Marhaban Yaa Ramadhan : Regulasi Diri Keseimbangan Antara Produktivitas Kerja Dan Religius


  • 09-07-2013

Listyo Yuwanto

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

Marhaban yaa Ramadhan, bulan suci Ramadhan 1434 menemui umat Islam. Menjadi kegembiraan dan syukur luar biasa bagi kaum Muslimin dapat ditemukan kembali dengan bulan seribu berkah keutamaan ibadahnya. Bulan Ramadhan menjadi pendorong untuk memudahkan melakukan berbagai macam ibadah yang selama bulan-bulan selain Ramadhan terkadang berat untuk dilaksanakan.

Di bulan Ramadhan, Allah SWT memerintahkan umat Islam yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa. Di bulan Ramadhan juga diperintahkan untuk meningkatkan berbagai macam ibadah. Luar biasa keutamaan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas religius.

Namun, di awal-awal bulan Ramadhan, biasanya terjadi perubahan perilaku umat Islam. Yaitu menjadi sangat produktif di aktivitas religius, namun menjadi kurang produktif di area kerja. Seringkali kita menemui bahwa beberapa orang menjadi malas untuk bekerja, setelah sholat Jumat kemudian tidur di masjid, pulang kerja lebih awal meskipun sudah diberi jadwal pulang lebih awal selama bulan Ramadhan dan semuanya alasan karena sedang berpuasa. Bekerja jika diniatkan sebagai ibadah maka akan memberikan pahala ibadah. Berpuasa bukan berarti ibadah kerja dalam bentuk produktivitas kerja harus dikurangi atau malas bekerja. Kita boleh mengurangi kegiatan-kegiatan fisik yang dapat berpotensi membatalkan puasa kita namun jangan sampai hal-hal yang seharusnya dilakukan untuk kualitas kerja harus dikurangi.

Perlu adanya regulasi diri dalam menyeimbangkan antara produktivitas kerja dan religius selama bulan Ramadhan. Langkah-langkahnya adalah observasi diri, membuat standar performance, monitoring, dan memberikan evaluasi. Diri kita adalah orang yang paling mengenal diri kita. Sehingga langkah pertama regulasi diri adalah melakukan observasi terhadap diri kita. Selama ini bagaimana kemampuan kerja kita, pola kerja, waktu kerja produktif, hambatan, dan pola ibadah kita. Hal ini penting untuk menjadi dasar dalam menentukan performance standards.

Langkah berikutnya adalah membuat performance standardsselama bulan Ramadhan. Performance standardsini meliputi kegiatan kerja dan kegiatan ibadah. Prinsipnya adalah jangan sampai selama bulan Ramadhan kerja menjadi tidak produktif, namun ibadah harus meningkat kuantitas dan kuallitasnya dibandingkan dengan bulan-bulan sebelum bulan Ramadhan. Kita dapat menetapkan target berapa lama kita harus produktif, kapan kita harus istirahat, menurunkan kecepatan kerja, dan mencapai target tertentu. Kita juga harus mentarget ibadah kita harus seperti apa, ibadah apa saja yang harus kita lakukan baik itu ibadah wajib atau sunnah, beserta kewajiban-kewajiban ibadah yang selama ini tidak ada di bulan Ramadhan seperti membayar zakat fitrah harus kita target kapan harus kita bayarkan.

Monitoring diperlukan untuk bahan evaluasi apakah perilaku kita sudah sesuai dengan performance standardsatau belum. Apabila sudah tercapai apakah kita akan meningkatkan performance standards, apakah akan mempertahankan yang sudah tercapai. Namun apabila belum kita dapat melakukan evaluasi kenapa belum tercapai, faktor apa saja penghambatnya, atau apabila memungkinkan harus melakukan perubahan performance standards. Perubahan performance standardsdiharapkan tidak merubah keseimbangan produktivitas kinerja dan religius selama bulan Ramadhan.

Evaluasi dapat juga disertai dengan adanya reward yang sifatnya internal, yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Kepuasan ketika semua target menyeimbangkan antara produktivitas kerja dan religius selama bulan Ramadhan sudah termasuk reward. Besarnya pahala karena pekerjaan kita dan aktivitas ibadah kita selama Ramadhan menjadi rahasia Allah SWT. Semoga dengan regulasi diri kita mampu menyeimbangkan produktivitas kerja dan religius selama bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa.