Pressure Pada Lingkungan Akibat Manusia Sendiri


  • 13-10-2011

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, kita diajarkan bahwa Indonesia dibagi ke dalam dua periode musim. Periode pertama adalah bulan April-September yang merupakan musim kemarau, dan bulan Oktober-Maret yang merupakan musim penghujan.

Sekarang, seiring berkembangnya teknologi yang semakin modern sekarang ini, perbedaan pergantian musim tersebut malah menjadi semakin kabur. Kemajuan teknologi yang pesat justru tidak diimbangi dengan perkembangan lingkungan yang sehat. Yunus Fransiscus ST MSc, kepala Pusat Studi Lingkungan Ubaya menuturkan bahwa perubahan musim yang semakin tidak kentara tersebut merupakan salah satu indikasi pola lingkungan yang sudah sangat berbeda dari waktu ke waktu.

Mengapa berbeda? Pria berkulit putih ini menuturkan perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh pressure terhadap bumi yang semakin meningkat. ”Pressure terbesar yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah aktivitas manusia sendiri,” tuturnya. Berbagai aktivitas manusia yang mempengaruhi lingkungan tersebut di antaranya adalah pencemaran akibat limbah, pembuangan sampah gas, padat, maupun cair, serta eksplorasi SDA yang berlebihan.

Pria yang sehari-hari mengajar di Fakultas Teknik ini menjelaskan, pencemaran lingkungan adalah proses masuknya zat asing yang seharusnya tidak diterima ke dalam sistem lingkungan dalam jumlah yang besar. Penerimaan zat asing yang tidak seharusnya inilah yang menyebabkan pergantian musim menjadi bergeser dan tak tentu. “Bahkan kualitas musim juga menjadi semakin menurun,” ujarnya. Yunus mencontohkan curah hujan yang tidak merata di berbagai tempat, area yang dulu tidak banjir sekarang banjir, hingga kenaikan suhu udara dan kekeringan, sebagai bukti nyata dari penurunan kualitas musim.

Terkait semua hal itu, Yunus menjabarkan banyak hal konkrit yang sebenarnya bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengelola lingkungan menjadi lebih baik. “Pertama tentu kita mulai dari level individu atau rumah tangga, mari kita coba untuk sesedikit mungkin menghasilkan limbah, misalnya menghemat penggunaan tas plastik, AC, listrik, air, dan berbagai penyebab limbah lainnya,” ucap Yunus. Pada level industri, pengajar mata kuliah Pengetahuan Lingkungan Hidup ini mengungkapkan bahwa industri harus mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan, proses produksi dengan skala efisiensi yang tinggi, serta melakukan pengolahan limbah industri menjadi limbah yang tidak memberikan dampak negatif yang besar.

“Substitusi bahan-bahan baku yang bergantung sepenuhnya pada alam juga harus mulai dilakukan agar tidak semakin merusak alam. Di sinilah peran kita sebagai orang-orang di institusi akademik untuk mentransfer ilmu kita menjadi suatu teknologi yang berguna.” urainya panjang lebar. Lebih jauh, dosen yang juga mengajar mata kuliah Teknologi Pengelolaan Air Buangan ini menegaskan, upaya pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak dengan background tertentu. “Semakin banyak orang dari berbagai latar belakang yang terlibat, akan semakin bagus dampaknya,” tambahnya.

Yunus juga berharap agar para mahasiswa yang notabene kaum muda memiliki awareness terhadap keadaan lingkungan. Kesadaran akan lingkungan yang dimaksud dapat dilakukan mulai dari hal yang sederhana seperti membiasakan diri untuk membuang sampah di tempatnya, hingga yang berskala kompleks seperti memikirkan bagaimana kita dapat mengaplikasikan ilmu kita untuk menghasilkan terobosan baru bagi alam. “Pengelolaan lingkungan yang dipoles dengan kreativitas ilmu pasti akan menghasilkan terobosan baru untuk melindungi lingkungan,” pesannya. (caz/wu)

Update: 13-10-2011 | Dibaca 4581 kali | Download versi pdf: Pressure-Pada-Lingkungan-Akibat-Manusia-Sendiri.pdf