Belajar Psikoterapi Jawa


  • 07-08-2018

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

 

Pada dasarnya manusia dalam hidup mengalami kesedihan dan kegembiraan. Dua kondisi yang selalu ada dalam kehidupan manusia dan bergantian terjadinya. Tidak pernah ada kesedihan yang terus menerus dialami manusia dan tidak ada kegembiraan yang terus menerus dialami manusia. Saat mengalami kesedihan manusia harus menyadari bahwa kesedihan tersebut tidak akan dialami selamanya. Sebaliknya saat mengalami kegembiraan manusia juga harus menyadari bahwa kegembiraan tersebut tidak akan dialami selamanya. Hakikat manusia dalam kehidupannya semua akan mengalami kegembiraan dan kesedihan secara bergantian (kodrat alam raos sami & langgeng). Itulah salah satu prinsip ajaran kawruh begja (pengetahuan yang memberi rasa bahagia)Ki Ageng Suryomentaram.

Ajaran Ki Ageng Suryomentaram tentang kawruh begja dapat diterapkan dalam psikoterapi salah satunya dalam self healing. Permasalahan yang dialami manusia dasarnya adalah keinginan yang tidak tercapai. Ki Ageng Suryomentaram membagi manusia menjadi tiga tipe berdasarkan orientasi keinginannya yaitu tipe tipe semat, kramat, dan drajat. Tipe semat adalah manusia yang memiliki orientasi hidup pada uang, harta, benda kekayaan. Tipe kramat menggambarkan manusia dengan orientasi keinginan memiliki kekuasaan atau power. Tipe drajat lebih menggambarkan manusia dengan orientasi keinginan memiliki status sosial ataupun gengsi. Tipe manusia drajat mengutamakan jabatan, gelar, ataupun lain-lain yang menggambarkan status sosial. Keinginan-keinginan manusia yang tidak tercapai menyebabkan rasa sedih, kecewa, marah, dan rasa-rasa negatif lainnya (raos getun) ataupun kekhawatiran (raos sumelang).

Manusia harus menyadari bahwa tidak semua keinginan (karep) itu dapat terwujud sehingga apabila keinginanya setelah diusahakan tidak terwujud harus dapat mengurangi keinginannya tersebut sehingga keinginannya berkurang atau tidak ada lagi (mungkret). Manusia juga harus menyadari bahwa keinginannya yang tercapai tidak selamanya akan memberikan kesenangan yang abadi karena akan muncul keinginan yang lain (mulur). Itulah dinamika mulur mungkret keinginan manusia. Ketika keinginan manusia tidak tercapai setelah diusahakan dan secara nyata keinginan tersebut tidak dapat tercapai tetapi manusia terus memiliki keinginan yang sama besarnya maka rasa kecewa, marah, sedih terus akan muncul dan menjadi sumber masalah karena keinginannya yang terhambat/tidak tercapai.

Mengacu pada psikoterapi Jawa, untuk menyelesaikan permasalahan yang disebabkan keinginan yang tidak tercapai harus melalui proses introspektif (kandha takon) untuk mengidentifikasi sebab-sebab permasalahan dan menyelesaikan permasalahan (ngudari reribet). Melalui proses introspektif (kandha takon) dengan berdialog dengan diri sendiri tentang keinginan, kebutuhan, dan kenyataan didasari dengan kesadaran kodrat alam raos samidan kodrat alam raos langgengserta mulur mungkretmaka akan menyadari permasalahan, sebab, pikiran dan perasaannya. Proses kandha takon ini akan membuat kesenjangan antara keinginan dan kenyataan (raos kosok wangsul) menjadi luluh. Dengan demikian maka akan membantu untuk berdamai dengan permasalahannya dan bisa menerima secara sadar keadaan yang dialami sepenuh hati (saiki, kene, ngene yo ngene) ataupun menemukan solusi. Psikoterapi Jawa memfasilitasi pribadi yang selalu mawas diri, sehat, tabah, tentram, dan bahagia.

Update: 07-08-2018 | Dibaca 153 kali | Download versi pdf: Belajar-Psikoterapi-Jawa.pdf