Belajar Dari Penyintas Bencana Gempa Bumi


  • 05-08-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

 

Indonesia memiliki risk yang tinggi mengalami bencana gempa bumi yang disebabkan hazards yang tinggi. Hazards yang tinggi tidak terlepas dari posisi Indonesia yang dilingkupi tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Pasifik, lempeng Euroasia, dan Lempeng Indo-Australia. Ketiga lempeng tersebut silih berganti aktif dan menyebabkan bencana gempa bumi di wilayah Indonesia. Gempa bumi Nusa Tenggara Barat (Lombok), gempa bumi Palu dan Sulawesi Tengah, gempa bumi di Pandeglang, Banten, dan Lampung adalah beberapa contoh gempa bumi dengan skala besar yang memiliki risiko besar yaitu tsunami, potensi tsunami, kerusakan infrastruktur, korban jiwa, permasalahan ekonomi, sosial, dan psikologi. Gempa bumi tidak dapat diprediksi terjadinya dan tidak dapat dicegah terjadinya namun risiko dari gempa bumi dapat dikurangi dengan peningkatan kapasitas menghadapi bencana gempa bumi. Peningkatan kapasitas menghadapi gempa bumi salah satunya melalui belajar dari pengalaman para penyintas bencana gempa bumi.

Pengalaman merupakan guru terbaik tampaknya masih berlaku dalam pengurangan risiko bencana gempa bumi. Penyintas bencana gempa bumi adalah orang-orang yang berhasil survive dari bencana gempa bumi dan kemudian berusaha untuk bangkit kembali setelah mengalami bencana. Seringkali kita dalam berhadapan dengan para penyintas bencana gempa bumi yang timbul adalah rasa kasihan. Rasa kasihan terhadap para penyintas karena penyintas mengalami bencana gempa bumi sehingga kehilangan rumah, keluarga, harta benda ataupun kondisi negatif lainnya. Terkadang kita melupakan mempelajari sesuatu yang positif dari penyintas yaitu belajar dari para penyintas tentang bagaimana penyintas dapat survive dan kemudian menjalani kehidupan selanjutnya.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari penyintas bencana gempa bumi seperti bagaimana penyintas gempa bumi Daerah Yogyakarta dan sekitarnya yang bisa menyelamatkan diri dari runtuhan bangunan dengan menggunakan wajan, kasur, ataupun benda-benda lain sebagai pelindung kepala saat berada di lingkungan padat penduduk. Kondisi yang serupa kita alamai di area urban atau perkotaan yang padat penduduk, bangunan rapat, dan tanah lapang yang terbatas.

Kita dapat belajar bagaimana penyintas yang terjebak di dalam reruntuhan masih dapat meminta bantuan dengan menggunakan batu dan besi yang dipukul berulang sebagai tanda adanya orang yang tertimbun, masih hidup, dan membutuhkan bantuan seperti yang terjadi di Lombok sesaat setelah gempa.

Kita juga dapat belajar untuk tidak selalu mengandalkan handphone (HP) saat terjadi gempa bumi seperti yang terjadi di Palu dan Sulawesi Tengah karena jaringan putus dan mengalami masalah. Bagaimana penyintas menggunakan surat seperti masa lalu untuk memberi kabar kepada keluarga di area lain di Palu yang mungkin tidak terbayangkan kembali ke pola komunikasi lama sebelum beralih ke tekonologi handphone.

Ketrampilan membangun tenda darurat dari tenda, banner, terpal, ataupun alat lain yang serupa untuk sementara waktu ketika tidak dapat tinggal di dalam rumah paska gempa juga harus kita siapkan apabila sewaktu-waktu mengalami gempa bumi. Kita dapat belajar untuk tidak memberikan bantuan mie instan sebagai bentuk bantuan, kita coba rasakan kesulitan yang dialami penyintas ketika mendapatkan bantuan mie instan karena harus menyiapkan air, alat memasak dan sebagainya yang diperlukan karena bantuan makanan tersebut tidak bisa segera dikonsumsi sedangkan air bersih mengalami kelangkaan saat terjadi gempa bumi. Dengan demikian kita belajar untuk menyiapkan tas darurat yang minimal berisi makanan siap saji seperti makanan kaleng, cokelat, air minum bersih, pakaian ganti, dan uang tunai untuk bisa bertahan beberapa hari.

Belajar jalur evakuasi, penyintas bencana gempa bumi telah mengetahui jalur evakuasi menuju titik kumpul aman terutama apabila terdapat peringatan dini terjadi tsunami. Bisa kita bayangkan bagaimana kepadatan jalan raya di Surabaya apabila terjadi kondisi demikian? Bagaimana kita akan melakukan proses evakuasi? dan ke manakah kita akan melakukan proses evakuasi di Surabaya apabila terjadi bencana?

Mari kita bersiap diri menghadapi bencana gempa bumi dan bencana lainnya dengan belajar dari penyintas bencana gempa bumi mengingat Surabaya juga memiliki potensi gempa bumi.

Update: 05-08-2019 | Dibaca 151 kali | Download versi pdf: Belajar-Dari-Penyintas-Bencana-Gempa-Bumi.pdf