Jaga Kedaulatan Indonesia Melalui Ucapanmu!


  • 21-05-2019

Nasionalisme menjadi topik yang hangat diperbincangkan saat ini. Dengan konsep yang abstrak, nasionalisme sering diukur berdasarkan subjektivitas kita pribadi. Tak jarang, nasionalisme juga menjadi tolok ukur kita dalam menentukan sikap dan benar-salah pilihan kita. Apakah benar seperti itu? Dalam rangka membentuk persepsi Nasionalisme, maka bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional kami mewawancarai Nabbilah Amir, S.H., M.H., selaku Dosen Fakultas Hukum Ubaya dari Laboratorium Administrasi Negara. Simak hasil wawancaranya berikut ini.

Q: Apa pemaknaan Ibu terkait hari Kebangkitan Nasional?

A: Peringatan akan semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme kita dalam mengembangkan Negara kita. Bukan hanya secara Nasional, tapi lebih-lebih lagi dalam kancah Internasional. Ini PR yang cukup besar, apalagi kondisi Negara sedang ada pergesekan. Nah menyatukan pergesekan melalui momen kebangkitan nasional ini adalah sarana Negara kita bisa berkembang dan disegani oleh Negara lain.

Q: Apakah pergesekan ini wajar?

A: Lumrah saja. Jangankan sebuah Negara sebesar Indonesia, suami istri, antar saudara, bahkan teman-teman kuliah saja pasti ada pergesekan. Problemnya seringkali pergesekan dimaknai untuk menjaga jarak. Buat saya dewasa ini Negara kita sudah matang berpolitik, apalagi di tengah situasi yang ada. Walaupun Media Sosial belum bisa dibendung, mari jadikan suatu pelajaran dan pikirkan bersama…sekarang kan 2019 sudah terjadi, gimana caranya nanti 2024 bisa dihadapi dengan baik.

Q: Berarti kebangkitan nasional harus ikut 4.0 juga?

A: Ya pastinya, karena perkembangan jaman tidak bisa kita hindari. Kebangkitan Nasional 4.0 ini kondisi dimana kedaulatan Negara kita dihormati di mata Internasional. Nah kalau di dalam Negara sendiri masih belum memahami kebangkitan nasional tapi kita mau disegani, akan sia-sia. Negara lain tidak akan segan kalau kita di dalam masih saling cakar-cakaran kayak kucing.

Q: Berarti itu salah satu alasan kenapa hari ini harus diperingati bu?

A: Ya. Kalau sekedar nasionalisme, 90 menit mendukung tim Negara kita melalui pertandingan Sepakbola juga sudah nasionalisme. Tetapi hal ini harus dimaknai lebih luas, utamanya terkait dengan kontribusi kita terhadap perkembangan Negara. Apa andil kita? Saya teringat sebuah quotes: “Kalau kita selalu mengejar hak, kapan kita menunaikan kewajiban pada Negara?” Simpelnya bayar pajak, tetapi tidak berhenti sampai situ saja. Contohnya sih, saya dari daerah. Saya bisa ke Surabaya, berkembang disini dengan kondisi saat ini, saya tidak mungkin melupakan daerah saya. Saya juga harus memikirkan asal daerah saya. Ini merupakan wujud semangat saya dalam berkembang memajukan Indonesia dimulai dari pengembangan daerah asal saya. Bagaimana pola pikir kita bisa disumbangkan untuk Negara, ini alasan utama kenapa kebangkitan nasional 20 Mei itu perlu dirayakan dan disemangati, karena hal ini perlu dipupuk untuk generasi penerus bangsa selanjutnya.

Q: Berarti ini salah satu yang bisa dilakukan untuk memeringati hari ini ya bu?

A: Ya. Tapi justru karena itulah saya sedih. Kenapa? Karena banyak sekali cendekiawan di Indonesia, bahkan yang punya pola pikir yang baik dan bisa dijadikan acuan. Hanya saja beberapa kaum intelektual tinggi justru tidak mempersatukan dan memecah belah. Saya hanya berharap, kita para kaum intelektual mari memberi contoh pada masyarakat. Kalau SDM memang harus ditingkatkan, setidaknya ada contoh bagaimana kita bersikap satu sama lain untuk saling menjaga.

Q: Mempersatukan ini juga penting untuk menjaga nama baik Negara ya?

A: Pasti! Jangan sekedar bilang NKRI Harga Mati, tetapi apa tindakanmu dalam menjaga hal itu. Bagaimana bisa menjaga kedaulatan NKRI dan tidak omong doang. Itu sih yang menjadi tolak ukur dalam memberikan pemahaman. Kembalikan ke tradisi yang “Indonesia banget” dan filsafat negara kita.

Q: Tradisi yang “Indonesia banget” itu apa bu?

A: Tradisi yang “Indonesia banget” itu banyak sekali utamanya Pancasila sebagai filsafat Negara. Sayangnya, saat ini tradisi itu mulai berangsur-angsur bergeser. Kelima silanya ini menggambarkan hal yang penting. Misal “Ketuhanan yang maha Esa”, dalam berbagai aspek tidak bisa dipungkiri berlandaskan keTuhanan. Karena itu muncul istilah Indonesia itu Negara ketimuran karena selalu berfokus pada keTuhanan. Kemudian “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, dulu mau ambil barang itu permisi sekarang nggak. Mungkin karena akrab, tapi etikanya tidak seperti itu. “Persatuan Indonesia”, kita sudah tidak bersatu karena dua calon pemimpin kita pecah, dan berbagai contoh lainnya. Demikian pula dalam sila ke 4 dan ke 5.

Q: Berarti tradisi Indonesia sekarang sudah mulai luntur ya bu?

A: Ya. Simpelnya cara kita melihat orang. Kita selalu menghakimi padahal kita nggak pernah tahu latar-belakangnya. Kita penuh judgment terhadap orang. Apalagi ketika kita menghakimi berdasarkan hal-hal yang tidak terlihat atau tidak pernah kita ketahui sebelumnya, dalam pemilu kemarin contohnya. Kita saling menjelekkan satu sama lain.

Hal lain pun pernah saya dengar di suatu radio: “Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal wakil rakyatnya hanya dari baliho.” Bahkan mereka tidak terjun ke lapangan. Jadi pemahaman masyarakat tidak begitu paham tentang sosok yang dipilihnya. Bahkan pemimpin Negara ini tidak semua masyarakat bisa mengenal dengan baik. Mari dipelajari dulu sebelum judgment yang ujung-ujungnya fitnah. Buat saya lebih baik diam. Dipelajari lebih mendalam tanpa perlu membangga-banggakan. Saya pribadi bukan tipe seperti itu. Karena dalam undang-undang hak pilih kita dilindungi. Jadi saya berhadap kedepannya diterapkan hal-hal yang lebih positif.

Q: Iya bu, sekarang masyarakat serba fanatik ya bu?

A: Ya itu, kita terlalu seolah mau menonjolkan bahwa inilah pilihan saya yang terbaik. Pecah deh. Memang betul ada fakta yang benar, tapi pembahasannya dimohon lebih baik dan lebih manis, dan tidak emosional. Karena menurut saya ketika kita menjelekkan Negara, berarti kita tidak beradab dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial tidak dilihat hanya oleh Negara kita, tapi Negara luar juga. “Wah negaranya lagi kacau, yuk kita mainkan.” Ini yang perlu kita ubah. Setidaknya jaga nama baik Negara dan kedaulatan Negara melalui ucapanmu, karena gara-gara ucapanmu kedaulatan negaramu bisa saja terancam oleh negara lain. Itu yang saya jaga baik-baik.

Q: Jadi menjaga omongan adalah salah satu indikator nasionalis ya?

A: Ya. Sederhana kan? Menjaga ucapan / jempol saja karena biasanya ketersinggungan muncul karena ucapan/postingan yang berakibat pada laporan polisi. Saya lebih berharap Negara ini bisa berfokus pada musyawarah dan mufakat. Itu lebih mantap menurut saya. Dibanding gontok-gontokan di pengadilan. Mencuri tiga biji cokelat harus dihukum setahun itu miris sekali, tetapi itu adalah potret kehidupan hukum kita saat ini. Bagaimana kita berhikmat, dan menjalankan sila kelima lebih baik lagi. Jadi jangan bilang pancasila sekedar pancasila, tapi juga harus bisa menerapkan. Tapi kalau mau hal yang lebih besar mah gampang, bisa berkontribusi dengan keilmuan kita masing-masing.

Q: Baik bu. Lalu apa pesan ibu untuk kami semua?

A: Kebangkitan nasional itu dimaknai bagaimana kita tumbuh berkembang dan apa yang kita hadapi, tetapi bukan berarti kebangkitan nasional ini meninggalkan filosofi yang baik di masa lalu. Ambil positifnya, buang negatifnya. Jadi kalau memang filosofinya baik, sesuai tradisi Indonesia, mari dipertahankan. Ini beban mahasiswa sebagai kaum intelektual, memiliki beban berat di kanan kiri, dengan keberagamannya masing-masing, dan memiliki tanggung jawab—bagaimana adik-adiknya bisa lebih baik dibanding mereka. Jangan sampai menjadi orang lain di Negara kita sendiri.

Ya itulah hasil wawancara kami dengan Bu Nabbilah. Semoga melalui artikel ini kita faham esensi kebangkitan nasional paling sederhana: dimulai dari jaga jempol dan jaga omongan. Semuanya agar Negara kita memiliki cerminan yang baik di mata Internasional. Selamat berkarya! (sml)

Update: 21-05-2019 | Dibaca 1296 kali | Download versi pdf: Jaga-Kedaulatan-Indonesia-Melalui-Ucapanmu-.pdf