Media Dan Konsumerisme Ramadhan


  • 16-06-2016

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Bulan Ramadhan merupakan waktu untuk penggemblengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Secara psikologi bulan Ramadhan merupakan momen peningkatan religiusitas bagi umat Islam. Di bulan Ramadhan lingkungan atau situasi sangat mendukung upaya peningkatan religiusitas. Masjid sangat ramai dengan kegiatan ibadah terutama sholat berjamaah serta tadarus, orang-orang sebagian besar berpuasa, media massa baik media cetak dan televisi acaranya juga berubah drastis dari bulan-bulan biasa karena didominasi acara bertema puasa Ramadhan. Dengan demikian sangat membantu umat Islam untuk menjalankan ibadah dan kebajikan-kebajikan lainnya di bulan Ramadhan. Berbuat baik terasa lebih ringan.

Itulah nuansa yang tertangkap saat bulan Ramadhan. Nuansa lain yang nampak di bulan Ramadhan adalah peningkatan konsumerisme. Harga bahan makanan naik disebabkan adanya peningkatan permintaan konsumen. Pembelian peralatan ibadah seperti sajadah, mukena, dan hijab meningkat. Di akhir bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri pembelian pakaian makin menigkat. Transaksi perhiasan juga tidak mau kalah mengalami peningkatan. Pembelian kendaraan bermotor untuk mudik juga sudah mulai terasa peningkatannya. Itu semua menunjukkan adanya peningkatan perilaku konsumerisme selama bulan Ramadhan.

Umat Islam tidak lagi fokus pada ibadah Ramadhan tetapi juga fokus pada konsumerismenya. Tentunya hal ini bertolak belakang dengan esensi dari bulan Ramadhan. Esensi bulan Ramadhan adalah berpuasa dan menjalankan ibadah-ibadah wajib dan tambahan yang ada di bulan Ramadhan. Puasa adalah berpuas dengan apa yang ada, mencoba merasakan kondisi orang-orang yang tidak mampu. Namun menjadi sebaliknya, bukan berpuas dengan yang ada tetapi mencoba meningkatkan kepuasan dari yang sudah ada.

Peralatan ibadah yang ada selama ini masih bisa digunakan tetapi membeli yang baru. Sudah memiliki pakaian yang layak pakai tetapi membeli pakaian baru untuk Idul Fitri. Demikian juga makanan untuk berbuka puasa, malah tidak seperti makanan yang biasanya disantap sehari-hari. Adzan Maghrib sudah identik dengan makanan dan minuman nikmat yang dapat dikonsumsi. Mengapa demikian? Tentunya hal ini disebabkan dua hal yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah dari dalam diri individu sendiri yang belum memahami makna puasa Ramadhan sehingga hanya sekadar merubah pola makan pagi menjadi sahur dan siang menjadi berbuka. Waktu sahur dan berbuka tidak berpuas diri dengan mengkonsumsi yang ada atau yang biasa ada tetapi dipuaskan dengan mengada-adakan dan berlebihan.

Faktor eksternal adalah adanya peran media sebagai penyebab peningkatan perilaku konsumerisme. Media merupakan fasilitator persuasi yang efektif untuk perilaku melalui frekuensi yang terus menerus memberikan informasi melalui iklan dengan tema konsumerisme. Sebagai contoh beberapa kata kunci yang ditampilkan adalah waktunya berbuka lebih nikmat dengan minum produk tertentu. Ibadah lebih khusyuk dengan menggunakan sarung atau mukena tertentu. Mudik asyik waktunya menggunakan kendaraan tipe tertentu. Selain frekuensi iklan-iklan bertema konsumerisme juga dibintangi tokoh-tokoh atau public figure. Tidak mengherankan tercipta pikiran individu yang mendasari perilaku konsumerisme selama bulan Ramadhan. Mari berpuas diri dengan yang ada sembari merasakan kondisi saudara-saudara kita yang berkekurangan sebagai sarana peningkatan religiusitas sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Update: 16-06-2016 | Dibaca 1944 kali | Download versi pdf: Media-Dan-Konsumerisme-Ramadhan.pdf