Ramadhan, Anak-anak, Dan Petasan


  • 23-05-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Ramaikan Ramadhan dengan beragam ibadah. Di malam hari yang biasanya sunyi, di bulan Ramadhan tampak berbeda. Masjid tampak ramai dengan ibadah sholat Tarawih dan disertai dengan Tadarus Al Quran yang berlangsung semalaman. Suasana malam terasa semarak dan menyejukkan, dan disambung dengan informasi waktu sahur dari berbagai masjid. Benar-benar suasana yang didambakan semua umat Islam bukti hidupnya malam di bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah. Namun, keindahan tersebut terusik dengan sebuah tradisi yang tidak ada kaitannya dengan ibadah di bulan Ramadhan yaitu maraknya suara petasan terutama di malam hari setelah waktunya berbuka puasa, malam hari, dan setelah waktu sahur. Dua nuansa yang berbeda kemudian terjadi di malam bulan Ramadhan, yaitu suara orang yang beribadah berkombinasi dengan suara petasan yang bersahutan. Dua fenomena berkontradiksi yang satu vitamin bagi rohani dan yang satunya adalah sumber pencemar suara.

Demikianlah fenomena Ramadhan dan tradisi petasan masih belum bisa dihilangkan hingga saat ini. Meskipun pihak berwenang sudah melakukan beragam usaha mengurangi misalnya dengan himbauan, pelarangan, hingga melakukan razia namun hiruk pikuk suara petasan masih terjadi. Coba kita cermati siapakah yang paling sering tampak memainkan petasan selama bulan Ramadhan? Jawabannya adalah anak-anak. Seringkali tampak sekelompok anak berkumpul dan kemudian berlarian disertai dengan suara petasan. Merekalah para penyulut petasan, anak-anak yang setiap waktu dan tempat dapat memainkannya. Mengapa disebut setiap waktu dan tempat? Karena mereka memang demikian, memainkannya di waktu menjelang berbuka puasa, sesaat setelah berbuka puasa hingga semalaman, setelah sahur, dan bahkan di siang hari. Mereka memainkannya di semua tempat, mulai dari tanah lapang hingga jalanan.

Tampak di setiap setelah waktu sholat Subuh dan suasana masih gelap, terdapat beberapa kelompok anak-anak berkeliaran di jalan raya dan memainkan petasan. Cara mereka memainkan petasan seringkali membuat kita berpikir apakah mereka ini anak-anak? Anak-anak tersebut memainkan petasan dengan berbagai cara, sekadar menyulut, namun juga menunggu orang lewat di jalan kemudian sengaja menyulutnya, mereka menyulut petasan dan dilemparkan masuk ke rumah orang, bahkan tidak jarang mereka melemparkan petasan yang sudah menyala ke pengendara atau pemakai jalan. Jadi anak-anak tersebut bukan hanya lagi dapat dikategorikan sebagai bermain petasan, tetapi berniat mencelakai orang lain menggunakan petasan.

Pertanyaan yang muncul kemudian dari mana anak-anak ini bisa membeli petasan karena harga petasan juga tidak dapat dikatakan murah, selain itu anak-anak ini juga belum mandiri secara ekonomi. Pertanyaan yang lebih dalam terkait dengan perilaku mereka, apa yang dilakukan orangtuanya? Di manakah orangtuanya atau tahukah orangtuanya saat anak-anak tersebut tengah malam dan setelah subuh berkeliaran di jalan yang tentunya memiliki risiko? Misalnya tertabrak ataupun ancaman kejahatan lainnya. Tentunya hal ini menimbulkan keprihatinan, anak-anak yang masih membutuhkan peran orangtuanya dalam tahapan perkembangannya nampaknya lebih banyak dihidupi dengan unsur materi.

Anak-anak tidak cukup hanya dihidupi dengan uang, tapi peran orangtua dalam afeksi, komunikasi, dan peran sangat dibutuhkan untuk perkembangan psikologis dan perilaku yang sehat dan adaptif. Mari bersama-sama mengusahakan mengubah Ramadhan, anak-anak, dan petasan, menjadi Ramadhan, anak-anak, dan beribadah. Mari kita siapkan anak-anak yang dapat mendoakan orangtuanya ketika waktunya tiba.

Update: 23-05-2019 | Dibaca 321 kali | Download versi pdf: Ramadhan--Anak-anak--Dan-Petasan.pdf