang punya nilai tambah baru, berbasis teknologi.

"Harusnya kita punya daya tawar dengan produsen-produsen luar yang banyak merakit produknya di Tangerang, Pasuruan dan lainnya agar terjadi transfer teknologi. Tanpa transer teknologi, riset yang cukup dan pola pikir kewirausahaan, kita akan sulit bangkit dari bangsa konsumtif," tegas dia.

Terus Merosot

Ekonom dari Universitas Indonesia, Chatib Basri, belum lama ini, juga memprediksi nilai tukar rupiah akan terus merosot tahun ini. "Hingga semester satu nanti sebesar 12.900-13.000 rupiah per dollar AS," ujar Chatib.

Angka ini lebih tinggi daripada asumsi APBN 2015 sebesar 11.900 rupiah per dollar AS. Chatib mengatakan nilai rupiah akan mengalami penurunan karena faktor eksternal dan internal mengalir mengikutinya. Chatib menekankan penurunan nilai tukar rupiah memang tidak bisa dihindari lagi. Apa pun yang dilakukan pemerintah, dia melanjutkan, tidak akan bisa menghentikan laju depresiasi rupiah.

"Situasi ekonomi seluruh dunia sedang turun, kecuali Amerika Serikat," jelas dia. Sementara itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada, Mudrajad Kuncoro, menambahkan arah kebijakan pemerintah saat ini masih jauh panggang dari api.

Target untuk meningkatkan ekspor 100 hingga 300 persen, namun kenyataannya belum terlihat arah restrukturasi yang jelas. "Arah tujuan ekspor dan komposisi dari produk ekspor sama sekali belum terlihat perubahan," ujarnya.

Badan Pusat Statistik melaporkan nilai ekspor Indonesia sepanjang 2014 mencapai 176,29 miliar dollar AS atau turun 3,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. n SB/YK/WP

Gambar dari http://www.koran-jakarta.com
Sumber: http://www.koran-jakarta.com

Update: 04-02-2015 | Dibaca 6218 kali | Download versi pdf: Rupiah-Tetap-Rawan-Depresiasi.pdf