Catatan Basic Human Values Dari Merapi Sebagai Persiapan Menghadapi Bencana


  • 05-05-2014

Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010 saat erupsi Gunung Merapi, penulis berkenalan dengan beberapa koordinator relawan dari beberapa dusun atau desa di lereng Merapi. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepeduliaan dan dipercaya warga dusun untuk menjadi koordinator dalam fase heroicbencana erupsi Merapi. Pasca erupsi Merapi, mereka tetap menjadi motor penggerak kebangkitan warga Merapi dalam beberapa bidang misalnya kewirausahaan, peternakan, pendidikan, dan pemberdayaan lansia. Penulis kagum dengan orang-orang ini, di tengah kehidupannya yang sederhana ternyata mampu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Berdasarkan hasil analisis psikologis yang penulis lakukan saat berinteraksi dengan mereka selama erupsi dan pasca erupsi, tampak nilai dasar insani (basic human values) kebajikan (benevolence) sangat menonjol dalam diri mereka.

Namun, terdapat satu orang yang penulis sempat meragukan tentang nilai dasar insani kebajikan yang dimiliki. Karena pada fase rekonstruksi pasca bencana, menurut peneliti nampak perubahan perilaku yang cukup menonjol. Koordinator relawan ini menjadi lebih giat bekerja, mencari sumbangan ataupun bantuan dalam bentuk material dibandingkan bantuan psikologis yang saat itu juga dibutuhkan pengungsi Merapi di sebuah shelter. Padahal koordinator relawan tersebut bagi penulis sangat dekat dibandingkan dengan beberapa koordinator relawan yang lain. Semua program yang penulis lakukan di shelter tersebut juga penulis koordinasikan dengan yang bersangkutan termasuk bantuan logistik yang penulis sampaikan. Pada saat pengungsi mendapatkan jatah rumah dan berpindah ke hunian tetap, yang bersangkutan juga mendiami hunian tetap tersebut. Setiap penulis melakukan program penanganan psikologis, penulis tidak lagi dapat menemui karena selalu tidak pernah ada di rumah. Keterangan yang penulis dapatkan adalah yang bersangkutan bekerja di luar hunian tetap dan tidak menentu bekerjanya.

Tiga bulan yang lalu, penulis kembali berkunjung ke hunian tetap, dan mendapati sebuah mobil station wagonberada di depan rumahnya. Untuk ukuran di hunian tetap, adanya mobil telah menunjukkan perbedaan secara fisik yang menonjol bagi wargannya. Menurut keterangan warga, mobil tersebut adalah mobil koordinator relawan tersebut yang baru dibeli sekitar empat bulanan. Pikiran penulis makin teman penulis tersebut makin sejahtera secara ekonomi bahkan paling menonjol apabila dibandingkan penduduk yang lain karena teman penulis tersebut satu-satunya orang yang memiliki mobil di hunian tetap. Penulis juga berpikir apakah nilai dasar insani nya sudah berganti ke arah hedonisme. Kemudian penulis kontak teman penulis tersebut dengan bertanya sekarang bekerja di mana dan mengucapkan selamat karena ekonominya sudah makin meningkat. Teman penulis menjawab dengan memberikan tambahan bahwa sekarang selain memiliki mobil station wagonia juga memiliki mobil pick up.

Tanggal 1 Mei 2014, saat beberapa rekan penulis di Yogyakarta mengabarkan bahwa Merapi kembali aktif, penulis mendapatkan pesan singkat dari koordinator relawan tadi. Pesan singkat tadi berbunyi seperti berikut, “Mas Lis kapan badhe dateng Cangkringan kangge mbiyantu warga umpami Merapi erupsi?” Sakniki warga saged ngungsi kangge mobil kulo, ingkang station wagon saged kangge tiang sakit menopo lansia, mobil pick up saged kangge tiang dusun”(Mas Lis, kapan ke Cangkringan untuk membantu warga apabila Merapi meletus? Sekarang warga dapat mengungsi menggungakan mobil saya, station wagon dapat digunakan mengungsi orang sakit atau lansia, dan mobil pickup untuk orang desa). “Wonten gunanipun karya kulo tigang taun kangge tumbas mobil, pinuju mbiyantu warga ngungsi umpami Merapi erupsi”(Ada gunanya saya bekerja keras selama tiga tahun untuk membeli mobil, tujuannya untuk membantu warga mengungsi apabila Merapi erupsi).

Melalui percakapan penulis dan koordinator relawan desa tadi, ternyata tujuan utama membeli mobil untuk membantu warga mengungsi apabila Gunung Merapi kembali meletus. Pengalaman pada erupsi Merapi tahun 2010, banyak warga harus mengungsi dengan berjalan kaki karena tidak ada transportasi yang memadai pada situasi tanggap darurat terutama lansia, anak-anak dan orang sakit. Teman penulis tadi bertekad dengan kerja kerasnya mampu membantu memenuhi kebutuhan transportasi meskipun tidak akan mampu mengangkut semua warga saat mengungsi. Teman penulis tadi juga telah mengajarkan beberapa orang untuk mengemudikan mobil sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan terdapat tenaga yang dapat mengendarai mobil. Dengan demikian, ia juga telah mengenalkan jalur evakuasi kepada orang lain sehingga tidak salah jalur saat mengungsi karena saat ini jalur evakuasi banyak yang mengalami kerusakan sehingga dapat menghambat arus pengungsian. Ternyata masih ada orang yang tetap memegang teguh nilai dasar insani benevolencesebagai persiapan menghadapi bencana. Semoga catatan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Update: 05-05-2014 | Dibaca 2184 kali | Download versi pdf: Catatan-Basic-Human-Values-Dari-Merapi-Sebagai-Persiapan-Menghadapi-Bencana.pdf