Ramadhan Dan Idul Fitri Sebagai Sarana Pembinaan Kepekaan Sosial


  • 14-08-2012

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Islam dan diharapkan dapat menjadi berkah bagi umat lainnya. Di bulan Ramadhan umat Islam memiliki kewajiban menjalankan ibadah puasa. Saat berpuasa ini, selain berusaha meningkatkan keimanan kepada Allah SWT yang sifatnya vertikal, juga harus meningkatkan relasi yang baik dengan sesama manusia. Relasi yang baik dengan sesama manusia menunjukkan relasi yang sifatnya horizontal. Relasi yang baik ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepekaan sosial.

Ibadah puasa memiliki tujuan salah satunya ikut merasakan kesusahan yang dialami oleh orang-orang yang tidak mampu. Kalau kita biasanya sehari-hari menanyakan kepada diri kita sendiri dengan ”besok kita makan apa?” biasanya orang yang tidak mampu akan bertanya kepada diri sendiri ”besok apa makan?”. Dua pertanyaan yang menunjukkan kondisi yang berbeda. Saat puasa, janganlah berlebihan untuk berbuka puasa. Maksudnya, memang seharian berpuasa dan janganlah alasan berpuasa ini membuat kita berbuka dengan berlebihan. Biasanya yang tidak ada menjadi diada-adakan untuk berbuka. Kalau ini terjadi maka bukan belajar empati merasakan kondisi orang tidak mampu tetapi malah menjadi konsumtif dan pemborosan. Kalau seperti ini, dan orang miskin mengetahuinya bagaimana perasaan mereka. Mungkin kita yang mampu akan makan dengan nikmat tetapi yang miskin tetap saja seperti biasanya buka seadanya kalau ada yang dipakai berbuka, namun kalau tidak ada yang dibuat berbuka yang tidak makan. Inikah kepekaan sosial yang diajarkan di dalam bulan Ramadhan?. Bukan jawabnya. Kepekaan sosial dapat dilatih dengan tidak berlebihan saat buka dan berbagi dengan yang membutuhkan dengan acara buka bersama atau berbagi makanan untuk berbuka.

Orang yang berpuasa juga dilatih untuk memiliki kepekaan sosial terhadap orang yang tidak berpuasa. Saat orang yang tidak berpuasa akan makan atau minum harus toleransi karena itu kebutuhan hidup. Jangan merasa itu sebagai bentuk ejekan atau kesengajaan. Memang ada yang sengaja, namun jadikanlah itu sebagai bentuk pelatihan diri sehingga ibadah puasa yang dijalankan terlihat perjuangan dan kebermaknaannya.

Saat menjelang Idul Fitri, biasanya setelah menerima Tunjangan Hari Raya, akan berbelanja kebutuhan Idul Fitri misalnya baju baru, makanan yang dapat disajikan ke tamu, dan rencana mudik. Boleh berbelanja untuk membeli baju baru, namun sekali lagi jangan berlebihan karena itu menunjukkan pemborosan dan makin terlihat yang kaya dan miskin. Saat Idul Fitri yang kaya memakai baju baru, yang miskin tetap saja baju seadanya karena untuk makan sehari-hari saja kekurangan. Apa yang seharusnya dilakukan?sekali lagi dengan berbagi kepada yang membutuhkan.

Saat mudik, yang kaya dapat nyaman menggunakan mobil atau transportasi lain secara nyaman. Namun yang tidak mampu akan menggunakan kendaraan seadanya. Untungnya beberapa perusahaan memiliki kepekaan sosial lewat program CSR dengan mudik bareng secara gratis. Hal-hal ini seharusnya dapat dicontoh oleh orang-orang yang mampu. Berbagilah kebahagiaan walau sedikit namun sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah lewat PT. KAI juga telah berusaha memperbaiki layanan kereta api ekonomi sehingga lebih layak untuk digunakan untuk mudik ataupun arus balik.

Mudik, disadari bahwa tradisi ini telah berlangsung turun temurun dan masih berlangsung sampai saat ini. Mudik juga merupakan sarana melatih kepekaan sosial karena semua orang ingin sampai tujuan dengan selamat dan semua orang ingin sampai tujuan dengan cepat. Namun saat mudik, biasanya masih berpuasa namun beberapa orang yang tidak berpuasa karena menempuh perjalanan jauh ataupun karena sebab lain harus tetap menghormati yang berpuasa dengan tidak makan atau minum dengan seenaknya. Saat berpuasa ingin dihormati namun saat tidak berpuasa tidak menghormati orang lain yang berpuasa, tidak boleh seperti ini. Kepekaan sosial di jalur mudik juga harus ditingkatkan agar tidak saling melanggar hak orang lain.

Zakat fitrah. Ternyata banyak umat Islam yang belum sadar untuk membayar zakat fitrah. Zakat fitrah itu merupakan penyuci harta sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadhan yang harus dibayarkan sebelum sholat Idul Fitri. Zakat fitrah menunjukkan adanya hak fakir miskin yang wajib dibayarkan oleh orang-orang yang sudah mampu. Dengan zakat fitrah maka akan mampu membuat warga miskin merasakan kebahagiaan Idul Fitri. Idul Fitri bukan hanya milik orang mampu tetapi milik semua orang tanpa melihat status sosial ekonominya.

Saat Idul Fitri, jalinan silaturahmi harus dikuatkan dengan saling berkunjung untuk saling memaafkan. Momen luar biasa ketika bersama-sama dengan banyak orang untuk meminta maaf dan memaafkan. Momen ini memberikan dorongan atau kekuatan untuk ikhlas karena suasana sosial yang positif dan dapat dirasakan oleh individu. Saat suasana sosial positif maka individu dapat tergerak untuk memiliki suasana afek yang positif sehingga muncul perilaku yang positif. Berkunjung ke orang lain harus dengan tujuan berkunjung untuk saling memaafkan dan bersilaturahmi, jangan saling menonjolkan harta benda sebagai bukti kesuksesan bekerja. Kalau itu yang ditonjolkan maka yang terjadi saling iri, saling berusaha lagi untuk lebih baik di Idul Fitri berikutnya dari segi harta.

Terakhir, kepekaan sosial yang sudah dilatih saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri, harus dipertahankan setelahnya. Itulah ujian sesungguhnya untuk membuktikan tempaan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri apakah berhasil atau tidak. Semoga semua mendapatkan berkah di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Selamat menjalankan ibadah puasa, mudik, dan merayakan Idul Fitri.

Update: 14-08-2012 | Dibaca 5543 kali | Download versi pdf: Ramadhan-Dan-Idul-Fitri-Sebagai-Sarana-Pembinaan-Kepekaan-Sosial.pdf