Mental Budgeting Tunjangan Hari Raya Untuk Mencegah Krisis Keuangan Paska Idul Fitri


  • 04-06-2018

ilustrasi diambil dari: phinemo.com

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Menjelang Idul Fitri dicirikan dengan ramainya pusat-pusat perbelanjaan yang menandakan tingginya animo masyarakat dalam berbelanja. Meningkatnya animo masyarakat ini didasarkan pada tradisi yang telah diturunkan lintas generasi yaitu adanya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan khas Idul Fitri. Kebutuhan-kebutuhan khas yang identik dengan Idul Fitri adalah pakaian, pernak-pernik penunjang pakaian, makanan atau kue-kue, dan perlengkapan beribadah. Adanya kebutuhan terhadap barang-barang tersebut menambah daftar pemenuhan kebutuhan rutin setiap bulan sehingga membutuhkan dana atau anggaran tambahan. Mengacu pada kondisi tersebut diadakanlah bonus bagi pekerja khusus untuk merayakan Idul Fitri yang disebut dengan Tunjangan Hari Raya. Besarnya nilai Tunjangan Hari Raya tergantung pada berbagai kondisi pekerja dan tempat kerjanya. Tunjangan Hari Raya merupakan sebuah berkah yang patut disyukuri karena dengan adanya Tunjangan Hari Raya dapat menunjang keuangan dalam memenuhi kebutuhan yang meningkat.

Banyak kasus menunjukkan bahwa Tunjangan Hari Raya yang diterima kemudian tidak sesuai dengan pemanfaatannya. Artinya pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan penerimaan Tunjangan Hari Raya dengan demikian terjadi kekurangan anggaran belanja. Hal ini disebabkan kurangnya pengelolaan Tunjangan Hari Raya. Tunjangan Hari Raya harus dapat dikelola secara tepat sehingga memberikan manfaat. Pengelolaan Tunjangan Hari Raya membutuhkan kemampuan mental budgeting yaitu kemampuan kognitif untuk mengelola, mengevaluasi, dan mengontrol aktivitas keuangan. Prinsip dasar mental budgeting adalah adanya perencanaan anggaran keuangan dan penggunaannya sehingga tidak terjadi over budgeting. Over budgeting harus dihindari karena berdampak negatif misalnya dengan memenuhi kebutuhan yang sudah melebihi anggaran Tunjangan Hari Raya menyebabkan adanya subsidi dari anggaran keuangan lain misalnya dari anggaran pemenuhan kebutuhan bulanan. Subsidi dari anggaran keuangan pemenuhan kebutuhan bulanan dapat menyebabkan terganggunya pemenuhan kebutuhan bulanan ataupun keseimbangan neraca keuangan bulanan. Hal ini menjadi ciri perilaku konsumen yang boros.

Mengapa seringkali Tunjangan Hari Raya yang diperoleh kemudian secara cepat habis bahkan kurang untuk membeli kebutuhan hari raya? Banyak faktor yang menyebabkannya, terutama adanya faktor psikologis yaitu adanya perasaan senang. Saat individu menerima Tunjangan Hari Raya tentunya bersama-sama dengan gaji bulan terakhirnya sehingga di saat itu individu merasa bahwa mendapatkan penghasilan dua kali atau lebih banyak dibandingkan bulan-bulan biasanya. Dengan adanya pendapatan yang lebih besar dari biasanya maka individu merasa memiliki sumber dana yang banyak dan memang demikian adanya bila dibandingkan bulan sebelumnya. Tetapi seringkali individu tidak menyadari bahwa kemudian dengan kondisi tersebut menciptakan kebutuhan yang lebih banyak daripada yang seharusnya. Kebutuhan yang seharusnya dipenuhi menjelang Idul Fitri antara lain pakaian, makanan, perlengkapan ibadah dan seharusnya disesuaikan dengan jumlah nominal Tunjangan Hari Rayanya dan setelah cukup ternyata masih ditambahkan dengan kebutuhan-kebutuhan lain misalnya aksesoris, perhiasan, handphone, ataupun kendaraan baru untuk perjalanan mudik. Individu pasti sadar bahwa Tunjangan Hari Rayanya cukup namun kemudian memaksakan untuk memenuhinya karena merasa masih memiliki gaji yang belum terpakai. Namun lupa bahwa kebutuhan bulanan seperti kebutuhan pokok, pembayaran rekening air, listrik, dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi dan semuanya dipikirkan nanti setelah hari raya. Salah satu tren yang meningkat terakhir ini adalah selain berkunjung ke sanak saudara dan teman-teman selama hari raya adalah rekreasi ke tempat-tempat wisata yang tentunya juga menambah beban keuangan. Rekreasi selama hari raya biasanya dilakukan bersama keluarga besar, sehingga tranportasi, biaya masuk tempat wisata, dan konsumsi selama berwisata juga membutuhkan biaya.

Cukupkah kita mengandalkan perkiraan sekiranya uang Tunjangan Hari Raya yang diterima cukup untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut? Tidak, mulailah dengan mental budgeting Tunjangan Hari Raya sehingga tidak mengalami krisis keuangan paska hari raya. Mulailah membuat anggaran penerimaan dan pengeluaran yang sesuai dengan nilai nominal Tunjangan Hari Raya dan kebutuhannya. Jangan dibuat neraca keuangan balance alias jumlah penerimaan dan pengeluaran sama persis sehingga tidak ada sisa. Buatlah anggaran pengeluaran tidak sebanyak jumlah penerimaan Tunjangan Hari Raya sehingga masih ada dana cadangan. Dengan adanya mental budgeting kita dapat membeli kebutuhan secara tepat sesuai kemampuan keuangan, selalu mengevaluasi ketika terjadi perbedaan harga beli dengan anggaran sehingga dapat melakukan penyesuaian pembelian kebutuhan dan mengontrol perilaku kita untuk tidak melakukan pembelian impulsif (pembelian tidak terencana). Sebisa mungkin dengan adanya Tunjangan Hari Raya kita masih dapat menyisihkannya untuk tabungan ataupun untuk kebutuhan tidak terduga misalnya untuk anggaran pendidikan ataupun anggaran kesehatan.

Semoga kita dapat melakukan mental budgeting yang tepat terhadap Tunjangan Hari Raya kita sehingga dapat bersuka cita merayakan Hari Raya Idul Fitri dan tercegah dari krisis keuangan paska merayakannya. Kehidupan dan kebutuhan masih terus ada setelahnya dan keuangan kita kembali seperti bulan-bulan sebelumnya.

Update: 04-06-2018 | Dibaca 422 kali | Download versi pdf: Mental-Budgeting-Tunjangan-Hari-Raya-Untuk-Mencegah-Krisis-Keuangan-Paska-Idul-Fitri.pdf