Suka Sesama Jenis Tidak Selalu Abnormal

JARINGAN Sugito dipandang Psikolog asal Ubaya Adrian Pramadi terbentuk karena motif ekonomi. Sama halnya perempuan yang memilih menjadi pelacur atau
pekerja seks ko mersial (PSK). "Kalau tidak ada kewajiban memberikan uang dalam hubungan yang mereka lakukan, maka bisa disebut homoseksual," ujarnya

Dalam pandangan Adrian, gigolo terkesan lebih elit daripada pelacur atau PSK bagi perempuan. Itu disebabkan gigolo memang kerap tersembunyi dan terselubung.
Makanya, tidak ada lokalisasi untuk para gigolo. "Ketika gigolo itu terekspose ya sudah tidak menjadi elit lagi," ujarnya.

Terkait gigolo yang khusus melayani penyuka sesama jenis, menurut Adrian itu tidak lepas dari adanya konsumen yang memiliki orientasi seksual seperti itu. Sama halnya dengan bentuk pelayanan PSK pada pria atau wanita, gigolo yang melayani lelaki juga berdasarkan kepentingan uang. Hanya saja, yang berbeda adalah melayani lelaki.

Dia berujar, dalam melayani lelaki seorang gigolo bisa saja berperan sebagai si perempuan atau si laki-laki. Tergantung pada si pemesannya. "Fenomena
gigolo itu memang tersembunyi. Kasuistik," ujarnya.

Sedangkan dalam hal orientasi seksual itu, sambung Adrian, merupakan pilihan tersendiri dari orang tersebut. Dia mencontohkan salah satu penyebab orientasi seksual sesama lelaki yang pernah dia tangani. Yakni, berupa rasa nyaman dan sensasi enak ketika dirangsang oleh lelaki. "Pada awalnya klien saya dirangsang
oleh pamannya. Entah karena takut atau apa, akhirnya dia diam saja. Ketika sudah dewasa memilih untuk menjadi homo," ujarnya.

Namun, orientasi seksual yang suka sesama jenis tersebut bisa juga berasal dari faktor gen. Faktor lain yang mempengaruhi adalah lingkungan. ”Karena faktor gen itu, dalam keilmuan psikologi tak bisa dikatakan lagi seorang yang suka sesama jenis abnormal," tuturnya. Meski di masyarakat fenomena penyuka sesama jenis memang dipandang hal yang abnormal. (jun/ang)

Sumber : Jawa Pos 23-09-2011