Pesan Peringatan Ancaman Terorisme


  • 11-05-2018

Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Beberapa pekan terakhir masyarakat Indonesia mengalami dua kondisi yang membuat tidak nyaman secara psikologis dalam menjalani kehidupan berbangsa. Pertama suhu politik yang meningkat di tingkat elit dan kemudian merembet ke akar rumput sehingga berpotensi terjadi pergesekan di antara rakyat sendiri. Kedua penurunan nilai mata uang Rupiah terhadap mata uang Dollar, secara ekonomi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang selama ini diupayakan stabil agar kehidupan rakyat dapat sejahtera. Perbincangan, analisis, dan pembahasan hampir setiap hari seputar kedua topik tersebut terutama topik memanasnya suhu politik yang diprediksi terus berlangsung hingga tahun 2019 dan pesan yang terus didengungkan adalah suasana di masyarakat tetap kondusif, berpikir bijak, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Namun sebuah peristiwa besar terjadi di pekan ini ketika napi teroris melakukan aksi negatif di tahanan Mako Brimob. Peristiwa tragis yang menewaskan 5 petugas dari kepolisian Republik Indonesia saat bertugas membuat kita semua terhenyak. Kita yang selama ini terbuai dengan hal-hal yang berbau politik dan ekonomi seakan diingatkan akan adanya ancaman laten terorisme yang masih mengintai. Perilaku terorisme masih tampak dari tragedi di Mako Brimob. Terorisme masih ada di Indonesia dari para pelaku terorisme yang telah tertangkap ataupun yang masih menjadi ancaman laten.

Terorisme merupakan ancaman bagi kehidupan yang damai dengan dalih apapun. Aksi yang tidak dapat dibenarkan secara moral karena dalam upaya mencapai tujuannya melakukan segala hal. Dasar terorisme adalah mencapai kekuasaan di satu pihak dengan merusak tatanan yang sudah ada. Dengan demikian aksi terorisme dapat dikategorikan sebagai gerakan homo homini lupus. Manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain, yang kuat akan menghancurkan yang lemah.

Salah satu musuh utama bangsa Indonesia saat ini adalah terorisme, dibutuhkan kesatuan yang kuat bangsa Indonesia dalam menghadapi terorisme. Bangsa Indonesia tidak boleh terpecah-pecah karena perbedaan pilihan politik. Sejarah bangsa Indonesia sudah banyak menunjukkan bahwa beberapa kali bangsa Indonesia terpecah belah karena perbedaan politik. Bahkan saat masa penjajahan Belanda, dengan strategi pecah belahnya dapat membuat Bangsa Indonesia lemah.

Terorisme memberikan ancaman yang dapat membuat kita merasa takut sesuai dengan istilahnya. Hal tersebut membuat para pelaku menang secara psikologis, karena tujuannya adalah memberikan teror terutama rakyat sipil dan pemerintah. Rakyat sipil dapat merasa terancam keselamatannya, menjadi tidak percaya pemerintah dapat menjamin keamanannya. Mari kita selalu waspada akan ancaman terorisme, perkuat persatuan dan kesatuan bangsa, jangan terpecah belah karena perbedaan-perbedaan yang ada. Jangan selalu waspada terhadap terorisme ketika telah terjadi sebuah aksi terorisme. Semoga Tuhan selalu memberikan berkah keselamatan, kesejahteraan, kesatuan, dan perdamaian bagi Bangsa Indonesia.

Update: 11-05-2018 | Dibaca 825 kali | Download versi pdf: Pesan-Peringatan-Ancaman-Terorisme.pdf