BELAJAR DARI GENERASI KE GENERASI


  • 31-10-2013

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas

 

Masih ingat dengan iklan salah satu provider telepon genggam besar di Indonesia yang mengangkat tema tentang generasi? Iklan bertemakan lebaran beberapa tahun yang lalu ini kurang lebih bercerita tentang seorang pengemis yang karena suatu kejadian menjadi berteman dengan sopir truck yang biasa dia mintai uang, pada hari lebaran pergi ke rumah sopir truck tersebut untuh bersilahturahmi. Pada hari kedatangannya, pengemis tersebut turut serta membawa teman-temannya yang berasal dari kalangan artis. Karena kaget sang sopir truck bertanya “Kawanmu artis semua?” kemudian si pengemis menjawab “keluargaku kan kaya 7 turunan.” Bagian selanjutnya inilah yang membuat iklan ini lucu sekaligus menggelitik untuk saya. Ketika sopir truck kembali bertanya “Kog kamu ngemis?” sang pengemis menjawab dengan wajah sedih “Aku turunan ke-8.”

Hari ini saya mendengar seorang mahasiswa saya bercerita tentang sharing personalnya dengan seorang seniornya yang juga bergerak di bidang pendidikan. Inti dari pembicaraan mereka adalah mengenai perilaku mahasiswa yang semakin tahun semakin kurang dalam bersosialisasi. Hal ini sering kali memunculkan gap atau groupingyang didasarkan kecocokan atau bahkan faktor untung-rugi. Semakin buruknya perilaku dari generasi ke generasi inilah yang menjadi fokus bahasan mahasiswa saya. Bukan hanya dari segi perilaku, namun juga dari segi perekonomian dan sifat generasi-generasi muda belakangan ini.

Dari cerita tersebut, mahasiswa saya juga sempat mengatakan mengenai kalimat yang muncul entah darimana namun intinya adalah “Generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan.” Mendengar kalimat tersebut, saya jadi berpikir jauh. Ada benarnya apa yang sedang mereka bicarakan ini. Di bidang pendidikan yang saya geluti ini pun semakin nampak perubahan perilaku tersebut. Contohkan saja ketika guru memarahi muridnya, berapa banyak dari murid itu yang akan menundukkan kepalanya dan menyesali perbuatannya? Yang banyak terjadi saat Ini adalah banyak dari mereka yang dengan angkuh menegakkan kepala, membalas perkataan guru dengan berani bahkan terkadang kurang sopan, kemudian berakhir dengan orang tua yang datang ke sekolah dan marah-marah karena membela anaknya.

Perilaku orangtua tersebut, memang ada benarnya. Mana ada orangtua yang baik tidak berusaha melindungi anaknya? Namun perilaku tersebut agak keterlaluan menurut saya. Bayangkan apa yang terjadi pada anak tersebut di masa depan bila hal itu terus terjadi? Sampai kapan orang tua akan dapat melindungi anaknya dengan cara seperti itu? Bagaimana bila kelak anak tersebut bekerja kemudian dimarahi oleh bosnya? Apakah sebagai orangtua anda akan datang ke kantor dan memarahi bosnya? Lalu apakah yang terjadi setelah itu? Jika anda berpikir masalahnya akan beres, anda mungkin ada benarnya. Masalah tersebut akan beres dengan anak anda akan dikeluarkan dengan tidak hormat oleh pihak kantor. Beres bukan? Anak anda tidak perlu lagi berurusan dengan bosnya. Benarkah itu yang terbaik?

Dari pertanyaan-pertanyaan ini saya belajar. Dari generasi keberapapun saya berasal, saya ingin generasi saya adalah orang yang lebih baik dari saya sekarang. Begitu pula dengan saya saat ini, saya ingin menjadi generasi yang lebih baik dari orangtua saya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Update: 31-10-2013 | Dibaca 2398 kali | Download versi pdf: BELAJAR-DARI-GENERASI-KE-GENERASI.pdf