Modus Baru Korupsi, Libatkan Pejabat Dan Intelektual


  • 28-05-2013
  • Fadjar Efendy Rasjid

Sulitnya bongkar kasus korupsi

LENSAINDONESIA.COM: Modus operandi korupsi sekarang semakin terorganisir. Karenanya semakin sulit sulit membongkar kajahatan yang merugikan uang negara ini.

Tengara ini disampaikan oleh Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Muhammad Yusuf.  Selain itu juga melibatkan pejabat dan kaum intelektual.

"Para pelaku ini seringkali tidak terlibat langsung dalam aksi kejahatan korupsi ini, hingga menimbulkan rantai kejahatan yang panjang. Itu mereka lakukan agar dapat memutus mata rantai alat bukti," tutur Yusuf di di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), dalam acara Kuliah Umum yang bertema  Rezim Anti Pencucian Uang di Indonesia, Kamis (23/5/2013).

Dijelaskannya, umumnya, modus pencucian uang dilakukan dengan memecah transaksi dari jumlah uang besar menjadi kecil-kecil. Namun dari transaksi dari yang semula kecil, makin lama semakin besar dibawah batas minimum pelaporan.

“Kalau sudah begitu, mereka memutar balikkan transaksi,  untuk kemudian dikembalikan ke rekening asalnya,” papar Muhammad Yusuf.

Muhammad Yusuf juga memberikan tips bagi para penggiat anti korupsi, bagaimana menelusuri dugaan adanya korupsi. Diantaranya dengan mengidentifikasi dan melakukan analisis transaksi keuangan mencurigakan. Kemudian, dilakukan penelusuran aset pelaku kejahatan. Dilanjutkan strategis, seleksi pejabat strategis,” tandasnya. @rakhman_k

Sumber: http://www.lensaindonesia.com

Keterangan gambar: Muhammad Yusuf, (kiri) Kepala Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan, memberikan seminar di Ubaya.(Foto: abdurrahman Khairiry) Lensa Indonesia

Update: 28-05-2013 | Dibaca 9816 kali | Download versi pdf: Modus-Baru-Korupsi--Libatkan-Pejabat-Dan-Intelektual.pdf