Mari E. Pangestu: Komunitas Kreatif Tidak Boleh Mati


  • 14-07-2012

Indonesia adalah Negara yang kaya akan budaya dan masyarakat yang kreatif. Berbagai budaya Indonesia memiliki daya tarik yang tersendiri. Hanya saja tinggal dipersiapkan sumber daya yang perlu disediakan sejak awal. “Luar biasa, sumber daya yang utama untuk memajukan industri kreatif adalah sumber daya manusia. Indonesia memiliki 50% penduduk yang tergolong muda dengan usia kurang dari 29 tahun, aspek muda ini mendorong ekonomi kreatif dimana dapat menciptakan nilai tambah. Yang paling berpotensi digali di Indonesia adalah warisan budaya, contohnya Batik. Untuk fasion, desain, musik, dan lainnya dalam Jawa Timur saja terdapat 32 kurasi,” jelas Mari Elka Pangestu Ph.D.

Tentu saja kreatifitas tidak lepas dari kemampuan otak kanan mengolah informasi yang memiliki kemampuan berpikir untuk berimajinasi dan berpikir berbeda. Namun sangat disayangkan sejak kecil seringkali penduduk Indonesia dibiasakan untuk terpenjara dalam otak kiri. “Otak kiri dan otak kanan harus simultan dan bekerja sama. Pada sisi formal, cara mengajar yang menjadikan manusia kreatif dimana being different harus dipuji dan memberikan nilai positif pada saat tidak seragam. Lalu memang kurikulum Indonesia dengan membandingkan tempat studi Saya di luar negeri, dapat Saya pandang tidak membiasakan orang berani untuk bicara. Lalu pada sisi informal, keberadaan sanggar tari dan komunitas kreatif lokal tidak boleh mati dan dilindungi sebagai bukti kreatifitas yang berkembang,” jelas Mari Elka Pangestu.

Yang menarik dalam pandangan Menparekraf adalah hal penting dalam ekonomi kreatif adalah aspek bisnis yang beregenerasi dan diperlukan 2 unsur yaitu sejahtera dan bahagia. Sejahtera dimaknai dengan apapun yang dilakukan ada aspek bisnis dan ekonominya dan bahagia karena pelaku mencintai dan bangga dengan apa yang dia lakukan.

Menteri RI ini juga mengatakan, “Aspek bisnis dan seni sama pentingnya dalam industri kreatif yakni Art for Art Sake dimana ”. Beliau menambahkan bahwa batik yang merupakan kesenian asli Indonesia bisa meledak pada tahun 2005 juga karena isu negara tetangga akan mencuri itu. Mari Elka Pangestu mengaku bahwa tradisional adalah hal yang penting untuk dilindungi dimana dapat menjadi cikal bakal komersial dimana tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak menginspirasi hanya saja ada tantangan ke depannya yang perlu dihadapi dengan serius yakni bagaimana mendorong sumber daya manusia yang kreatif, bagaimana menjaga warisan budaya bangsa, dan bagaimana melindungi kearifan lokal, lalu ditambahkan dengan mengikuti perkembangan teknologi kini. “Saat ini saja jarang sekali ada orang yang memiliki handphone hanya 1 dan banyaknya teknologi itu bisa dimanfaatkan untuk memajukan ekonomi,” tuturnya.

Mari Elka Pangestu menambahkan bahwa memang harus dikawinkan antara entrepreneur dan jiwa seni yang kreatif. Lalu beliau menjelaskan ada 2 hal yang dapat dilakukan seniman negeri ini yakni mengikuti pasar atau menciptakan tren dimana menciptakan tren lebih sulit daripada mengikuti pasar karena untuk menciptakan tren butuh proses panjang. Seiring berkembangnya masa dan berganti era, seni yang sederhana cenderung lebih disukai daripada kekayaan intelektual yang tinggi dan kreatif. “Yang diperlukan untuk mengatasi hal itu adalah gelombang dalam negeri dahulu dimana secara internal memperkuat komunitas. Contohnya di Bubut, Bali terdapat Jazz Café yang terkenal karena sebagai tempat uji coba lagu-lagu selebriti internasional seperti Beyonce,” kata Menparekraf dengan bangga. Lalu tidak hanya itu, beliau menambahkan acara festival yang berpotensi beraspek bisnis seperti Jakarta Fashion Week lalu pada acara itu diharapkan terjadi transaksi pada tingkat B to B (Business to Business). Dalam aspek bisnis, Industri Kreatif Indonesia juga dapat maju dengan didukung Power of Social Media sebagai media publikasi mengingat Indonesia adalah 4th The Biggest Facebook Users In The World.

Menparekraf mengatakan seperti halnya Thailand yang menawarkan makanan bersamaan dengan budaya dan kesenian yang komplit, tidak dapat disangkal lagi kuliner Indonesia pasti juga tidak akan kalah. Beliau menambahkan bahwa pada Forum Diaspora Indonesia lalu yang dihadiri 2.000 orang pada sesi kuliner sebagai industri kreatif dibahas tentang masakan Indonesia dan memang dapat menjadi wadah promosi Indonesia yang cukup kuat. Namun ironisnya, tidak sebanyak Chinese Resto yang mampu membangun 28.000, di berbagai penjuru dunia hanya terdapat 52 Indonesian Resto dan ini merupakan PR bersama dan sudah dipikirkan sebagian yakni Indonesia harus punya National Iconatic dan yang diperkirakan menjadi Icon adalah rendang, nasi goreng, mie goreng, sate, dan soto. Wanita yang tidak asing dengan pariwisata ini mengatakan bahwa seorang teman dari luar negeri juga mengakui masakan Indonesia termasuk unik dan bisa dikatakan Flavorfull dimana dapat dirasakan sour, sweet, spicy, and salty at the same time dan mampu menjadi daya tarik masakan Indonesia. “Kemudian seperti K-Pop yang sukses, Saya harapkan ada I-Pop berkembang, dan juga mungkin nanti seperti Hollywood dan Bollywood, juga muncul Indowood dan Industri Kreatif Indonesia bisa lebih kaya lagi, tapi semua butuh proses dan kita mulai dari taraf nasional dulu,” tutup beliau. (gun)

Update: 14-07-2012 | Dibaca 6284 kali | Download versi pdf: Mari-E--Pangestu--Komunitas-Kreatif-Tidak-Boleh-Mati.pdf