MENCAPAI KESEJAHTERAAN PSIKOLOGI MELALUI KEMBALI KE ALAM


  • 26-04-2019

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Kota memang menawarkan berbagai suguhan modern yang memikat. Berbagai fasilitas yang membuat hidup manusia lebih mudah. Berbagai sarana hiburan yang membuat hidup terasa lebih menyenangkan. Berbagai kemajuan teknologi yang membuat manusia dapat mengakses segala sesuatunya dari tempat dudua saja. Sekilas memang terasa membahagiakan untuk hidup di kota. Namun sisi lain, kehidupan perkotaan tentu saja dilengkapi dengan hiruk pikuk persaingan yang membuat manusia harus berjalan lebih cepat bahkan berlari untuk bisa menikmati suguhan yang ditawarkan. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap suguhan tersebut, jika manusia mau bertahan di kota. Berbagai modernisasi ini membuat manusia berlomba untuk mencari sesuatu yang ada di luar dirinya demi kebahagiaan yang terasa semu dan sesaat. Benar adanya, mengingat bukannya kebahagiaan sesungguhnya berasal dari dalam diri? Tetapi persaingan tentu membuat manusia kurang memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenung. Mengeksplorasi kekayaan di dalam diri yang menjadi aset potensial untuk mencapai kebahagiaan.

Kesempatan ‘diam dan merenung’ ini tampaknya akan lebih terfasilitasi ketika manusia tidak lagi dihadapkan pada kompetisi yang menuntutnya untuk terus berlari, sehingga kurang cermat dalam melihat segala sesuatu yang mereka miliki. Alam di pedesaan menawarkan kesempatan ‘diam dan merenung’ tersebut. Kehidupan yang lebih mengalir tanpa terlalu banyak diwarnai oleh modernisasi membuat manusia menjadi jauh dari hiruk pikuk persaingan. Manusia dapat lebih melambatkan jalannya, sehingga memiliki kesempatan untuk melihat lebih jelas mengenai hal-hal yang ada di sekitar mereka. Nuansa pedesaan yang relatif masih kental dengan alam juga dapat mengantarkan ketenangan serta keheningan yang mendukung manusia dalam melakukan perenungan tersebut. Manusia dapat lebih berkonsentrasi dalam berkomunikasi dengan dirinya sendiri, sehingga mereka dapat mengungkap lebih banyak mengenai potensi dalam dirinya. Kondisi ini pula yang nampaknya menjadi salah satu alasan mengapa orang-orang memilih suasana pedesaan untuk mendirikan tempat-tempat meditasi. Dampak dari adanya meditasi untuk mengali potensi ini membuat manusia pun menjadi lebih mengenal diri mereka yang kemudian membantu menciptakan gambaran diri utuh yang manusia dapat tampilkan.

Selain menyediakan ketenangan dan keheningan untuk berkomunikasi dengan diri, alam di pedesaan juga dapat menjadi media belajar bagi manusia untuk mengembangkan diri. Ada beragam hal yang dapat ditarik menjadi pembelajaran di alam terbuka, seperti contohnya filosofi bambu yang selalu mengajarkan manusia untuk senantiasa bertumbuh ke dalam sehingga ketika diterpa angin kencang manusia dapat tetap selalu mantap. Pembelajaran ini tentunya bukan seperti pembelajaran konvensional di sekolah, dimana ‘sang guru’ berperan aktif dalam memberikan teori dan murid secara pasif menyerap dan mencernanya. Namun, pembelajaran ini dapat diikuti ketika para murid sendiri yang berperan aktif untuk melakukan observasi dan juga refleksi dari kondisi-kondisi yang alam tampilkan. Dengan metode pengajaran seperti ini tentu nilai-nilai yang berusaha alam ajarkan dapat lebih mengena dan tertanam kuat dalam diri manusia yang mencoba mempelajarinya. Melalui pembelajaran di alam ini, manusia pun dapat terbantu untuk membangun nilai-nilai diri yang berdampak pada pembentukan konsep pribadi yang masing-masing individu miliki. Hanya saja, kondisi ini tentu akan sulit dijumpai di daerah perkotaan dimana wilayah untuk alam sendiri sudah ikut terdesak dengan serangan modernisasi.

Mari di tengah hiruk pikuk kota dengan segala fasilitas hidup yang selama ini membuai dalam keseharian kita, sesekali ajak diri kita melakukan aktivitas bersentuhan dengan alam untuk kesejahteraan psikologis.

Update: 26-04-2019 | Dibaca 168 kali | Download versi pdf: MENCAPAI-KESEJAHTERAAN-PSIKOLOGI--MELALUI-KEMBALI-KE-ALAM.pdf