Jerman Gandeng Kampus Desain Rotan Indonesia


  • 18-11-2014
  • Fadjar Efendy Rasjid

TEMPO.CO, Surabaya - Kementerian Perindustrian Jerman melalui pusat inovasi rotan Jerman Innovationszentrum Lichtenfels (IZL) menggandeng empat kampus untuk mempromosikan rotan Indonesia. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Surabaya (Ubaya), UK Petra, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi menciptakan desain furnitur modern.

"Januari 2016 kami akan mengadakan pameran di Cologne, Jerman untuk mempromosikan rotan," kata Jan Armgardt, pakar desain rotan asal Hochschule Aachen Fachbereich Design, kepada Tempo di Ubaya, Senin 17 November 2014. Selain kampus, Jerman juga bekerjasama dengan pusat rancangan rotan di Palu yang dan perusahaan berlokasi di Cirebon, di bawah Kementerian Perindustrian.

Jan mengakui bisnis furnitur di Eropa sedang lesu karena menurunnya perekonomian global. Namun ia optimistis kerjasama desain dengan mahasiswa Indonesia dapat mendongkrak citra rotan sebagai produk yang ramah lingkungan dan menjadi bagian dari gaya hidup. Selama setahun, mereka akan mendapatkan supervisi langsung dari IZL dan Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK). “Desain baru harus modern, dikombinasikan dengan material lain seperti besi dan bamboo.”

Pameran di Cologne rencananya bakal memamerkan berbagai produk furniture kreasi 20 institusi, perusahaan, dan universitas. Sebagai pusat pasar furniture Eropa, rotan popular di sana sejak 1800-an. Jan sendiri terpikat meneliti rotan sejak 30 tahun yang lalu. “Rotan perlu dipromosikan sebagai material alternatif yang murah namun dengan desain yang cocok untuk pangsa premium.” Di samping ringan, rotan memberikan atmosfir teduh pada interior ruangan.

Dosen Desain Manajemen Produk Ubaya, Kumara Sadana Putra mengatakan, keenam mahasiswanya akan mengikuti workshop hingga November 2015. “Sekitar satu tahun mereka bikin prototype untuk dipamerkan di Jerman.”

Pameran dan workshop itu dilakukan juga untuk mengembalikan citra Indonesia. Rotan, kata Manajer Program PUPUK Santi N. Susanti, masih mendapat stigma negatif oleh pasar Eropa. Mereka menganggap rotan produksi Indonesia merusak lingkngan. “Kali ini kami ingin promosikan bahwa dengan budidaya rotan, Indonesia memberdayakan hutan karena bukan rotan yang hidup di alam liar.” Tujuannya agar bisnis tetap berlanjut dan turut menjaga kelestarian hutan.

ARTIKA RACHMI FARMITA

Sumber: www.tempo.co
Gambar: Kerajinan rotan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Update: 18-11-2014 | Dibaca 7616 kali | Download versi pdf: Jerman-Gandeng-Kampus-Desain-Rotan-Indonesia.pdf