Ada Kekerasan Dalam MOS? Jangan Takut Lapor!


  • 06-08-2012

Masa Orientasi Bersama (MOS) sebenarnya merupakan masa-masa dimana siswa pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah. Pada masa tersebut, siswa-siswa baru tentunya tengah beradaptasi dengan lingkungan. Tetapi belakangan ini MOS, yang harusnya menjadi kenangan terindah para siswa, telah dinodai dengan kekerasan.

Kekerasan merupakan sikap yang cenderung memiliki konotasi negatif dan seringkali merugikan orang lain. Kekerasan dari sisi psikologisnya adalah suatu tindakan yang bisa dikategorikan sebagai bullying. Karena banyak alasan, orang-orang bisa saja melakukan kekerasan. Sama halnya dengan kekerasan yang terjadi di MOS atau ospek SMA, kekerasan itu bisa muncul karena beberapa hal.

Ditinjau dari sisi psikologis, yang menjadi alasan pertama adalah MOS merupakan masa inisiasi dimana langkah awal ada pengenalan strata junior dan senior. Hal ini sering salah kaprah dimana stratafikasi sosial ini diekspresikan dengan cara menyuruh-nyuruh junior hingga melakukan kekerasan. Repotnya, hal itu bisa menjadi budaya dimana strata yang lebih tinggi lebih bertanggung jawab malah merasa membenarkan diri untuk mem-bully strata di bawahnya. Alasan keduanya yaitu memang masa SMA atau masa remaja adalah masa identitas. Ada stratafikasi yang menguat karena pencarian jadi diri dimana sama-sama ada kebutuhan diantara kedua pihak baik pelaku maupun korban. “Si pelaku biasanya mem-bully agar memperoleh pengakuan dia adalah senior. Sedangkan si korban hanya diam karena dia perlu masuk ke dalam kelompok senior-seniornya dan hidup dalam lingkup itu,” jelas Ananta Yudiarso SSos MSi, dosen Psikologi Sosial.

Biasanya orang-orang bilang itu balas dendam karena memang pernah di-bully atau dijadikan korban kekerasan. Menurut Ananta, yang benar adalah si pelaku pada masa saat dia dijadikan korban kekerasan, dia juga belajar dan membenarkan tindakan tersebut hingga dia menirunya dan menganggap itu hal yang biasa. “Bahayanya, rasionalisasi ini bisa berlokomotif hingga ke lingkup yang lebih luas hingga terbawa ke lingkup masyarakat di mana saja dia bersosialiasi,” tutur penghobi traveling dan hiking ini.

“Korban yang diam karena merasa sudah kalah bisa memperoleh dampak hingga trauma parah. Tidak sampai di situ saja, penonton tindak kekerasan yang tidak menjadi pelaku atau korban pun tanpa sadar mengalami pembelajaran tentang kekerasan secara implicit learning. Parahnya, mereka juga bisa saja menjadi pelaku nantinya,” tutur Ananta.

Dosen yang telah mengajar di FP Ubaya selama hampir 8 tahun ini menyatakan bahwa solusi yang tepat yaitu bubarkan saja ospek yang seringkali afilasinya tetap negatif walau berganti nama menjadi MOS. Karena pengenalan lingkungan sekolah yang baik bukanlah hal instant dalam 1-2 minggu saja. Lantaran proses adaptasi awal yang diajarkan pada MOS dengan warna kekerasan itu adalah hal yang sangat salah.

Menurutnya, proses adaptasi yang baik seperti adanya penerapan di negara-negara maju, yakni Summer Camp dan Student Camp. Teladan itu bisa menjadi solusi alternatif, namun butuh kesadaran tinggi dari guru dan kakak angkatan. “Bagi korban, jangan takut untuk ceritakan pada orang sekitar. Beranikan diri menyatakan tidak terima atas perlakuan seperti itu. Saya kira kedua hal ini cukup untuk mencegah kekerasan di MOS. Namun semua ini cukup berat, karena butuh keberanian besar dari korban itu sendiri,” tutup Dosen kelahiran Ngawi ini. (gun)

Update: 06-08-2012 | Dibaca 6844 kali | Download versi pdf: Ada-Kekerasan-Dalam-MOS--Jangan-Takut--Lapor-.pdf