SIDOARJO – Puluhan pengusaha menunjukkan komitmen mereka untuk membangun Sidoarjo. Agar tidak terus berlarut-larut dalam cekaman situasi sulit karena semburan lumpur, mereka sepakat bergabung dalam Forum Kemitraan Daerah Sidoarjo Membangun.

Peluncuran forum tersebut dilakukan pada Selasa malam (20/12) di The Sun Hotel. Acara itu dihadiri 54 pengusaha dari berbagai bidang. Salah satunya, bos
Maspion Group Alim Markus yang juga ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur (Jatim). Hadir pula Direktur Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, Bupati Saiful Ilah dan Wabup Hadi Sutjipto, serta beberapa pejabat Pemkab Sidoarjo dan Ubaya.

Kabag Kerja Sama Pemkab Sidoarjo Saiful Aji mengatakan, forum tersebut diadakan sebagai wadah komunikasi antara pemkab dan kalangan pengusaha.

Tujuannya, merumuskan konsep dasar solusi atas masalah di Sidoarjo. Forum tersebut direncanakan berlangsung secara rutin. Setiap pertemuan mengulas materi
sesuai dengan keinginan para pengusaha. "Khususnya, isu yang terjadi di sekitar Sidoarjo," katanya. Karena itu, pemkab mengundang partisipasi aktif dari pengusaha dalam forum tersebut.

Alim Markus mengatakan, jika pemerintah berniat membangun, bupati harus probisnis. Sebab, dengan begitu, lapangan pekerjaan akan terbuka. "Kalau tidak pro
bisnis, tidak ada projob," ungkapnya. Dia mencontohkan lingkungan sekitar PT. Maspion di Gedangan. Menurut dia, lingkungan di Desa Bangah dan Sawotratap
sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan lima atau sepuluh tahun lalu. Jalan beraspal, lampu terang, dan sebagainya.

Itu timbul karena di sana ada Maspion. Karyawan perusahaan tersebut, jika tinggal, menyewa rumah warga sekitar. Ketika makan, mereka mencari di warung terdekat. Bahkan, PT Maspion membuat semacam los yang dimanfaatkan warga setempat untuk berjualan makanan. Dia meminta Sidoarjo tidak terlalu larut dalam masalah lumpur. Sebab, wilayah yang terendam lumpur hanya sebagian kecil. Masih banyak wilayah yang dikembangkan. "Jangan sampai mengganggu yang lain," tuturnya.

Kresnayana Yahya mengusulkan pemkab fokus membangun SMK sehingga siswa saat lulus memiliki keterampilan. "Di SMK tidak perlu lagi diajari terlalu banyak
teori. Sebab, kebutuhan tenaga kerja bisa mencapai 20–25 persen per tahun," ucapnya. (eko/c8/roz)

Dikutip dari: Jawa Pos, 22 Desember 2011