Kompleksitas Tinggi, Pelaku Ekonomi Harus Terus Berinovasi


  • 14-10-2019

Transportasi online telah menjadi alat yang tidak bisa dilepaskan bagi keseharian beberapa orang. Bagaimana tidak, kini layar handphone kita mampu memenuhi kebutuhan kita. Mobilisasi, makan minuman, layanan servis mobil, bahkan layanan bersih-bersih rumah juga bisa kita pesan di aplikasi yang sama. Diskon yang besar ditawarkan untuk persaingan antar aplikasi yang lain, lalu muncul isu bahwa pemerintah akan membatasi diskon tersebut. Lalu bagaimana? Untuk memahami lebih jauh fenomena ini, maka kami mewawancarai Dr. Deddy Marciano S.E., M.M., CSA., CBC., Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya sekaligus Konsultan, Peneliti, dan Trainer untuk Bank Indonesia. Simak wawancaranya berikut ini!

Q: Dengar-dengar beberapa alat pembayaran seperti GoPay dan Ovo memberi diskon supaya terjadi persaingan sehat. Kenapa seperti itu ya pak?

A: Persaingan yang sehat itu, diserahkan ke mekanisme pasar. Tapi perlu diperhatikan terkait transportasi online kita harus paham 2 hal. Pertama, kalau kita bicara sistem pembayaran—misalOvo dan GoPay, itu diatur oleh BI. Karena memang salah satu area bank Indonesia. Tapi terkait pengenaan tarif untuk transportasi online itu diatur oleh Kementrian Transportasi.Inidua area yang berbeda. Masalahnya adalah Ovo, GoPay itu memberikan diskon. Yang memberikan diskon bukan Grab atau Gojek tapi sistem pembayaran ini. Ini tidak bisa dimasuki oleh Kementrian Transportasisebab Ovo dan GoPay itu bukan sistem transportasimelainkan areanya lembaga keuangan.

Q: Berarti wacana pengaturan ini tidak mudah ya pak?

A: Ya. Grabdan Gojek itu diatur oleh kementrian transportasi, sementara OVO dan GoPay diatur oleh BIdan diawasi OJK. Kalau lembaga keuangandiawasi oleh OJK. Tapi kalau ada bisnis sistem pembayaran, harus tunduk pada Bank Indonesia. Kavlingnya beda. Pengawasan OJK, BI, dan Kementrian Transportasi. Tidak mudah mengelola kebijakan itu. Misal Kementrian Transportasi ranahnya mengatur batas atas dan bawah. Bukan ranah membatasi diskon, karena yang atur diskonnya GoPay dan Ovo.Bukan dari Grab ataupun Gojek. OJK tidak bisa mengatur karena hanya mengawasi bukan mengatur.

Q: Tidak bisa langsung di ‘patas’ oleh Bank Indonesia atau OJK begitu Pak?

A: Kalau kita bicara soal Bank Indonesia sebelum adanya Otoritas Jasa Keuangan sebenarnya ada tiga tugas utama bank Indonesia. 1) Kebijakan moneter, 2) Sistem pembayaran, dan 3) Pengawasan bank. Itu tiga fungsi Bank Indonesia. Tapi sejak munculnya OJK maka satu fungsi dilimpahkan ke OJK yaitu pengawasan bank. OJK tidak hanya mengawasi bank komersial, bisa jadi lembaga keuangan (koperasi simpan pinjam, dsbnya). Jadi semua lembaga keuangan di Indonesia diawasi oleh OJK. Sehingga kemudian bank Indonesia tinggal 2 fungsi, kebijakan moneter dan fungsi sistem pembayaran. Terkait dengan moneter, ada yang harus dijaga yaitu inflasi dan nilai tukar. Jadi bagaimana bank Indonesia bisa menstabilkan nilai tukar dan mengendalikan inflasi.

Q: Jadi saya konfirmasi lagi, meminimalisir diskon itu ‘sangat’ tidak mudahya Pak?

A: Iya, karena itu area yang tidak tersentuh. BI sangat Independen yang tidak bisa seenaknya diatur oleh pemerintah. Sekalipun dia berkoordinasi dengan Kementrian terkait, tapi dia independenmenjalankan tugasnya.

Q: Berarti adanya bisnis model baru ini sangat menantang ya Pak?

A: Betul, sebab bisnis model baru membuat pengaturansemakin kompleks. Membuat kebijakannyatidak mudah karena, karena kompleksitasnya sudah mulai tinggi. Seperticontoh kasus Grab dan Gojek, tidak mudah sebab ada kavlingnya sendiri. Terlihat dari luar satukesatuan, tetapi di dalamnya benar-benar kompleks. Hal ini membuat pengaturan ekonomi dan pembuatan kebijakan semakin sulit.

Q: Berarti kalau saya simpulkan, dahulu dan sekarang banyak perubahan. Perbedaan terbesar dulu dan sekarang apa?

A: Perubahan gaya hidup. Itu menyebabkan adanya bisnis yang survive dan ada yang out of date. Banyak mall mulai tutup gerai. Kenapa? Karena ada perubahan ekonomi. Orang mungkin menyalahkan pemerintah, tetapi kalau kita bicara ekonomi sepi ya tidak sepi-sepi amat. JNE malah penuh. Pertumbuhan diatas 10% per tahun. Kalau kita bilang ekonomi sepi ya tidak mungkin, transportasi onlinejuga marak. Kalau ekonomi sepi mereka angkut apa?

Q: Sebenarnya ekonomi tidak sepi?

A: Tidak, hanya berubah bentuk. Perusahaan yang bisa beradaptasi akan semakin besar. Yang tidak bisa beradaptasi ya akan mati. Bagi perusahaan yang bisa adaptasi dengan kondisi perubahan gaya hidup, gaya belanja, dsbnya—maka akan menikmati manfaatnya. Tapiada bisnis-bisnis yang sudah tidak match lagi. Bank salah satunya. Banyak yang mulai mengurangi cabang-cabang. Mulai online, orang jarang ke bank. Teller sudah berkurang, dsbnya.

Nah ada perubahan yang signifikan. Perusahaan taksi contohnya. Artinya ada yang survive adayang tidak. Muncul perusahaan baru yang lebih efisien, lebih mudah. Kalau perusahaan besar susah adaptasinya. Ini yang size nya lebih kecil jadi lebih murah, lebih lincah, yang besar-besar ini nggak mudah investasinya, nggak lincahsebab biaya terlalu besar. Bayangkan orang sekarang sangat sensitif dengan harga. Kalau naik angkutan online pasti membandingkan. Beda beberapa ribusaja kita sudah pindah. Orang dengan sangat mudah membandingkan menilai berdasarkan murah tidaknya, karena lebih efisien dan lebih bermanfaat.

Q: Berarti, bila semakin ramaibisnis yang online akankah merubah kebijakan-kebijakan?

A: Pasti akan kompleks.Perusahaan startup teknologi pasti akan sangat kompleks. Fintechpasti akan sangat kompleks. Ovo dan GoPay adalah salah satu jenis fintech. Belum lagi fintechinvestasi, crowdfunding, atau P2P lending (penawaran pinjaman).Area itu di OJK. Kalau fintechmungkin perlu pengawasan dari OJK. Mungkin juga terkait dengan sistem pembayaran, jadi kalau OJK terkait fungsi sebagai lembaga keuangandan kelembagaan. Tapi kalau terkait sistem pembayaran, harus tunduk pada sistem di Bank Indonesia. Dengan banyak sekali munculnya fintechkan semakin perlu diawasi. Karena akan banyak yang bermasalah dan akan menurunkan kepercayaan pada lembaga keuangan. Harus dijaga dengan baik karena akan berdampak pada perekonomian.

Q: Menurut bapak, apakah kompleksitas hal yang baik? Ataukah buruk?

A: Kompleksitas ini muncul untuk membuat hidup kita lebih mudah, lebih nyaman. Selama itu bermanfaat untuk masyarakat, maka mereka otomatis memilih. Satunya murah, satunya mahal. Satunya ruwet, satunya mudah. Persaingan jadi lebih tinggi. Perusahaan dituntut untuk menggencarkan inovasi. Salah satu uniknya, kita tidak tahu lawan kita siapa. Kita tidak pernah bayangkan sedikitpun bahwa Bank akan terancam oleh GoPay / Ovo. Dulu bayar pakai BCA, sekarang fintech. Khusus Gojek, mereka semula transportasi lalu menerbitkan GoPay. Kita tidak akan bisa memprediksi siapa kompetitor bisnis kita. Sekat-sekat industri semakin membaur.

Q: Berarti kedepan ini memang area baru yang susah untuk diprediksi?

A: Ya….betul. Seperti hutan rimba. Pemerintah itu yang berusaha untuk mengatur hutan rimba itu.

Q: Lalu bagimana untuk pelaku usaha?

A: Harus inovasi. Bagaimana kita bisa melayani customer lebih cepat, mudah, dan murah. Kuncinya itu.Akanselalu ada perusahaan startup baru yang lebih cepat, lebih mudah, lebih murah. Semboyannya: inovasi atau mati. Karena konsumen pasti akan memilih apapun yang membuat hidup jadi lebih nyaman.

Nah, itu adalah secuplik wawancara yang kami lakukan dengan Pak Deddy. Kompleksitas era jaman sekarang memang memberi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha, namun akan ada hadiah bagi mereka yang mampu beradaptasi sesuai tantangan tersebut. Oleh karena itu, mari terus berinovasi! (sml)

Update: 14-10-2019 | Dibaca 315 kali | Download versi pdf: Kompleksitas-Tinggi--Pelaku-Ekonomi-Harus-Terus-Berinovasi.pdf