INDONESIA GREEN AWARD Tidak Hanya Bermodal Kampus Hijau


  • 19-07-2012

Bumi ini bukanlah milik mereka yang cinta lingkungan saja, namun merupakan milik kita semua yang hidup di dunia ini. Seiring berkembangnya teknologi, banyak orang yang tak sadar telah merusak lingkungan. Perilaku malas dan kurang peduli terhadap lingkungan menjadi faktor utama memburuknya kondisi lingkungan. Hingga akhir-akhir ini muncul permasalahan besar yang harus dihadapi penduduk bumi ini, yaitu global warming. Sempat juga muncul isu-isu bahwa air akan menjadi sesuatu yang amat sangat berharga di masa akan datang.

Dibalik kampus Ubaya yang tampak hijau, ternyata Ubaya tengah mengembangkan banyak program peduli lingkungan. Program-program tersebut disalurkan oleh Ubaya melalui subsistem Pusat Studi Lingkungan (PSL) dan Pusat Studi Energi Terbarukan (PSET). Dimana PSL yang berfokus terhadap studi pengelolaan air dan sanitasi, sedangkan PSET berfokus pada studi energi alternatif.

Simpati Ubaya terhadap kelestarian lingkungan tersebut membuahkan hasil yang memuaskan. Tepat 10 Juli 2012 lalu, Ubaya memperoleh penghargaan INDONESIA GREEN AWARD 2012 kategori: Green Campus yang diwaliki oleh Rektor Ubaya, Prof. Ur. Joniarto Parung MMBAT, Ph.D di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementrian Kehutanan RI, Kementrian Perhutanan RI, The La Tofi  School of CSR, dan Majalah Bisnis & CSR. Penghargaan ini diberikan kepada instansi yang peduli terhadap lingkungan, dan Ubaya merupakan salah satu dari empat kampus yang memperoleh penghargaan kategori Green Campus di Indonesia.

“Award ini tidak menilai dari bentuk fisik area hijau kampus saja. Namun program dan komitmen untuk peduli lingkungan yang dimiliki oleh universitas menjadi sorotan tersendiri,” tukas Prof Joni. Tidak hanya bermodalkan lahan hijau seluas 25,7% dari area kampus saja, namun komitmen dan program yang disalurkan melalui PSL dan PSET ini yang menjadikan Ubaya layak menerima award istimewa ini.
“Parameter award ini tidak hanya bentuk fisik lahan hijau yang dimiliki oleh Ubaya saja. Namun ada beberapa poin plus keunggulan Ubaya dalam rangka peduli lingkungan,” tutur Yunus Fransiscus, S.T. M.Sc., ketua Pusat Studi Lingkungan Ubaya. Hal yang utama adalah komitmen untuk membangun ecological school dan menularkan perilaku hijau kepada mahasiswa serta masyarakat sekitar.

Yunus memaparkan bahwa Ubaya memiliki program-program yang menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan sebagai berikut:  pertama, danau di kampus III Ubaya sebagai Rainwater Harvesting Tank. Mengingat isu adanya krisis air bersih di masa akan datang, Ubaya menggunakan danau sebagai penampung air hujan, yang nantinya akan digunakan untuk menyirami tanaman. Jadi air bersih bisa terhemat dari pemakaian penyiraman tanaman. Kedua, solar Panel System untuk pencahayaan tanaman. Ketiga, sistem kloset berbasis ecological sanitation yang dipasang di sebagian besar toilet di kampus III Ubaya. Sistem kloset ini memisahkan antara faeces dan urine, untuk kemudian dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos dan pupuk cair. Keempat,  pengolahan limbah cair dengan pendekatan fitromediasi Limbah cair dari aktivitas yang dilakukan oleh Ubaya, dikoleksi di tempat penampungan untuk kemudian diolah dengan pendekatan fitromediasi yang memanfaatkan tanaman untuk menyerap nutrient berlebih di air buangan tersebut. Sehingga air menjadi bersih terbebas dari pencemaran limbah. Kelima, sarana pengolahan Kompos oleh PUSDAKOTA. Keenam, program penularan perilaku hijau terhadap masyarakat sekitar

    Program ini disalurkan melalui klub mahasiswa Ubaya peminat isu lingkungan yang bernama d’YoungGREEN (dYG). Mereka terjun ke masyarakat untuk menularkan perilaku hijau atau peduli lingkungan kepada masyarakat sekitar, contoh kecilnya adalah pendampingan pembuatan kompos dan pelatihan pembuatan kerajinan tangan melalui barang bekas.

    Menutup wawancara, Yunus berpesan, “Jangan puas dulu hanya dengan award ini. Justru award ini merupakan tanggungjawab yang harus kita pikul lebih lagi. Kita harus mempertahankan dan menularkan perilaku hijau ke masyarakat.” Tidak hanya bermodalkan kampus yang hijau saja, namun awal dari semua ini adalah perilaku hijau mahasiswa. “Bagi kalian yang merasa mahasiswa, tunjukkan perilaku hijau kalian mulai dari hal yang paling kecil, yaitu buang sampah pada tempatnya. Terima kasih,” tutup Yunus. (asp/wu)

Update: 19-07-2012 | Dibaca 7988 kali | Download versi pdf: INDONESIA-GREEN-AWARD-Tidak-Hanya-Bermodal-Kampus-Hijau.pdf