Boleh Bebas Tapi Harus Bertanggung Jawab


  • 28-10-2010

Di masa kini, sarana transportasi adalah salah satu infrastrukur utama dalam kehidupan masyarakat. Seiring terus berkembangnya sarana transportasi,  jumlah pengguna kendaraan pribadi pun makin meningkat. Tidak hanya kendaraan roda empat, melainkan juga kendaraan roda dua. Menanggapi fenomena ini, tidak ada salahnya untuk bertanya pada Marselius Sampe Tondok SS MSi, selaku dosen FP.  

Marselius mengungkapkan, ada dua faktor yang mugkin melatarbelakangi mengapa jumlah kendaraan semakin hari semakin meningkat, “Pertama mungkin seseorang membeli kendaraan memang untuk memenuhi kebutuhannya, dan faktor yang kedua hanya untuk mengikuti life style,” ungkapnya.

“Selain itu juga banyak aspek yang dapat menjadi pertimbangan,“ lanjut Marselius. Yang pertama dapat kita lihat adalah aspek ekonomi. “Karena sekarang ekonomi masyarakat makin membaik, maka masyarakat dapat dengan mudah membeli kendaraan,“ jelasnya Kemudian, jika ditinjau dari aspek psikologi, adalah karena adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhannya atau sekedar memenuhi hasrat konsumerisme saja. Selain itu, dari aspek sosial, adalah sifat dasar  masyarakat yang ingin menunjukkan kesuksesan mereka melalui suatu simbol. Simbol itu bisa berupa bukti bahwa seseorang mempunyai kendaraan yang bagus, sehingga bisa mengundang pengakuan sosal bagi diri mereka. “Tidak hanya pengakuan sosial, tetapi bisa jadi harga diri merekalah yang ingin mereka tunjukkan kepada orang lain atau orang yang ada di sekitarnya,“ ucap Marselius lagi. Pria ramah ini menuturkan bahwa semakin mahal atau mentereng kendaraan yang dibeli oleh seseorang, maka  orang tersebut akan  merasa harga dirinya lebih tinggi dibanding ketika hanya membeli kendaraan yang biasa-biasa saja. “What you have, is what you are,“ tutur Marselius berfilosofi.

Dosen berkacamata ini juga tidak lupa menjelaskan bahwa zaman sekarang ada pergeseran makna kata sukses yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Contohnya , kalau beberapa tahun lalu orang di katakan sukses adalah orang yang mendapatkan kesempatan menuntut ilmu hingga perguruan tinggi atau seseorang yang memiliki banyak anak. Tetapi jaman sekarang, sukses cenderung ke arah materialistik. “Maksudnya, kesuksesan seseorang lebih ditunjukkan secara simbolis, yaitu dapat membeli benda-benda yang mahal, salah satunya kendaraan,“ urainya. “Kalau di lihat dari segi psikologisnya kembali lagi ke pemaknaan barang tersebut. Jangan sampai orang di perbudak oleh keinginan atau materi, sebab keinginan itu tidak ada batasnya,“ tegasnya lagi.

Ditinjau dari sisi psikologi, dosen yang mengajar psikologi sosial ini juga menjelaskan bahwa perilaku manusia dibagi menjadi dua, yatu internal dan eksternal. Perilaku Internal adalah pribadi kita. Sedang perilaku eksternal adalah perilaku kita yang kita dapat dari lingkungan sosial, serta sulit mudahnya kita dalam melakukan suatu perilaku. Maka dari itu, adalah penting untuk menjaga agar hubungan antara internal dan eksternal kita berjalan secara seimbang. “Jangan bertindak hanya untuk memuaskan keinginan kita sendiri saja. Kita boleh bebas, tapi bebas yang harus bertanggung jawab.“ Pesannya.

Lebih jauh, Marselius juga menguraikan bahwa tren meningkatnya konsumsi kendaraan di masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi birokrasi saat ini. “Seharusnya dari pihak pemerintahan pun juga di benahi. Terutama masalah kebijakan-kebijakan yang berlaku,“ urainya. Marselius mencontohkan, adanya kredit kendaraan roda empat maupun roda dua yang murah dan mudah dibuat turut mempengaruhi masyarakat untk membeli kendaraan semaunya. “Seharusnya pemerintah membuat kebijakan yang dapat membatasi masyarakat dalam membeli kendaraan. Contohnya pemerintah membuat kebijakan masalah kredit di persulit, agar orang tidak membeli semaunya, adanya batas maksimal pembelian kendaraan dalam 1 keluarga atau individu, atau pajak untuk kendaraan di naikkan. Sehingga membuat masyarakat untuk membeli kendaraan berpikir panjang untuk konsekuensinya,“ tegas Marselius.

Mempunyai kendaraan pribadi juga tidak berarti bebas dari kendala. Dari segi ekonomi, kita bisa menjadi makin boros dalam membeli bahan bakar atau dalam memperbaikinya jika ada yang rusak. Dari segi psikologisnya, jika kita sedang dalam kemacetan, jiwa kita semakin lebih emosional. Jika kita lebih memilih kendaraan umum, mungkin kemacetan yang biasa kita hadapi akan berkurang. Tetapi kebanyakan orang akan berpikir berkali-kali untuk naik kendaraan umum. “Oleh karena itu, pihak pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk memudahkan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Contohnya untuk pajak kendaraan umum, bisa di rendahkan, fasilitas yang ada dibenahi lagi, sehingga masyarakat lebih nyaman dan aman untuk memilih kendaraan umum daripada harus mengeluarkan uang lebih untuk kendaraan pribadinya,“ tutup Marselius. (re5, caz)

Update: 28-10-2010 | Dibaca 5006 kali | Download versi pdf: Boleh-Bebas-Tapi-Harus-Bertanggung-Jawab.pdf